Menu Close

Pending Dulu

2Shares

Oleh: Dharma Wiguna

Mundur ke belakang kira-kira saat Idul Fitri 7 tahun lalu, ketika telepon genggam yang populer dan menguasai pasar saat itu adalah Blackberry. Maka ketika Lebaran pasti anda akrab dengan banyaknya  BBM atau SMS masuk, ataupun broadcast yang awal kalimatnya mengucapkan “seputih kapas, sebening embun, sejernih air, dan secerah mentari.. bla bla bla.. sekeluarga mengucapkan mohon maaf lahir dan batin.”

Kalimat tersebut memang sangat happening saat itu, dan kalau anda mengcopy paste pesan tersebut lalu diedit sedikit di bagian belakang, yaitu cuma diganti atas nama pengucapnya, lalu anda kirimkan ke orang lain sebagai ucapan Lebaran,  berarti perilaku kita sama. Toss dulu.. Yess!

Waktu itu saya yang sebelum memasuki bulan puasa blangkrakan ke Pasar Shopping Jogja (terkenal dengan pasar buku bekas) menemukan buku Markesot Bertutur Lagi, yang merupakan sequel lanjutan dari Markesot Bertutur. Karena sudah punya Markesot Bertutur di rumah, alhasil saya beli buku tersebut dengan harga yang sangat ramah di kantong.

Pada bagian pertama di Markesot Bertutur Lagi tersebut, menceritakan Markesot yang menutup pintu-pintu dan jendela kontrakannya sejak sehari sebelum Idul Fitri, dan tidak keluar sama sekali sampai hari kedua Syawal.

Kalau saya simak kalimat-kalimat percakapan Markesot yang ditanyai tetangganya yang gumun dengan perilakunya ngendon di rumah selama 2 hari tersebut, ada beberapa kunci yang saya rangkum:

  1. Hidup ini sendiri, meskipun secara fisik berkumpul bersama teman-teman dan keluarga, tetap masing-masing mempunyai “kesibukan hati” sendiri.
  2. Hidup ini sendiri. Hanya berdua dengan Allah. Tapi ketika sudah mencapai tauhid, tak lagi berdua. Karena tauhid artinya penyatuan, hasil dari penyatuan adalah satu.
  3. Idul Fitri, lahir kembali, mencoba memfitrikan diri, mencoba menjadi wajar lembali, menjadi alamiah kembali. Mewajarkan diri, mewajarkan keinginan, mewajarkan kebutuhan, sikap hidup dan apa saja.
  4. ….

Eh, sebentar.. Kok malah jadi catatan rangkuman begini sih? Padahal saya mau cerita yang lain, untuk lebih detilnya dan supaya tidak mengurangi kenikmatan buku tersebut, silahkan dibaca sendiri buku Markesot Bertutur Lagi.

Singkat cerita setelah sebulan membabat habis buku tersebut sambil mengisi waktu luang di bulan puasa, terpikir untuk meniru laku Markesot yang mendekam di rumah pada hari Idul Fitri. Saya tinggal di sebuah komplek perumahan di pinggiran kota ini bersama kakak saya, yang pada tahun itu kakak saya mudik ke rumah mertuanya, jadi sebelum lebaran 3 hari saya ditinggal sendirian di rumah tersebut, dan kebetulan  saudara-saudara saya yang di rantau baru akan mudik ke kampung halaman orang tua pada hari kedua Syawal, maka saya memutuskan untuk mudik ke rumah orang tua juga pada hari ke dua Syawal.

Satu Syawal telah tiba, tentu saja saya tidak sanggup meniru secara ekstrim laku Markesot yang sudah ndekem sejak H-1, maka saya modif sedikit lakunya yaitu dimulai sejak selesai Sholat Id dan  selesai keliling silaturahmi ke tetangga-tetangga kiri kanan, dan alhamdulillahnya setiap silaturahmi ke tetangga selalu disuguhi Lontong Opor. Yes, Lontong Opor is cool! Mengingat saya sendiri tidak ada stock makanan, apalagi masak, paling cuma masak mie instan.

Sampai rumah dengan perut kenyang, saya tutup semua pintu dan jendela, ndekem di kamar sambil balas BBM dan broadcast masuk yang ngucapin selamat Idul Fitri, lebih tepatnya mengirim kembali hasil copy paste ucapan-ucapan yang sudah template tadi. Dan begitu selesai semua, matiin hp, dan… tidur.

Jam satu siang bangun, setelah sholat Dhuhur sambil menunggu Ashar, dengan bergaya posisi duduk bersila sok-sokan nggaya seperti seorang yogis, mengatur keluar masuk nafas pelan-pelan secara teratur, memasuki labirin-labirin hati dan pikiran, merenungi kesendirian ini mendalami makna Idul Fitri, mencoba mewajarkan diri kembali, mewajarkan keinginan dan kebutuhan.

Tentu siang itu masih semangat menahan diri untuk tidak keluar rumah dan menyalakan BB (Blackberry) meskipun godaan terbesar saat itu adalah nyetatus di BBM maupun di Facebook. Pada tahun itu BB dan Facebook sangat booming. Apalagi untuk jiwa muda yang masih haus akan eksistensi untuk di-Like dan Comment atau sebaliknya nge-Like dan Ngomment statusnya orang, jiwa muda yang masih menggelora saat itu benar-benar serasa dipenjara, sangat berat memang laku Fitri ala Markesot itu, makanya kamu jangan melakukan biar Dilan saja.

Akhirnya senja telah pergi, dan malam pun tiba. Bakda Isya’ sambil selonjoran kaki, duduk nglaras di kursi ruang tamu, sambil membayangkan dan mensimulasikan kira-kira apa yang dilakukan Markesot saat itu waktu sendirian. Setelah melewati berjam-jam sendirian sejak siang tadi, serangan perasaan jenuh dan ndolo mulai memuncak malam itu.

“Markesot kok bisa betah amat ya, bakdan di rumah sendirian tanpa melakukan apa-apa begini, aku rasane koyo wong ndolo.” Mulailah pikiran-pikiran pelemahan mulai beroperasi di alam bawah sadar.

Godaan untuk membuka BB (Blackberry) ini tetap tak berhenti, bahkan semakin membuncah dan siap meledakkan syaraf-syaraf di kepala. Maka masuklah saya ke kamar menuju BB yang biasanya saya letakkan di meja yang mana di atas meja itu terdapat cermin.

Ketika di depan cermin, sambil menatap bayangan diriku di dalam cermin tersebut, terjadilah  obrolan:

Aku: “Aku kepingin nyalain BB”

Aku Yang Lain: “Jangan, kamu lagi dalam proses seperti yang dilakukan Markesot”

Aku: “Iya sih, tapi rasanya bosan dan ndolo.“

Aku Yang Lain: “Setiap proses selalu berat dan musuh terbesar adalah rasa bosan”

Aku: “Maka itu, supaya tidak bosan tak nyalain BB”

Aku Yang Lain: “Jangan to, nanti tetap tergoda untuk menulis status, asyik masyuk dalam eksistensi, dan lupa diri pada lakumu tadi”

Aku: “Enggak lah, cuma baca-baca doang BBM yang masuk”

Aku Yang Lain: “Lebih baik jangan”

Aku: “Tapi, ini aku sudah pegang BB-nya” (sambil menyeringai senyum mengejek)

Aku Yang Lain: “Ealah… Sak karepmu” (kemudian menghilang)

Aku Yang Lain menghilang dari pandangan dan tinggal saya sendirian di depan cermin sambil menekan tombol power, eh anu.. dari tadi saya sendirian ding, tadi obrolan imajinasi ala teater.

Lima menit kemudian, Blackberry loadingnya lumayan lama, apalagi infrastruktur koneksi internet yang belum sekencang sekarang, agak lama memang baru berbunyi clang cling berkali-kali tanda pesan-pesan masuk ke inbox, rupanya BB yang dimatikan sejak pagi tadi sudah banyak yang ngantri seperti orang antri di loket kereta Pramex di akhir pekan.

Masih tetap dalam kesadaran kontrol diri ketika membuka BBM, dan berjanji pada diri sendiri hanya buka sebentar, baca sekilas setelah itu dimatiin lagi. Setelah nama pengirim dicek satu-satu, belum sampai membaca isi pesan,  mendadak jantung ini berdegup lebih kencang dari biasanya  ketika menatap sebuah nama yang ada di barisan pengirim.

Nama pengirim tersebut Mawar, iya, sebut saja namanya Mawar, wanita asal kota sini yang kuliah di ibukota. Dan sudah satu semester tidak bertemu.  Wanita yang membuat lagu Kangen-nya Dewa 19 dan Layang Kangen-nya Didi Kempot menjadi lagu kebangsaan kita berdua.. halah. Kalau saat itu seandainya lagu LDR-nya Raisa sudah ada, pasti sudah masuk play list kita berdua.

Dengan menata hati, atur nafas pelan-pelan, saya pencet pesan dengan nama Mawar tersebut. Pesan pertama dari Mawar tersebut seperti orang-orang kebanyakan, ucapan lebaran. Lalu chat yang kedua sebelum barisan chat-chat selanjutnya yang belum dibaca:

“Mas, kamu dimana? Aku sudah di rumah ini” Dilihat jam nya rupanya sudah sejak dari jam 3 sore, setelah itu tulisan:

PING! PING! PING! sampai puluhan kali.

Setelah itu chat berikutnya isi hampir sama seperti tadi, jam 19.30, atau kira-kira 5 menit sebelum BB dinyalakan:

“Mas, kamu dimana? Aku di rumah ini. Ayo keluar, bosan nih di rumah terus dari kemarin”

Lanjut dengan puluhan PING! yang berbaris sampai memenuhi chat room, persis seperti pelurunya tentara Zionis Israel yang mebombardir rakyat sipil Palestina.

Tanpa banyak babibu, langsung saya balas chat Mawar.

“Ayo, tak jemput dalam 10 menit”

Dalam hati saya berkata dan meminta maaf kepada Markesot yang jauh di dalam hayal sana,

“Ampun Cak Sot, kalau urusan kangen begini, mohon maaf lakunya tak pending kapan-kapan dulu ya, mohon maaf lahir dan batin…”

#EdisiLebaran

Tulisan terkait