Menu Close

Pakdhe : Ompak sing Gedhe

6Shares

Setiap kali kita bertemu orang, atau hadir di suatu forum, majelis ilmu, rapat pertemuan, kumpul komunitas, dan yang sejenisnya, ada baiknya kita datang membawa ‘gelas kosong’. Mlompong nggak ada isinya. Dengan begitu, kita akan siap menampung ‘cairan’ apa saja yang masuk mengisi wadah gelas yang kita bawa.

Sebelumnya mohon maaf. Tidak pantas bagi saya untuk mengaku diri sebagai pegiat simpul Suluk Surakartan. Lha wong datang ke acara saja jarang. Internalisasi nggak pernah ikut. Apalagi bikin reportase. Itu hil yang mustahal (kata Asmuni). Paling yang bisa saya lakukan sekadar komen di grup WA. Sesekali nimbrung bales chat guyonan kang PwT dan Gus Yus. Beliau berdua adalah ikon-nya komedi Suluk Surakartan. Saya hampir selalu dibuat kepingkel-pingkel dengan postingan gambar juga istilah nyeleneh yang dicuitkan oleh kang Prawoto. Terkuyo-kuyo, misalnya. Kata ini sudah langka dan jarang terdengar di jagat literasi dan komunikasi masyarakat kita sekarang. Dan kalau dimat-matké, wajahé kangmas PwT itu memang agak nyeleneh sih. Jadinya match. (Haha, piss mas).

Lalu ada Gus Yus yang kerap mengutarakan kalimat dan tulisan-tulisan tingkat tinggi. Sehingga membuat kita yang mbaca sejenak mengernyitkan dahi. Iki maksudé opo yo. Sehingga memaksa kita untuk berfikir ekstra agar mampu mencernanya. Tapi sialnya, di ujung pembahasan Gus Yus dengan gaya khasnya malah melontarkan kata-kata yang terkadang absurd, tidak biasa, di luar dugaan, melompat-lompat, anti-mainstream dan di situlah mungkin letak ‘kesufian’ seorang Gus Yus Bin Ali Mohtar. Berani ngawur tapi benar, bagi Gus Yus. Bagi yang lain belum tentu. Cen sampeyan kuwi ngguatheli. Dadi kepengin misuhi. A…..Ah nggak jadi.

Melalui grup WA SS itu pula, saya dan teman-teman kerap mendapatkan kucuran nasihat, wejangan, pitutur, petuah bijak dari pak Asad dan juga pakdhe Herman. Oh ya, untuk nama yang terakhir kami haturkan sugeng ambal warsa pakdhe kaping sewidak telu. Rahayu.

**

Saat menghadiri Maiyahan SS beberapa waktu lalu, saya mendapatkan satu perspektif baru. ‘Gelas kosong’ yang saya bawa terisi referensi yang belum saya peroleh sebelumnya. Yakni tentang arti sebutan “pakdhe”. Menurut pakdhe Herman, pakdhe bisa diartikan sebagai Ompak sing gedhe. Ompak yang besar. Ompak adalah alas cagak, tiang penyangga rumah. Banyak terdapat pada rumah-rumah Jawa kuno (klasik). Berbahan dasar batu yang dibentuk persegi empat atau bisa juga seperti bulatan. Batu ompak mesti dipilih yang berukuran cukup besar, kuat, pengkoh, tidak mudah hancur dan berumur lama. Ompak berfungsi untuk menguatkan sekaligus menegakkan cagak-cagak (tiang penyangga rumah). Agar rumah dapat ngadeg jejeg, tidak goyah, tidak doyong, roboh dan ambruk.

Teman-teman, sekarang coba perhatikan. Perhatikan keseluruhan pada diri pakde Herman. Lihat, mimik wajahnya sangar. Perawakannya tinggi, besar, dedeg, gagah dan kekar. Dalam dunia pewayangan mirip Werkudara. Beliau tipikal lelaki pemberani, tangguh, tidak pengecut, dan ‘wani gelut’. Sejarah ketangguhannya tidak diragukan lagi. Ngeriii. Namun di sisi lain, beliau adalah pribadi yang humanis dan humoris. Sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh. Mampu ngemong, mengasuh, dan menampung jiwa-jiwa muda seperti kami.

Di simpul Suluk Surakartan, pakde Herman adalah orang tua yang dijadikan rujukan. Sumber referensi jagat ilmu kejawen. Dari beliau kita dapat belajar betapa indahnya kearifan lokal. Betapa tingginya sastra, seni budaya Jawa. Dan begitu menakjubkan-nya nilai-nilai khasanah peradaban Nusantara.

Adanya pakdhe Herman turut membantu kita untuk mawas diri. Eling sangkan paran ing dumadi. Bahwa sejauh manapun kita menuntut ilmu, setinggi apapun kita mengecap pendidikan, juga sementereng apapun gelar, titel, predikat yang kita dapat, tetap kita mesti kembali ke asal muasal. Tidak lupa tanah kelahiran. Tidak terjebak, tidak hanyut dan larut arus global. Meminjam istilah Mbah Nun: Jowo di gowo, Arab di garap, Barat di ruwat. Dimana kita menjadi manusia Jawa, menjadi orang Surakarta adalah takdir. Takdir yang mesti diterima, disyukuri, diemban sebaik-baiknya.

Teman-teman, apa yang terdapat pada pakdhe Herman, seolah menegaskan bahwa beliau-lah yang paling pantas untuk disebut pakdhe. Pakdhe yang berarti ompak sing gedhe. Yang kokoh mengalasi, yang kuat melandasi ‘pilar-pilar’ muda yang berusaha menegakkan bangunan rumah Maiyah Suluk Surakartan.

Karena saya tidak bisa nembang, maka saya berpantun saja.

Pergi ke Solo naik delman

Pulang-pulang membawa buah

Sugeng ambal warsa Pakdhe Herman

Mugi pinaringan gesang kang barokah

 

Gemolong, 5 Juli 2018

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait