Menu Close

Batas Tak Berbatas

25Shares

Menyusuri punggungan Rinjani dengan berbagai kalut dan pengertian akan berbagai keadaan. Membawa sang jalma menuju perubahan-perubahan. Angin muson timur mulai bergejolak, sesaat kemudian dingin terasa di beberapa pijak yang biasanya biasa saja, bahkan mungkin panas.

Manusia jalma ikonik dengan segala pencapaiannya, namun berkali-kali harus menabrak tembok tinggi keadaan, dipuncak usahanya ada batas dari dimensi-dimensi perjuangan mahkluk.

Sang Guru ngendikan:
“Puncak pengetahuan adalah pengetahuan tentang batas.” namun siapa yang tahu betul akan batas? Atau justru kita dilemahkan oleh kata yang berujung batas?.

KBBI menyebutnya sebagai “pemisah” lebih lanjut dijelaskan “perhinggaan suatu bidang”.

Dalam beberapa hal batas seringkali hanya dimaknai sebagai pemisahan, pengelompokan manusia-manusia berdasarkan tingkat pemahamannya akan sesuatu, ada benarnya memang. Namun ironinya pengertian akan batas justru dijadikan senjata bagi kelompok atau seseorang untuk membatasi subjek lain agar jangan sampai masuk ke level-nya.

Sistem-sistem seperti ini masih bisa kita temukan di berbagai perusahaan kita. Ada ribuan karyawan yang mungkin benar tak punya pikiran apapun, sederhana, kerja dapat uang. Tapi liat dan amati ada individu-individu yang brilian, mungkin mampu jadi mandor atau bahkan manager, tapi mereka takkan pernah diberikan kesempatan meraihnya, ya karena ada pemisahan strata disitu, ada jurang pelanggengan kekuasaan strata atas untuk tidak disingkirkan orang-orang yang memulai stratanya dari bawah. Hal-hal seperti ini bisa terjadi di komunitas, partai, lembaga pemerintahan atau sesederhana paguyuban-paguyuban.

Belajar dari sabda sang Guru, saya sendiri menerjemahkannya sebagai termin ke dua dari KBBI, Batas adalah perhinggaan.

Sampai sejauh mana sebuah subjek berusaha mendobrak cakrawala geraknya, melawan takdir-takdir masa lalunya, menghancurkan kebodohan-kebodohan di jaring pekatnya. Sehingga sampai usaha maksimal pasti kita temukan batas, namun sedetik kemudian batas itu akan berubah berbanding lurus dengan informasi, relasi dan kenaikan/turunnya level spiritualitas seseorang.

Sebagai contoh ketika tulisan ini ditulis saya sedang tiduran di bawah terpal, di Lombok utara bersama ratusan relawan lainnya. Memandang sebuah bencana dari pengamatan psikososial adalah sebuah kerumitan tersendiri.

Melihat bagaimana masyarakat terserak oleh keadaan yang diluar jangkau batasnya, namun lihat betapa sempurnanya manusia melawan batasnya.

Dalam kondisi yang sama sangat variatif realitas yang mampu saya temukan ada yg menyerah karena nasib, duduk-duduk di luar rumah, syok, stress, memandangi rumahnya atau merenung kehilangan keluarganya. Namun di pedalaman justru ada yang bergegas, mulai memunguti sisa-sisa kayu yang kira-kira kelak bisa untuk menambal rumahnya lagi, menjual apa yang bisa dijual sembari tak menghilangkan budaya sosialnya sebagai manusia untuk mengatasi keadaan bersama-sama.

Kopi Lombok yang tersaji padaku, yang disangrai dan ditumbuk di dapur yang koyak itu rasanya lebih sedap dari biasanya.

Saya menemukan makna lebih dari pengetahuan akan batas, kenekatan melawan batas akan mengantarkan manusia menuju titik lebih tinggi, menuju peradaban lebih mulia dari sebelumnya, namun juga banyak yang mundur, jiwanya tak siap menghadapi segala sesuatu, pemujaan material mengikis segala keiklasan bahwa memang segala yang didunia ini hanyalah kefanaan.

Ah, akhir realitas batas adalah sesuatu yang harus terus menerus diperjuangkan, seperti memandang cakrawala sambil berdiri berbeda dengan ketika duduk demikianlah ragamnya.

Lalu disebuah radio tua ada lagu Iwan Fals terputar, lagu beliau yang tidak terkenal penggalan liriknya begini :

“Walau samar cakrawala adalah kenyataan, teramat jauh untuk ditempuh, tapi itulah batas dari kehendak manusia yang tak berbatas”

Mari menempuhnya secara hebat dan luar biasa menuju Cakrawala di situlah akan ada pertemuan romantis jalma dan Tuhannya, dalam sebuah kelakar ringan mungkin Gusti akan berkata dalam angan saya “wes percoyo wae, Jare Gusti Allahe aku?

Mari bergegas, melawan batas!

Rana Saloka, Lombok Utara

15 Agustus 2018

Indra Agusta

Tulisan terkait