Menu Close

Memaknai Kurban Versi Kira-Kira (Jadi Jangan Tanya: Mana Dalilnya?)

0Shares

Sebelum tulisan ngomyang ini menyoal panjang x lebar x tinggi tentang kurban, ingin saya sampaikan permohonan maaf kepada pihak yang tidak sependapat dengan isi tulisan ini, lantaran saya tahu bahwa ada dua pendapat yang sama kuat tentang siapakah yang hampir disembelih oleh Abraham/Ibrahim, apakah putranya yang bernama Ismail ataukah Ishak? Permohonan maaf ini tidak berhubungan dengan Islam, Nasrani atau Yahudi, karena perbedaan ini juga terjadi dalam tafsir di kalangan sesama mufasir muslim sendiri. Jadi memang begitu adanya, ada yang mengatakan bahwa yang hampir disembelih oleh Ibrahim adalah Ismail, ada pula yang berpendapat Ishak. Namun demikian, itu sama sekali bukan pokok dari tulisan ngemeng saya kali ini. Pokoknya jika ada yang tak berkenan saya minta maaf. Dah gitu aja, yes! Oke, kita lanjutkan.

Secara bahasa kurban/korban berasal dari kata qarubayaqrabuqurban wa qurbanan yang secara harfiah memiliki makna dekat, maksudnya upaya yang dilakukan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya. Upaya pendekatan diri pada Tuhan ini sudah dilaksanakan semenjak generasi awal diutusnya manusia sebagai khalifah di muka Bumi, yaitu yang dicatat dalam sejarah sebagai kisah kurbannya dua putra Adam. Kala itu kurban dilakukan dengan memberikan persembahan berupa hasil pencaharian, sebagaimana yang dilakukan Qabil dengan mempersembahkan hasil pertanian dan Habil mempersembahkan hasil peternakan. Singkat cerita dalam kisah tersebut kita ketahui bahwa kurban Habil yang diterima lantaran ia bersungguh-sungguh dalam mempersembahkan hasil ternaknya. Ia pilihkan ternaknya yang paling gemuk dan berkualitas, sementara, Qabil hanya mempersembahkan buah-buahan yang ter-sortir. Dari kisah itulah istilah korban disandarkan, yaitu menanggalkan kesenangan pribadi untuk dipersembahkan kepada yang dicintai. Jadi dalam istilah aslinya, berkorban untuk kekasih merupakan sebuah keniscayaan yang tidak mungkin dipertanyakan lagi keikhlasannya. Begitulah kira-kira yang saya dapat dari cerita ustadz saya sewaktu di bangku TPQ dulu. Mudah-mudahan saya tidak keliru. Hehe..

Kita sering mendengar istilah cinta butuh pengorbanan, cita-cita harus diraih dengan pengorbanan, dan lain sebagainya. Benar saja, tanpa pengorbanan cita dan cinta hanyalah sebuah bualan dan angan-angan belaka. Seorang ayah yang cinta kepada anaknya sudah pasti ia akan mengorbankan banyak hal demi anaknya. Seorang pelajar punya cita-cita ingin jadi dokter, tentu ia akan banyak mengorbankan waktu bersenang-senangnya untuk giat belajar, membaca, dan menghapal. Begitu juga cinta seorang hamba kepada Allah, tentu harus dibuktikan dengan pengorbanan. Dalam hal ini, pada momen Idul Adha ini mari kita gali keteladanan luar biasa tentang pengorbanan yang dilakukan oleh kekasih Allah, Ibrahim dan Ismail.

Ibrahim AS. telah menghabiskan waktunya untuk berdakwah, menyerukan ajaran Allah kepada umatnya selama berpuluh-puluh tahun. Dia sangat patuh pada perintah Allah sehingga mendapat gelar Khalilullah (orang terkasih Allah). Namun demikian, di usianya yang sudah uzur itu (antara 80-86 tahun) Allah tidak memberikannya seorang anak pun. Siang malam Ibrahim berharap, bermunajat agar Allah berkenan memberikannya seorang keturunan, hingga akhirnya diberilah ia putra dari istrinya yang kedua, Hajar. Anak itu diberi nama Ismail (dalam bahasa Ibrani berarti sesuatu yang sangat dirindu dan dinanti-nantikan). Betapa bahagianya Ibrahim atas karunia tersebut.

Kelahiran Ismail ternyata tidak lantas membuat kegembiraan bagi semua orang di sekitar Ibrahim. Justru karena kelahiran itu, Sarah, istri pertama Ibrahim menjadi sangat cemburu dan meminta agar Hajar dan Ismail dijauhkan dari hadapannya. Akhirnya Ibrahim mengajak Hajar dan putranya pergi menjauh hingga sampailah di sebuah lembah yang tandus dan tidak berpenduduk bernama Bakkah. Hajar dan Ismail diberhentikan di sana, lalu atas perintah Allah, Ibrahim harus kembali malanjutkan dakwahnya. Terguncanglah hati kekasih Allah itu. Anak yang dinantikan kelahirannya kini harus ditinggalkan di tempat yang gersang, tiada mata air, tiada pemukiman. Dengan gontai ia berjalan. Perasaan bersalah dan kalut menyelimuti hatinya hingga ia tak berani menatap wajah istrinya sekadar untuk berpamitan. Hajar pun mengejar, “Suamiku, hendak kemana engkau? Apakah aku akan ditinggalkan di tempat seperti ini?” tanya Hajar dengan suara bergetar. Ibrahim tetap tak berani menoleh, bahkan sekecap kata pun tak terucap. Lalu Hajar bertanya lagi, “Apakah ini perintah Allah?” lanjutnya dengan nada yang lebih gemetar. Mendengar pertanyaan itu Ibrahim menjadi berani menoleh kepada istrinya, “Iya, tentu saja aku berjalan karena perintah Allah. Aku tak mungkin meninggalkan anak dan istriku yang sangat kucintai kecuali hanya jika Allah memerintahkanku.” Mendengar jawaban itu Hajar menjadi yakin, “Baiklah, karena itu perintah Allah, maka aku percaya bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan kami di sini.”

Lembah Bakkah tidak berpenduduk karena di sana tidak ada sumber air, sehingga para pedagang yang melintasinya tidak pernah tertarik untuk mendirikan tenda untuk bermukim di tempat itu. Begitulah gambaran tempat di mana Hajar dan Ismail ditinggalkan. Keyakinan Hajar akan pertolongan Allah di tempat itu bukan tanpa ujian. Saat persediaan minum yang ia bawa habis mulailah ia kebingungan mencari-cari air. Asi yang diperlukan Ismail tidak terproduksi lantaran Hajar sendiri tidak menyerap cairan. Saat Ismail menangis karena air susu Hajar tak lagi mengalir, Hajar berlarian dari ujung bukit ke ujung bukit yang lain, yaitu bukit Safa dan Marwa. Ia berlari dengan perasaan tidak karuan mondar-mandir, hingga pada akhirnya keluarlah sumber air tepat di ujung kaki Ismail. Hajar langsung menghampiri air tersebut sambil berkata, “Zam-zam! Zam-zam!” (berkumpullah-berkumpullah).

Mata air yang ditemukan Hajar dan Ismail tidak berhenti mengalir dan menjadi sumber yang sangat dibutuhkan di tempat itu. Hingga saat beberapa orang pedagang yang melintas melihat keberadaan air tersebut mereka meminta kepada Hajar untuk mengisi kantong-kantong perbekalan air minum mereka dengan menukarnya berupa makanan dan peralatan bermukim seperti tenda dan lain sebagainya. Lama kelamaan keberadaan sumber air di lembah Bakkah menjadi alasan banyak orang untuk bermukim di sana dan seiring berjalannya waktu dalam tempo yang relatif singkat lembah tersebut berubah menjadi perkampungan yang cukup ramai.

Beberapa tahun berlalu, Ismail sudah tumbuh menjadi anak yang tamyiz atau istilah kerennya wis nJawa yaitu mulai mengenal dan bisa membedakan mana baik dan buruk. Allah perintahkan kepada Ibrahim untuk mendatangi putranya. Saat sampai di puncak bukit ia melihat ke arah lembah di mana dulu ia meninggalkan anak istrinya di sana. Betapa kagetnya, ternyata lembah yang dulu tak berpenghuni itu kini menjadi perkampungan. Hati Ibrahim sungguh gembira. Ia yakin bahwa putranya membawa keberkahan hingga di mana pun tanah yang ia pijak akan dijadikan Allah daerah yang makmur. Ibrahim bertemu putranya, melepas rindu, meramu bahagia. Sungguh puji syukur kepada Allah tak henti-hentinya diucapkan, putra yang ditinggalkan selama belasan tahun telah tumbuh menjadi anak yang saleh.

Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Allah perintahkan Ibrahim untuk menyembelih putra yang sangat diharapkan, dirindukan, dan dicintainya itu. Untuk kesekian kalinya hati Ibrahim bergejolak. Jika boleh memilih ia pasti akan meminta Allah untuk mencabut nyawanya saja daripada harus menyembelih Ismail. Namun kecintaannya kepada Allah melebihi cintanya kepada apa pun. Kemudian Ibrahim menyampaikan perintah Allah kepada Ismail. Luar biasa, Ismail anak yang saleh itu langsung bersedia menerima segala bentuk perintah Allah sekalipun harus dibunuh. Iblis berusaha menggoda dan menghalangi Ibrahim, Ismail, dan Hajar, namun ketiganya melakukan hal yang sama; mengambil batu dan melemparinya.

Akhir kisah, Ibrahim membawa Ismail ke atas bukit dengan membawa berbagai perlengkapan penyembelihan. Saat bilah pisau menempel di leher Ismail, Ibrahim tak kuasa melihatnya, maka ia palingkan wajahnya. Pisau digerakkan dan ditekan tersembelihlah leher, tapi rupanya bukan leher Ismail, Allah menggantinya dengan seekor domba, sementara Ismail tetap hidup.

Ada yang tidak boleh kita lupakan, bahwasanya kebiasaan umat-umat terdahulu mengorbankan manusia lazim terjadi. Misalnya untuk meminta kemakmuran desa, memohon anugerah panen yang melimpah, meminta kesuburan bumi, mengusir wabah penyakit, atau kepentingan apa saja yang dianggap maslahat, diadakan upacara pengorbanan salah seorang warga desa tersebut dengan cara disembelih, dibakar, atau dipanah. Ya, pokoknya dipatenilah. Melalui kisah ini, mungkin saja, ini cuma kemungkinan menurut saya, Allah menghendaki penghapusan budaya mengorbankan manusia. Jadi kalau mau membuat tebusan kepada Tuhan itu ya jangan ada yang dibunuh, cukup mBeleh wedus atau sapi saja.

Kisah di atas adalah gambaran yang luar biasa tentang kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya. Ia korbankan sesuatu yang paling dicintai dan dirindukan kedatangannya demi keridaan Allah. Ibrahim mengajarkan bahwa segala sesuatu yang ada pada diri kita dan kita cintai sejatinya bukan milik kita. Semuanya hanyalah fadilah yang diamanatkan oleh Allah. Mungkin Ismail (sesuatu yang dirindukan dan diharap-harapkan) bagi kita adalah harta. Boleh jadi Ismail kita adalah jabatan. Bisa saja Ismail kita adalah karunia Allah berupa kepandaian, pengetahuan, keahlian, atau apa saja yang kita banggakan. Cukuplah kisah Ibrahim menegur kita, bahwa segalanya adalah milik Allah. Mari kita sembelih rasa keakuan, rasa kepemilikan kita. Dengan begitu tak akan ada lagi yang layak kita sombongkan dan kita kikirkan. Selamat Hari Raya Idul Adha. Bismillah. Salam salim.

 Kenyot Adisattva

Tulisan terkait