Menu Close

Hologram Banyuanyar

18Shares

 

Bulan menggantung di sudut tenggara Kasunanan, jalanan tampak lengang sisi-sisi perubahan mulai nampak dengan rentetan gedung, sempitnya ruang dan akselerasi gelombang westernisasi begitu melekat di kota ini.

Wayah sepi wong langkah jalma diperjalanankan untuk mengetuk pintu rumah Pakdhe Herman, sesepuh Suluk Surakartan. Acara wetonan  memang sudah selesai, namun rengeng-rengeng gambang menambah semarak malam mensarikan keagungan-keagungan semesta. Obrolan terus berlanjut.

Kelakar-kelakar merantai mesra, sanepan-sanepan terselip entah mampu ditangkap atau tidak oleh kawula-kawula muda yang duduk berjejer sembari mengunyah kacang godhong dan kopi pahit.

Penuturan-penuturan biasa akhirnya memuncak menuju hal-hal yang luar biasa, minimal untuk saya. Mbah Herman mulai me-wedhar tembang-tembang Macapat dengan pathet tertentu, diharuskan untuk waktu tertentu. Jawa dengan segala pencapaiannya lewat tutur, tembang, srawung selalu mengajarkan empan-papan memposisikan diri pada titik tengah yang tidak menyinggung sekaligus juga terlalu menyanjung, bagaimana memilah-milah kata, sikap, dan gaya bicara guna menangkap hal-hal yang sebenarnya mungkin tajam dan krusial diselesaikan secara arif dan bijaksana, sanepan dan pasemon kadang menjadi wadah mediasi guna meredam konflik. Percakapan seperti ini yang ingin diutarakan Pakdhe Herman kepada generasi muda untuk menempatkan diri pas pada titik tengah, supaya objektif dan berimbang. Pengamatan lebih lanjut mungkin seperti yang kita tangkap akhir-akhir ini dengan mudah orang bisa bersebrangan lalu bermusuhan hanya karena # (hastag) padahal yang diperjuangkan sama-sama Indonesia, kenapa tidak empan-papan, kenapa tidak menguraikannya dengan jiwa yang matang?

Perubahan jaman, memakan jaman atau dimakan jaman

Progesi pembicaraan terus berlanjut membahas periodik jaman. Mata Pakdhe Herman menerawang jauh kembali ke masa-masa kecilnya, ketika masuk ke kedung (lokasi terdalam di sebuah sungai) demi mengambil sejumput tanah dibawah air, kedalaman bermeter-meter, atau ketika banjir besar justru menjadi ajang gentle-gentlean anak kecil dijaman beliau. Mengambil pohon pisang disambung dijadikan rakit bergaya seolah mengarungi samudera betapa indahnya masa-masa kecil seperti itu. Saya mungkin generasi terakhir yang menikmati hal-hal seperti itu berburu ikan, mencari jangkrik, memancing belut meski tak jarang justru menangkap ular namun pada masa yang dibilang Ki Hadjar Dewantara sebagai Wiraga ini, anak-anak benar-benar nglayap setelah pulang sekolah hampir tidak pernah mau diam sampai batas Sendyakala (dulu periode sebelum 1965 tak banyak orang mau mengumandangkan magrib) tapi ketika matahari sudah surup anak-anak wajib pulang, apapun alasannya.

Sementara di jaman modern anak-anak cenderung pasif jaman menggiringnya lebih tajam pada keaktifan di gawai telepon pintar, memang secara teknis nampak maju dan berkembang namun kehilangan masa-masa aktifnya, untuk pemaksimalan sel, otot-otot, tulang, sistem saraf, sistem metabolisme dan menyiapkan daya nalar yang bening dengan melihat beragam realitas diluar sana daripada hanya memakai kacamata kuda bernama smartphone.

Tapi pengusahaan agar sesuai dengan Jawa seringkali bertubrukan dengan sosial masyarakat yang kadang tak punya pikiran jauh namun plus ahli nyinyir. Seringkali kebaikan-kebaikan untuk jangka menengah anak-anak kita hanya bertolak pada umpatan wong tuo nukokne hape wae ra kuat, padahal di realitas diluar sana anak-anak sang pendiri semua teknologi tersebut justru sangat membatasi penggunaan gawai hingga usia tertentu mereka tahu betul, mungkin saja belajar dari Finlandia yang gurunya juga sama Ki Hajar Dewantara. Ini kan ironi, kita benar-benar tidak percaya diri menjadi manusia yang melanjutkan kontinuitas peradaban-peradaban yang telah lampau.

Sebagai Hologram yang merupakan ciptaan terbaik, nampaknya kita masih gagal memahami masa lampau, gagal dalam belajar kepada kesungguhan untaian batin dan kedalaman air tenang hati manusia.

Apalagi Soal Martabat, menjaga kewarasan, atau hal-hal serumit Alogaritma Genetika dari Putra sampai Gantung Siwur. Langkah sang Jalma terus menikmati kesunyian, akan saya tuliskan di-banyumili selanjutnya.

Mari bergegas, mari terus sinau.

Indra Agusta

Tulisan terkait