Menu Close

Hologram Banyuanyar (Bag. 2)

0Shares

 

Rembulan bergelanyut menggantung di ufuk peraduannnya, namun obrolan tak mau beranjak dari lezatnya kuluban dan gereh layur. Mas Wasis masih menikmati alunan-alunan gambang bernada slendro guna memecah kesunyian atas segala keberlangsungan perbincangan.

Membela Martabat atau Kepentingan?

“Jawa adalah koentji” adalah ungkapan pentolan PKI DN.Aidit yang menggambarkan betapa pentingnya Jawa bahkan sampai sekarang. Pada proses pil-pil itu semua mata tertuju ke jawa sebagai pusat kepadatan manusia juga beragamnya kepentingan yang saling tumpang tindih di berbagai eskalasi politik. Akhirnya segala bentuk perubahan dijawa kronik-kroniknya menjadi dasar untuk diaplikasikan didaerah lain.

Musim pilkada yang memanas mengingatkan mbah Herman untuk tidak melupakan peristiwa berdarah 1965. Bagaimana sebuah bangsa saling bersebrangan, saling bunuh karena kalap membela pemikiran-pemikiran yang dikira paling baik untuk bangsa ini, darah anak bangsa tercurah. Penekanan mbah Herman bukan karena perbedaan politiknya, namun siapapun yang berebut kuasa kalau toh harus ada bebanten akhirnya kawula dikelas paling bawah yang menjadi korbannya, dan mata beliau tajam mengingat keadaan tersebut.

Jika kita merefleksikan dengan kondisi sekarang bukankah demikian adanya, sifat satriya yang menjadi software inti dari masyarakat Jawa yang sangat mati-matian akan membela martabatnya ketika dihina digeser menjadi membela mati-matian pada yang dikiranya martabat, padahal hanya isapan jempol visi-misi tokoh, partai atau bahkan janji-janji palsu mafia politik. Kita bela mati-matian incumbent di sisi lainnya juga menyembah habis-habisan penantang bak dewa penyelamat. Yang akhirnya pada pilihan-pilihan “yang dipilihkan” itu kita berdebat, berseberangan, bermusuhan bahkan sampai ke arah kontak fisik hanya karena kaos bertagar.

Dan sebagai orang tua, Mbah Herman mungkin akan sangat ketakutan karena beliau tahu dan mengalami masa-masa transisi 1965 bahkan tidak perlu alasan untuk mencap seseorang menjadi komunis atau pro militer, bunuh-membunuh terjadi begitu saja dan kematian menjadi sia-sia hanya demi Ongkos Perubahan.

Bukankah sebaiknya kita menjaga kewarasan, menancapkan keris dan tombak sebagai pepeling bahwa tidak ada yang benar-benar menang dalam perselisihan. Kegilaan memuncak kita yang waras kerap dipandang edan oleh mereka yang sudah punya tuhan baru, atau kita memang benar-benar butuh Pemimpin yang Gila?

Dalam ingatan yang mungkin sedikit terputus dan kurang detail Mbah Herman mengingatkan saya bahwa dulu Republik punya pemimpin Gila, yang berani keluar dari PBB, berani ganyang negara sebelah, bahkan ketika tahu tidak mungkin membeli perusahaan-perusahaan kolonial Sukarno men-nasionalisasinya (de javaanche bank jadi Bank Indonesia). Sikap-sikap pemimpin seperti ini kan yang tidak ada di jaman modern, semacam ada terbersit ketakutan seiring terus naiknya hutang kita –yang entah kelak akan dibayar dengan apa- atau ketakutan akan semakin berkurangnya SDA kita ketika aset-aset penting perlahan dikuasai asing. Akhirnya terus menerus menciptakan pertanyaan jangka panjang, apakah kita sudah merdeka, benar berdaulat atau ini tipuan status quo demi terus berkembangnya neo-kolonialisme berbentuk okupansi dan investasi. Malam terus menjadi bergairah.

Di penghujung subuh, sayup-sayup masjid mulai terdengar melantunkan lafaz-Nya obrolan nasionalisme bergeser ke ranah yang lebih berat soal spiritualisme, dan Jawa secara keseluruhan bagaimana dalam pengamatan keseharian mbah Herman menemukan kausal-kausal hingga terciptalah kesimpulan bahwa mau bagaimanapun, orang Jawa akan tetap lekat dengan spiritualisme, pengolahan batin dan pencapaian-pencapaian non-material, cenderung sufistik dan lebih ekstrim Jawa sebagai jalan mencari penemuan-penemuan soal Hakikat. Dipertanyakan kepada saya yang masih ‘timur’ ini, sepintas memang mau tidak mau darah yang mengalir terus menemukan kecenderungan-kecenderungan induknya hingga efek langsungnya berimbas pada watak, sikap, perasaan dan ketertarikan sang jalma pada sekelilingnya. Akhirnya Jawa diturunkan lewat darah dari anak sampai Gantung Siwur.

Pelajaran Bahasa Jawa kita hanya mengajari mentah soal penyebutan genetika Jawa dari anak-putu-buyut-canggah-wareng-udegudeg-gantung siwur dari yang awal saya pelajari dulu ada 7 trap level, namun akhir-akhirnya saya tahu ada 18 level strata keturunan. Betapa mulianya bangsa Jawa dalam nguri-uri leluhurnya sampai abad 19 teknologi Jerman mengejarnya dengan istilah DNA, inti sel yang membawa replikasi-replikasi dari leluhur manusia yang akhirnya menjadi kunci untuk memetakan alur kelahiran dan garis keturunan.

Eden In The East karya Stephen Oppenheimer adalah salah satu referensi bagaimana DNA bisa melacak genetika dan dengan hasil yang mengejutkan teorinya “Out of Sundaland” menjadi sangat sulit terbantahkan bahwa manusia-manusia nusantara memang salah satu manusia dengan peradaban tertua, bahkan beliau membantah bahwa persebaran manusia Nusantara berasal dari Yunan, melainkan langsung dari induk manusia “Neandhertal” di Afrika, bangsa-bangsa inilah yang akan melaut menyusuri tanah nusantara dan meninggalkan berbagai penemuan di Sangiran, atau Gunung Padang.

Kerajaan-kerajaan kita adalah yang terus melanggengkan “menjaga darah” lewat pernikahan-pernikahan antar keraton. Nglumpukne Balung Pisah istilahnya, yang secara tidak langsung juga meneruskan replikasi DNA bagi keturunan-keturunan kerajaan supaya minimal menularkan software yang berkembang dibatinnya.

Siapa sangka perkembangan genetik atau nglumpukne balung pisah ini akhirnya pola-polanya menjadi fondasi abad baru yang kita kenal dengan Algoritma Genetika.  Bagi temen-temen yang awam teknologi pasti pernah menjejal search di toko online, atau mesin pencari sedahsyat Google pasti akan muncul “saran pencarian” lebih cepat beberapa mili-detik sebelum kita selesai mengetik, disitulah algoritma berlangsung.

Berkat panel-panel persilangan repro, crossover and mutan segala induk informasi dibayangkan sebagai ribuan manusia dari berbagai keturunan akhirnya beranak pinak, berbenturan mati, atau bermutasi dengan faktor lain akhirnya terkumpullah jawaban-jawaban akurat dari berbagai pertanyaan. Yang ketika manusia melacak simbah-simbahnya dari tutur atau kitab-kitab silsilah. Algoritma diam-diam melacaknya dari berbagai data yang ada di smartphone kita, lokasi, pencarian, video dan makanan kesukaan, jual beli, hingga kata-kata yang kita ucapkan di google now atau Siri. Semua sedang dipersiapkan dan beberapa sudah berjalan untuk menyongsong jaman baru, dimana Manusia akan terganti dengan Hologram ber-alogaritma jika tak siap maka bersiaplah dilindas jaman, Ojek online dan bisnis peta sekarang sudah memulai algoaritmanya.

Akhirnya dari masa lalulah kita membaca masa depan, dan tutur-tutur sederhana orang tua terkadang akan ngemu ilmu asal manusia menjadi Hologram terbaik seperti yang Khalik ciptaan. Mbah Herman dan tentu semua sesepuh lainnya hanya mengisyaratkan pepeling kita yang generasi muda harus mengolahnya betul, menangkap pola-pola jaman supaya tetap waras, bermartabat dan berkeluasaan batin.

Sang Jalma pamit, dari pintu Omah Wong Jowo itu kusampaikan salamku pada-Mu, pada desiran angin juga alang-alang yang membendung segala sesuatunya.

Astungkara……….

Kasunanan Surakarta, Agustus 2018

Indra Agusta

Tulisan terkait