Menu Close

Tarung Simbol

5Shares

 

Sayup – sayup dalam kamar yang gentengnya selalu bocor ketika hujan menerpa, Zaman-zaman sebuah lagu post-rock karya Trees and Wild mengoyak telinga, akan kebisingan, keriuhan, dan kepalsuan-kepalsuan jaman.

…hilanglah ke dalam zamanmu, hilanglah

Semua yang merasakan hanya merasa letih….

Bayu membawa banyu bertiup dari sudut tenggara, membawa basahnya samudera hindia pada titik-titik jalma di pulau Jawa. Jawa membawa kompleksitas pergerakannya pada hakikat akan datangnya sebuah masa pencerahan, dunia baru, atau zaman baru. Zaman yang dinantikan menuju kesudahan dari segala kesedihan, menuju titik-titik kebahagiaan serta keadilan atas kesewenang-wenangan. Demikianlah berbagai gerakan mesianik terus datang pada Jawa, serta mengumandangkan pada dunia bahwa kita jalma yang terus beriman akan datangnya masa tersebut.

Di penghujung pagi jalma tertidur dikursi bambu yang sebentar lagi juga reyot. Menemani jangkrik-jangkrik yang membersamai malam. Ah, memang malam tak lengkap tanpa jangkrik. Di luar sana berbagai kejadian mengoyak batin sebagai sesama manusia, seperti beruntun saja peristiwa mengikat peristiwa lain ada kepiluan, kesedihan hingga bersemai gundah bercampur kemarahan.

Kegamangan melanda seluruh negeri, karena semakin tidak jelasnya kemana perahu berlabuh, pertentangan demi pertentangan  terus berlanjut. Kontestasi yang terjadi ternyata juga hanya seperti menaburi tirisan jeruk nipis pada luka yang menganga. Sementara itu skenario-skenario dijalankan.

Nusantara entah siapa yang mau mempelajarinya, menyimpan aliran darah dan watak dari mereka yang terus menfilsufi sesuatu, dari sekedar kecurigaan akan sesuatu yang beda, cocokologi atau memang menuju ranah-ranah mengenali pendaran penglihatan sebagai simbol-simbol.

Sesuatu yang kita kenal sebagai simbol ini punya ruang dan kasta ditataran tinggi masyarakat, seperti keterikatan jalma pada Nabi, ajaran Tuhan lewat Nabi, tokoh, begawan, atau pada karya sastra dan seni yang mampu menawarkan sebuah esensi nilai yang sama atas kejuangan tertentu yang juga mendapat tempat tersendiri dalam sanubari manusia jawa.

Teknologi menjadi tonggak perubahan jaman tentu tak lepas dari simbol-simbol, ada tawaran-tawaran yang sudah menjadi kesepakatan bersama logo “ J “ misalnya, yang berasal dari titik dua dan kurung tutup kita sepakati bersama sebagai simbol tersenyum. Demikianlah akhirnya ekspresi bisa ditampung teknologi lewat simbol-simbol, sebuah jalan menarik ditengah keterbatasannya kata-kata.

Sisi lainnya dis-informasi soal simbol ini berakibat fatal, ternyata kondisi demografi, sosiologi dan ragam realitas tak bisa menyamaratakan persepsi soal simbol. Dari situlah benih keretakan-keretakan jalma karena gagalnya transfer informasi disemai. Dan kemungkinan ini ditangkap dan diputarbalikkan bagi mereka yang mengejar kelanggengan dari bisnis pergerakan dan bisnis pertempuran.

Strateginya seperti yang pernah digarap lewat radikalisasi ideologi, bagaimana Kapitalisme, Komunisme, Sosialisme, Individualisme, Chauvinisme, dan ketika massa sudah tergerak menyakini bahwa Ideologi mereka yang paling benar, lalu direntang mana lagi kalau bukan pertarungan-pertarungan, perang yang menghasilkan hutang, membunuh kemanusiaan, mendefisitkan sebuah negara, mengacaukan rencana-rencana jangka panjang, serta menguasai otak dan kesadaran manusia untuk bergerak pada pagar-pagar permusuhan.

Dan kini dengan simbol yang sama orang bisa bertarung, demi uang, demi agama, demi Tuhan yang sama kita bahkan berperang satu sama lain, apakah tidak cukup Katolik dan Prostestan berperang beratus-ratus tahun? Mereka yang mengenal ajaran Kasih dari Yesus Isa Almasih itu, adalah mereka yang menancapkan pedang kepada sesamanya manusia?

Kini dalam pandangan saya tidak hanya Islam, namun juga masyarakat sudah begitu mudah digiring pada permusuhan demi simbol-simbol yang seharusnya kita jaga bersama, mari berfikir dalam 3-5 lipatan kedepan dalam berbagai kemungkinan, apa yang akan terjadi, lini mana saja yang akan dirugikan jika kita terus saling benci, saling serang dan berebut benar sebagai dalih pembenar?

Kita semua tahu, kalian tahu semua tahu kita sedang gamang, sedang resah bahkan mungkin lelah menghadapi banyak sekali tuntutan atas hidup, pemertahanan status sosial, mengisi perut demi keberlangsungan keluarga, mengusahakan standar minimal kelayakan sebagai sebuah entitas di masyarakat, dan berbagai beban lainnya, namun semoga tidak menambah kesabaran dan kepasrahanmu pada Khalik.

Jalma kemudian menyusuri lembah-lembah airmata, dimana kata-kata terus bermuara pada harapan-harapan akan masa depan, mungkin bagi akademisi hanya akan dimaknai sebagai Gerakan Milleniarisme, namun bagi saya ini sebuah anomali besar yang akan menolong anak-anak itu pada keajaiban di gerbang jaman baru. Seperti ketika dalam kesedihan yang teramat mendalam kita bahkan hanya tersenyum, mungkin di tahap berikutnya kita bisa tertawa terbahak-bahak. Demikianlah jalma jawa dengan segala anomalinya, untuk terus bertahan, untuk terus gelisah dan terus menggoreskan permohonan lewat Airmata pada kehendak-kehendak yang terjadi atas persetujuan langit.

Teringat jalma pada piweling seorang yang sudah berusia lanjut,

masih enak hidupmu?”

“masih kerasan di dunia?”

“semalam saya tidak mendoakan agar kalian bertambah rejeki, namun saya memohon kepada Allah agar Gusti Allah menambahi kekuatan kalian untuk menikmati hidupmu”

Lalu tangis sesenggukan mengalir di sela kompleksitas ruang-ruang perenungan jalma…

Sementara bunga teratai belum mekar, namun awan segera berlalu.

Kleco Wetan, 1 November 2018

Indra Agusta

Tulisan terkait