Menu Close

Kopi Parang dan Persekutuan Selasa Pahing

0Shares

Ketika saya bertanya perihal tanggal kelahiran orang tua saya, akan saya dapati jawaban yang tingkat keabsahannya patut dipertanyakan. Tetapi jika saya tanya hari lahir, dengan sigap mereka akan mengingat. Orang tua saya lebih ingat weton daripada hari ulang tahun.

Sekarang ini tanggal kelahiran malah dipahami sebagai hari kelahiran. Padahal tanggal itu perkara angka, sedang hari adalah perkara waktu.

Ada lagu nasional berjudul ‘Hari Merdeka’. Liriknya, tidak ada tuh yang menyebutkan kata ‘Jumat’. Malah diawali dengan ‘tujuh belas Agustus tahun 45 itulah hari kemerdekaan kita’. Itu kan tanggal ya? Bukan hari ya? Kan ada lagu begini, “Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu itu nama-nama hari”. Kan sudah jelas ya mana hari mana tanggal?

Kalau ada pertanyaan tentang hari ulang tahun, jawabannya pasti tanggal. HUT Kemerdekaan RI. HUT lho? Kalau 17 Agustus 1945 harusnya TUT dong. Tanggal Ulang Tahun kan. Yang digunakan sebagai patokan pengulangan kan tanggalnya. Kenapa masih disebut ‘hari’ sih?

Maka dari itu, ada hal yang sangat-sangat layak untuk saya syukuri mengenai hari kelahiran. Ketika usia kehamilan istri saya hampir mendekati hari perkiraan lahir, istri saya kepengin kalau bisa anak kami lahir pada tanggal 26. Supaya keluarga kami menjadi geng 26. Sepertinya istri saya seorang pengabdi angka. Saya 26 November, istri saya 26 Mei, kalau bisa anak kami juga lahir pada tanggal 26. Katanya yang demikian itu bisa ditawar kepada Tuhan.

Bagus sih. Tapi aneh aja rasanya. Nawar kok perkara tanggal. Kami dikaruniai anak yang sehat penuh barokah, seharusnya sudah bersyukur. Karena penantian kami hampir empat tahun lamanya. Tapi tak mengapa. Saya dukung ikhtiar istri. Karena banyak juga para orang tua yang menginginkan tanggal kelahirannya paling tidak sama dengan salah satu dari mereka. Kalau bukan bapak ya ibunya. Supaya kalau ulang tahun bisa dirayakan bersama-sama. Asik sih.

Yang namanya nawar ya, deal syukur nggak deal ya bukan masalah. Karena bukan tanggal lahir yang penting. Justru ada peristiwa apa yang membersamai hari kelahiran itu. Karena peristiwa itu menjadikan hari kelahiran itu semakin bermakna. Misalnya api Majusi tiba-tiba padam. Langit sangat cerah. Suasana penuh ketenangan. Justru dari peristiwa-peristiwa itulah hari kelahiran itu menjadi berarti.

Jadi bukan persoalan ketika pada tanggal 26 di salah satu bulan anak kami belum lahir. Yang penting sehat selamat bayi dan ibunya. Begitu pikir saya. Anak kami akhirnya lahir pada tanggal 4 September 2018. Sehat selamat.

Ada satu peristiwa penting yang akan saya ceritakan. Peristiwa yang bebarengan dengan kelahiran anak kami.

Yaitu pembukaan pertama warung kopi bertajuk Kopi Parang ((backsound sayatan biola Prisha Sebastian))

Oke. Tolong dipahami sampai disini bahwa tulisan ini tidak terkait erat dengan modus mencari gratisan kopi. Pertama, saya bukan pengopi yang kaffah. Yang bisa menikmati kopi dan mencari nilai-nilai dalam tiap aroma sajiannya. Yang bisa menemukan alur panjang bahwa meminum kopi adalah cara bersyukur untuk semakin mendekat kepada Tuhan. Karena Tuhan telah menciptakan biji kopi pilihan. Bukan. Saya bukan pula pemuja senja berteman kopi. Yang bisa mendapatkan inspirasi dari secangkir kopi. Yang semakin terpacu energinya ketika mendengar tubrukan antar biji kopi dalam mesin penggiling. Bukan. Saya belum mencapai taraf yang sedemikian itu.

Kedua, saya akan lebih memilih minuman hasil seduhan teh daripada seduhan kopi. Seperti yang pernah saya ceritakan bahwa saya adalah keturunan dukun tersohor abad ke-4 Sebelum Cahaya. Sebelum Masehi. Saya lebih suka minum air kembang ketimbang air biji. Karena meminum air kembang pada zaman now pasti akan sangat aneh sekali jadi saya alihkan untuk meminum air teh. Kan ada aroma kembang melatinya ya? Itu. Kalau air biji kopi kurang begitu klik aja.

Paham ya.

Kopi Parang ini, menurut mata-mata saya, adalah bentuk nyata pergerakan divisi Kartel Nusantara dari para penggiat Maiyah Solo Suluk Surakartan. Konon Kartel Nusantara ini memiliki titik tuju dengan latar belakang pergerakan di bidang sektor riil ekonomi. Niaga, perdangangan, dol tinuku, pengkreasi pasar dan apa saja yang berhubungan dengan itu semua. Kopi Parang adalah salah satunya.

Bagi para pecinta kopi wilayah Solo dan sekitarnya, tidak ada salahnya untuk mencoba menu yang ditawarkan Kopi Parang. Tempatnya memiliki arsitektur rumah Joglo Jawa. Sangat pas bagi anda yang menginginkan suasana nyaman, tenang, syahdu dan santai. Ayo ajak keluarga, saudara, kolega, dan sahabat-sahabat anda ke Kopi Parang! Dapatkan diskon menarik bagi pengunjung berbaju batik. Ngopi? Di Kopi Parang saja!

Aku jane ya bakat dadi copy writer. Nulis tagline iklan-iklan kae. Hahaha…

Tapi bukan itu. Ketika istri sedang berjuang melahirkan, saya agak manja kepada Tuhan,

Suwun ya Awoh. Mboten tanggal 26 mboten napa-napa.” Seraya saya lirik kalender yang tertempel membisu di tembok kontrakan. Iya, anak saya lahir tanpa saya tunggui. Saya di Solo menghujamkan doa. Istri saya meregang berjuang di Kebumen, nyawa taruhannya, melahirkan si jabang bayi.

Saya lirik lagi kalender. “Sing penting selamet Gusti…”

Tetiba entah mata ini siapa yang mengarahkan, melihat tulisan kecil di bawah angka empat kalender bulan September 2018.

“Ha? Selasa Pahing?”

Iya. tanggal kelahiran saya dan anak saya beda. Tetapi, alhamdulillah weton-nya sama. Selasa Pahing. Lalala… lalala… lalala….

Yang menjadikan saya insyaallah tidak bisa melupakan Kopi Parang justru karena hari tanggal kelahirannya sama dengan hari tanggal kelahiran anak kami. Makanya, ketika dulu saya masih terpisah dengan anak dan istri, ketika ada undangan entah itu rapat media atau pawon, saya mengusahakan untuk datang. Secapek apapun. Sengantuk apapun. Karena begitu saya memasuki halaman Kopi Parang, yang terbesit adalah saya sedang berusaha untuk kembali mengingat bahwa saya sudah punya anak. Yang itu menjadi penanda bahwa amanah tambah, otomatis harus bisa tambah amanah.

Kopi Parang kuwi sak barakane anakku. Sak umuran. Gek-gek kembarane malah? Siji wujude menuso, siji wujude warung. Nek ilmune njenengan tekan mesti njenengan paham.

Suwun Kopi Parang, tambah laris, tambah moncer, tambah gayeng, dan tambah meruang. Jadi tempat diskusi, sesrawungan, bebrayan, menyatukan apa-apa yang memang selayaknya disatukan. Insyaallah pendeklarasian Persekutuan Selasa Pahing juga di sana. Demikian.

“Kulo teh anget mawon njih….”

Didik W. Kurniawan

Tulisan terkait