Menu Close

S.A.R! SAR! New Year

0Shares

Baiklah, akhirnya kita melangkahi akhir menuju awal tahun gregorian. 2019 tahun lalu ketika Imperium Romanum menetapkan standar waktu berdasar edar matahari yang +6 jam, yang kemudian Gregorian menyatukannya dalam kelipatan-kelipatan 4 tahunan. Gegap gempita kembang api, serta terompet menandakan bahwa kita jelas penganut Yahudi mutlak, karena si penghujat anti Yahudi pun menghujatnya di sosmed Facebook, bikinan Yahudi, ini kan kayak orang icip-icip jeruk dipasar, bilang masam tapi tetep jeruknya dibawa pulang. Hujatan anti-anti terompet pada akhirnya dibantah telak dengan selentingan “Terompetmu, Rejekiku lur”. Dyar, yen wes urusan weteng kon kate lapo? Meskipun sisi sebelahnya ruang-ruang populisme agama semakin sepihak gampang menuding ini itu. Akhirnya pertama-tama saya ucapkan selamat memasuki bulan Januari, Tevet, Bakda Mulud, Rabiul akhir!. Haha. Tahun baru-an ki relatif rek!

Kabar Duka jatuh meluncur dari langit, geliat penyeimbangan alam terjadi dimana-mana, menelan korban ratusan manusia, namun manusia juga lupa alam semesta juga terus menerus dikorbankan atas nama ekstraksi, karena manusia merasa ultraman atau superman yang tidak mau tepo sliro dengan sesama mahkluk lain. Duka-duka itu menjalar pada keluarga besar musisi nasional Seventeen, dan Jamrud meski tak kehilangan nyawa. Duka yang kemudian terus berlanjut di sukabumi, dan beberapa gunung mengalami perubahan cuaca ekstrim, hujan dan angin.

Operasi-operasi SAR dibuka, pada hari ketika saya menulis ini baru saja juga pencarian terhadap orang hilang di gunung Lawu, yang di Arjuno sudah memasuki minggu kedua dan belum ketemu, di Solo Raya tawon menyerang membabi buta, dan angin meluluh lantakan pepohonan yang membuat manusia prototype lain yang membaktikan diri pada kemanusiaan akhirnya ikut andil untuk thandang menyelesaikan masalah-masalah di lapangan.

SAR (Mencari Dan Menyelamatkan) Keseimbangan

Jika berkaca lebih jauh banyak sekali yang langsung auto-judging bahwa bencana ini azab dari Tuhan, sebagian mungkin akan mentertawakan, saya tidak begitu setuju dengan idiom itu, karena hukum Alam (meskipun sama-sama dari Tuhan) juga sedang berjalan. Hampir semua kejadian bencana alam adalah gerak biasa dari alam untuk menemukan keseimbangan-keseimbangan. Terjadinya angin hebat karena adanya perubahan drastis tekanan udara disuatu wilayah yang menggerakkan angin dibelahan dunia lain, atau longsor karena pepohonan yang biasanya mampu menjadi cakram penggigit tanah harus diganti dengan sayuran-sayuran yang daya cengkramnya kurang kuat, atas nama ekstraksi dan bati akhirnya pertanian tidak memperhatikan kontur medan lahan. Yang ketika proporsinya tidak pas ketika hujan tiba tanah bisa bergerak, menghancurkan manusia sendiri, atau masalah sampah dan banjir, juga gempa bumi yang merupakan efek dari putaran bumi yang menabrakkan lempeng-lempeng antar benua.

Seharusnya dalam katastofri pemikiran manusia bisa dikembangkan sebagai ilmu, bahwa sangat mendasar untuk mengerti, dan menjaga keseimbangan. Seperti yang diposting pak Munir kemarin soal Komposisi warna berlabel ‘boolean’ -salah satu fungsi logik yang menggerakkan semua hal di sisi lain boolean nanti ada fuzzy logic- bagaimana dalam irisan-irisan warna optimalnya harus terjadi percampuran warna bukan dominasi warna. Bukankah yang terjadi sekarang adalah dominasi warna?

Ketika suatu kaum sudah sepakat atas dogma dari pemimpin dengan dalih2 tertentu menganggap itu sebagai keputusan sah Tuhan, akhirnya hanya ada pemadatan-pemadatan menuju konflik. Mungkin hidupnya tak pernah mendengar suara manis Letto dalam Bid’ah Cinta yang liriknya …terlihat warna berbeda bersanding dengan mesra tak bercela…..

Persandingan, bahkan percampuran warna ini jadi jauh sekali, apalagi harapan untuk menjaga keseimbangan yang kemudian dirusak oleh tabrakan-tabrakan kebenaran individu seperti lindu, Gempa bumi sekarang tak hanya alam, manusia pun otaknya, kelakuannya, keakuannya ditabrakkan satu dengan yang lain, mereka yang secara moral bisa dengan sangat santun mendoakan para korban gempa, tapi lihat pemikiran mereka seperti lempeng antar benua. Manusia perabot saja belum lulus.

Akhirnya harapan saya pada diri saya sendiri dan semua sedulur Suluk Surakartan di tahun 2019 adalah menjaga keseimbangan berpikir, meluaskan cakrawala pemahaman, sekaligus ora baperan menghadapi berbagai peristiwa dan penghancuran-penghancuran diri nation-state yang kian nyata.

S.A.R TEKNOLOGI

Sebenarnya SAR adalah syarat umum pada sebuah smartphone sebelum dilegalkan untuk dijual di pasaran. Sudah ada bertahun-tahun yang lalu, saya menganggapnya ini menarik karena di awal tahun ada majalah online yang kembali membahas standar ini. Kita tahu bahwa kabar percepatan teknologi melesat jauh, teknologi 5G dirancang ketika dipancarkan mampu membunuh burung diudara, atau face-detection yang bisa buat berbelanja mengganti ATM, barcode, mulai dikembangkan di China, namun SAR ini masih dipakai.

Singkat cerita majalah itu di awal tahun merilis list smartphone terbaru di tahun kemarin + kadar SAR-nya. Yang membuat menarik adalah pertarungan-pertarungan brand besar terjadi disana, dan justru SAR paling rendah mampu dibuat oleh brand jepang yang sekarang mulai merebut marvell. Entah kenapa, apakah ini persaingan atau ini ingin meningkatkan penjualan sebelum brand itu redup? Dan tidak banyak brand China yang lagi in banget dipasaran yang masuk list ini. Mungkin karena sudah jadi rahasia umum bahwa mereka menjual barang spek murah, tapi pertimbangan radiasi pikir keri, atau suudzon nya jangan-jangan penghancuran otak manusia China adalah lewat ponsel murah beradiasi tinggi biar otak kita kejang-kejang di usia senja, atau minimal kena indikasi kanker otak disamping dirusaknya pula cara berpikir kita lewat progesi kapitalisme china, tontonan korea, atau malah nomophobia.

Yang menjadi perhatian saya adalah Radiasi, pancaran energi via gelombang entah sinyal maupun cahaya. Karena sudah sangat jelas bahwa manusia akan terpengaruh dengan gelombang energi yang ada di sekelilingnya, dalam kacamata teknologi adalah betapa kita dibuat kecanduan oleh internet dan game, skala lebih luasnya berapa kita yang justru kecanduan gelombang-gelombang populisme, milenarisme, atau malah gelombang besar liberalisme yang mendorong terjadinya perusahaan global. Atau gelombang informasi yang semakin tak bisa kita bendung namun kita terpaksa menikmati dan membacanya dibalik pop-up iklan di medsos kita.  Akhirnya seberapa kuat kita menjadi lotion anti-radiasi bagi minimal diri kita sendiri, keluarga juga maiyah.

Jika smartphone sekelas iphone XZ juga hampir mendekati titik maksimal radiasi, apalagi dengan smartphone china yang kadang-kadang tidak mencantumkan SAR-nya. Jika agama-agama radiasinya tak seperti matahari yang memberikan vitamin-E, bahkan kini radiasinya melewati batas, siapa yang akan jadi anti-UV nya? Siapa yang akan melerai, atau kita biarkan pertengkaran-pertengkaran, gede-gedenan werno, gede-gedenan radiasi  yang justru malah kontraproduktif, yang lupa bahwa sebenarnya tiada warna atau gelombang, intinya adalah cahaya. Energi cahaya.

Segalanya terus berjalan kalian mau percaya atau tidak, ternyata kekuatan hegemoni global ini sangat besar mewarnai alam semesta dan dalam edar matahari-matahari selanjutnya. Saya berharap ada anomali-anomali penyelamat di Suluk Surakartan, yang terus menyemai kebersamaan, memberikan kesadaran sekaligus mengaktualisasikan potensi peradaban.. sing mbok songko ora ana iku, isa ana.

Minimal kita tahu harus mengakui bahwa Tuhan selalu turut campur dalam segala perkara dan keputusan-keputusan anak manusia, selalu ada gelombang dan dimensi-dimensi lain dari bumi, tak hanya melulu soal kasat mata, soal materialisme, bahkan keputusan-keputusan bisa digerakkan melalui alam, melalui kejadian-kejadian. Contohnya, silahkan kalian liat vlog nya mas Erix Sukamti bahwa personel Seventeen di dimensi lain menyetujui untuk “menggerakkan satu kembang mawar” di kuburan beliau sebagai anggukan setuju bahwa Seventeen harus berlanjut.

Intelektualitas harus bersanding dengan spiritualitas, dan maiyah adalah jalan tengah sekaligus blueprint masa depan.

Wes ya lur sing seimbang, sing sareh nangkep gelombang.

Gusti Mberkahi njenengan kabeh!

Kleco Wetan, 3 Januari 2019

Indra Agusta

Tulisan terkait