Menu Close

Emha dan Hukum Indonesia

17Shares


Pada Kamis (14/02/2019), beberapa kawan alumni SMA angkatan saya berkumpul. Bukan untuk merayakan Valentine Day. Bukan pula untuk mendeklarasikan dukungan ke salah satu capres, bukan! Mohon maaf, urusan copras-capres bagi kami horaaa patek penting. Yang lebih penting, mahal, dan berharga adalah jalinan silaturahmi diantara kami. Pokoké paseduluran sakmodare, eh selawase.

Kami kawan lama yang lamaaa tak bersua. Dan hari ini berkumpul, bertemu, bermuwajahah dalam rangka klangénan. Sekaligus membicarakan agenda reuni SMA, yang InsyaAllah akan diadakan bulan Juni 2019 mendatang. Berbagai hal di bahas. Mulai dari A sampai Z. Dari yang serius sampai yang pekok-pekok. Adakah yang lebih menggembirakan melebihi momen kumpul dengan sahabat lama, bernostalgia mengenang masa-masa SMA? Hmn…tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah. Tiada kisah paling indah, kisah-kasih di sekolah.

Kami ngobrol ngalor ngidul sekitar 3 jam. Lama? Nggak! Waktu berlalu begitu cepat. Semua terasa singkat. Masih kurang. Betah berjam-jam. Mungkin itulah bagian dari kemesraan. Menembus batas, ruang dan waktu.

**
Ditengah obrolan yang asik, salah satu teman spontan bertanya pada saya. Cukup mengejutkan. Sebut saja ia Karjo (bukan nama sebenarnya).

“Bro, kenapa si Mbah itu ndak bisa ditangkap polisi. Padahal kerap ngomong kasar, sering misuh, mengkritik penguasa sejak jaman orba hingga sekarang. Tak jarang bikin panas kuping! Sedangkan si Ahmad Dhani yang cuma ngomong begitu di media sosial, langsung terjerat pasal, dijebloskan ke penjara. (Tentang cuitan kasar Ahmad Dhani, silakan teman-teman cari sendiri) Piye kuwi? Tolong jawaben! (Sembari teman saya itu menunjuk sebuah figura besar bergambar Mbah Nun persis diatas meja kasir)

Teman-teman, mohon maaf. Saya baru ingat kalau resto tempat kami makan dan kongkow tersebut, dulunya pernah menjadi tempat transit sekaligus ramah tamah Mbah Nun beserta personil KiaiKanjeng saat acara Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di Gemolong #jilid 1 pada 2015 silam.

Foto Mbah Nun yang dipasang di resto tersebut (Red.)

Mendengar pertanyaan tersebut, saya diam sejenak. Loading. Setengah kaget, setengah bingung. Berfikir dan membatin, jawaban apa yang paling presisi untuk saya berikan. Jangan sampai irasional. Bodoh, gegabah, dan sepenggal.

“Mungkin, mungkin lho ya, dan ini murni pendapat saya, bisa salah, bisa benar. Kenapa Cak Nun sejak dulu sampai sekarang tidak pernah diciduk polisi atau dipenjara, atas sikap dan statementnya? Mungkin karena beliau seorang manusia.”

“Maksudnya?”

“Maksudnya, Cak Nun lulus menjadi manusia.”

“Maksute piye bro….??”

“Begini, dulu Cak Nun itu kan terkenal vokal mengkritik rezim orde barunya pak Harto. Nah, yang dikritik itu korupsi, kolusi, dan nepotismenya. Yang dibenci itu tindakannya. Namun kepada manusianya, Cak Nun tetap menaruh hormat dan menyayangi. Beliau mampu memanusiakan manusia, dan itu menjadi salah satu ciri makhluk yang bernama manusia.”

(Teman saya itu manggut-manggut)

“Terbukti, menjelang lengsernya Soeharto tahun ’98, Cak Nun bersama beberapa tokoh diminta ke istana untuk menemani Mbah Harto turun tahta. Tidak mungkin itu terjadi, kalau Mbah Harto ‘tidak ada rasa’ terhadap Cak Nun. Begitu pun sebaliknya. Cak Nun itu orangnya ndak tegaan.”

(Teman saya masih manggut-manggut)

“Cak Nun mungkin benci setengah mati terhadap kediktatoran Soeharto selama 32 tahun. Akan tetapi cara beliau mengkritik, menentang, melawan tetap menggunakan ilmu, rasio, keseimbangan berfikir dan sikap. Ora ngawur. Ora waton njeplak. Dan saat Mbah Harto minta tolong pun, Cak Nun dengan tulus membantu.”

(Teman saya masih tetap diam)

“Yang banyak tersaji di wajah media sosial sekarang kan, orang melakukan ujaran kebencian, memfitnah, menghujat, menyebar hoax, secara membabi buta. Sudah babi, buta lagi. Tidak lagi memakai akal sehat. Rasa kemanusiaan hilang. Pemicunya pun sepele. Gara-gara beda pilihan capres. Kan menjijikkan sekali itu bro. “Kampret” dan “Cebong” saling ejek, saling serang, saling hujat, saling fitnah, dan entah itu sampai kapan.”

Dari raut mukanya, teman saya itu cukup bisa menerima atas apa yang saya sampaikan.

“Kenapa si Ahmad Dhani bisa dipenjara gegara cuitannya? Karena sekarang ada undang-undang ITE yang mengatur. Barang siapa melanggar ya dijerat. Selebihnya sih saya juga ndak tahu kenapa pentholan Dewa itu akhirnya dibui. Hikmahnya, mulai saat ini kita mesti lebih hati-hati dalam bermedia sosial.”

Tepat pukul 17.00 WIB, acara makan dan ngobrol bareng disudahi. Sepanjang perjalanan ke rumah bahkan hingga hari ini, pertanyaan dari teman saya itu masih menghantui. Terngiang-ngiang dalam benak. Kenapa seorang Emha tidak pernah bisa ‘ditangkap’ dan dipenjara? Saya sendiri tidak tahu jawaban pastinya. Mungkin teman-teman ada yang bisa bantu menjawabnya…

Gemolong, 17 Februari 2019
Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait