Menu Close

Teraniaya Sunyi

5Shares

Dalam mencari ilmu, kita mendapatkan mandat untuk mencari ilmu itu sampai ke negeri Cina. Tapi terkadang, kebanyakan dari kita memandang perintah itu terlalu konseptualis. Entah itu dari predikatnya ataupun tujuan dari objek ujaran dalam mencari ilmu itu sendiri. Secara geografis ‘negeri Cina’ terkesan sangatlah jauh dari kita. Akan tetapi, hal tersebut dapat dengan sekedip mata kita wujudkan asal terdapat kemauan serta usaha dalam mencari ilmu.

Terlebih dalam ngangsu kawruh itu kita mesti radikal terhadap diri sendiri. Kita mesti egois walaupun mesti membungkusnya dengan kata silaturrahmi. Pada akhirnya, sebuah perjalanan untuk mencuri ilmu terasa lebih santai. Di sini, kata mencuri itu sendiri diambil karena dalam proses mengambil ilmu perlu presisi perhitungan jarak dan waktu yang tepat. Tanpa sebuah perhitungan, proses itu akan terasa berat. Terlebih kalau sampai ketahuan mencuri. Kelelahan dan mungkin efek jera untuk mencari ilmu akan menyeruak ke seluruh tubuh. Jika itu terjadi, kita jangan pernah menyalahkan sebuah proses, akan tetapi tanyakan kepada diri kita, apa yang salah?

Sebuah analogi itu penting untuk mempermudah akal kita mengubah sesuatu hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Kita bisa melipat ruang dan waktu menembus batas kewajaran, kita bisa berintim dengan semesta, bahkan dengan analogi, kita bisa membayangkan surga tanpa sekalipun kita pernah menginjakkan kaki disana. Sampai nanti kita bertemu dengan pertanyaan sebenarnya kita ini melakukan perjalanan atau memang sudah diperjalankan?

Sama halnya kesempatan ‘mencuri’ malam hari itu ada yang mengarahkan ke suatu tempat di sudut Solo Baru. Sebuah ruang dimana beberapa orang berkumpul menghabiskan malam bermesraan. Memerankan sesrawungan sembari mengulik ilmu bersama-sama. Yaa, dalam bingkai nama ‘Suluk Surakartan’. Bagi yang masih asing mendengar nama ini, Suluk Surakartan adalah suatu simpul Maiyah yang ada di daerah Solo. Pada tanggal 22 Februari ini, acara yang terselenggara sebulan sekali tersebut telah memasuki edisi ke-37 dengan mengangkat tema ‘Pemimpi(n)’.

“Apakah sebenarnya kta memang pemimpin apa kita hanya seorang pemimpi?” Pemimpi adalah salah satu khas yang paling menonjol untuk membedakan manusia dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain, bukanlah akal. Akal tak lebih hanya sekedar sebuah pembelaan secara tidak langsung atas ketinggian derajat kita atas makhluk lain. Setiap makhluk diberikan akal oleh Tuhan dengan takarannya masing-masing untuk bertahan hidup atau berkembang biak. Manusia pun demikian, hanya saja manusia diberikan angan untuk menjadi seorang pemimpi. Bagaimana mereka diberikan kemampuan berimajinasi dan mewujudkannya melalui usaha mereka.

Pemimpi erat kaitannya dengan panguripan/keberlangsungan hidup. Tentang keberlangsungan hidup, kemapanan. Baik secara ekonomi ataupun dengan melihat taraf tingkat kesejahteraan hidupnya jika  dibandingkan dengan peradaban. Setiap individu pasti menjadi seorang pemimpi untuk mendapatkan peran atau menjadi lakon utama dalam lingkungan kehidupannya. Tidak ada satu individipun yang memimpikan dirinya menjadi tokoh antagonis yang tujuannya hanya membuat onar dan  ketidakharmonisan.

Pada malam itu, jika kita melihat dari sudut pandang ekonomi. Pak Munir mengibaratkan ekonomi sangat identik dengan getih. Dimana darah itu menjadi faktor penting dalam struktur tubuh kita untuk terus mendistribusikan nutrisi ke seluruh tubuh. Begitupun dengan ekonomi, ia memiliki siklus untuk terus berputar dalam roda kehidupan. Tentu agar kesehatan terjaga, agar kita bisa berperan secara maksimal dalam sandiwara dunia ini. Hanya saja kita tetap perlu membekali diri agar kita tidak salah memaknai angan bagi seorang pemimpi. Karena jika kita lupa terhadap bekal itu, kita hanya akan berakhir menjadi orang yang gumunan terhadap sesuatu terlebih dalam lingkup ekonomi.

Pak Munir sedikit menyambung tentang bahasan di atas. “hidup itu gak usah dibikin susah, Gusti Allah itu santai tapi sungguh-sungguh. Semua yang dilakukan santai tapi sungguh-sungguh hasilnya akan lebih baik.” Beliau juga ikut menambahi tentang ‘bekal’ seperti apa yang baik buat diri kita. Menurut beliau, semua berasal dari ketenangan, disitulah kita bisa mengatur diri kita. Bisa selalu menyelaraskan ritme tubuh kita agar tidak merusak keseimbangan. Karena kesalahan orang pada zaman sekarang adalah terlalu memposisikan uang pada posisi yang sentral atau tujuan utama. Sehingga, banyak manusia telah termanipulasi oleh angan yang mengakibatkan rela melakukan segalanya demi tujuan yang salah tersebut.

Begitupun juga apabila pemimpi tersebut masuk ke dalam sistem kepemimpinan. Dimana menurut Pak Munir, awal dari sebuah kepemimpinan adalah proses. Proses untuk lebih mengenali diri sendiri. Sebuah proses untuk lebih banyak melatih sikap reflesksi terhadap diri sendiri. Hingga pada akhirnya, para pemimpi itu memiliki kedaulatan berfikir. Memiliki cakrawala kemandirian berfikir yang sangat luas. Pak Munir juga menyampaikan bahwa antara pemimpi jika diberi huruf nun(N) akan menghasilkan sebuah pernikahan. Dimana fungsi makna filosofi dibalik huruf nun itu sendiri memiliki penjabaran yang sangat luas. Hingga pada akhirnya bisa membawa pemimpi-pemimpi tadi memiliki potensi menjadi seorang pemimpin kang kasunyatan.

Pemimpin pada akhirnya hanya akan terjerembab pada situasi menang dan kalah, itu pasti. Akan tetapi bagaimana caranya agar kita tidak merugi? Kita ambil pesannya Mas Sabrang waktu di MS kemarin, “kebenaranmu yang sekarang adalah suatu kesalahan yang belum kau temui.” Pun dengan kemenangan kita yang sekarang adalah hasil dari akumulasi kekalahan-kekalahan yang telah kita lalui. Bukankah kita mengerti makna sebuah kemenangan karena sebelumnya kita merasakan kekalahan? Bukankah kita bisa mengerti benar karena sebelumnya kita telah mengenal salah? “jangan-jangan kita hanya mencari suasana yang muter-muter saja.” Sambung Pak Munir. Tapi, untung saja Sang Hayyu telah memberi kita modal ‘kangen’ agar tetap hidup.

Yang bahaya jika huruf nun tadi bertemu dengan huruf dlod. Karena itu semua hanya menjadi prasangka. Seperti halnya di dalam lingungan maiyah ini, ruang maiyah adalah tempat untuk bertumbuh, bukan semata-mata dikarenakan hijrah. Di dalam maiyah, dari hasil kedaulatan berfikir orang-orang akan terbiasa ber-ijtihad serta ber-muhasabah kepada diri sendiri.” Orang yang terbiasa mencermati dirinya sendiri, nanti tidak akan mudah kaget terhadap perubahan-perubahan yang terjadi karena kita akan dibawa ke garis keseimbangan.” Lanjut Pak Munir.

Sedangkan keseimbangan itu sendiri bukan berarti kita ada di tengah, bisa sedikit condong ke kanan atau ke kiri tergantung ruang dan waktu. Setidaknya disitulah nanti peran seorang pemimpin sangat vital. Yang pasti kita sebagai orang jawa telah kehilangan ilmu niteni. Untuk lebih peka dan memperhatikan terhadap hal-hal yang sering menimpa diri kita. Entah itu dari alam atau atas akibat dari hasil perbuatan kita sendiri. Karena disamping segala hal tadi, menurut Pak Munir, manusia pada dasarnya diberi oleh Tuhan potensi sifat merusak (destruktif). Oleh sebab itu, manusia bisa dikatakan khalifah jika bisa me-manage fa’alhamaha fujuroha wa taqwaha. Setiap orang diberi mandat untuk menjadi seorang khalifah/pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri.

Dan bahkan jika para pemimpi tadi ingin menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, ia akan ketakutan karena dirinya telah terjebak dalam kekalutan sebuah kehebatan gerakan ‘masyarakat yang dipimpin dalam dirinya’. Seolah jeda nomor lagu ‘Permintaan Hati’ ini mengindikasikan bahwa para pemimpi itu sedang dalam keraguan dan kebimbangan akan kerinduan terhadap cinta, yang tak kunjung terobati. “Mintalah fatwa pada hatimu” tutur Sang Begawan jika tidak ada yang menghilangkan kebimbanganmu. Tetapi hati para pemimipi(n) itu merintih karena yang mereka temukan hanyalah kesenyapapan, seolah semua menjadi hilang dan fana’. Dan akhirnya para pemimpi(n) itu akan teraniaya oleh sunyi.

Tanya jawab kepada jamaah menjadi sesi akhir dari acara pada malam hari itu, sebelum dilanjutkan dengan lagu langka ‘Sayang Pada-Ku’ oleh Mas Sholeh yang maknanya sangat mendalam. Lalu, dipungkasi dengan menyanyikan ‘Shohibu Baiti’ bersama-sama dalam temaram. Alhasil, curian ilmu pada malam hari itu pun terasa istimewa untuk menjadi bekal kembali pulang.

25 Februari 2019

Taufan Satyadharma
(JM Maneges Qudroh)

Tulisan terkait