Menu Close

Emha dan “Mantra-Mantra”nya (Bagian 1)

10Shares

Sangat tidak berlebihan untuk menyebut Maiyah adalah “lingkaran keajaiban”. Dan definisi ajaib/keajaiban di sini pun pusparagam. Macam-macam bentuknya. Bisa berupa hidayah, keberkahan, peluang karir, enteng jodoh, rezeki moncer, dapat momongan, keharmonisan keluarga, anak sholih, kesembuhan dari penyakit, paseduluran, pertolongan, keselamatan, apalagi, silakan teman-teman menambahkan-nya sendiri.

Maiyah bukan bikinan Cak Nun. Tetapi Cak Nun tidak dapat dilepaskan dari lingkaran Maiyah. Cak Nun adalah ‘hamba pilihan’ yang dipilih Allah untuk dititipi Maiyah. Dan selama bersentuhan dengan Maiyah, saya atau mungkin juga Anda pasti turut kecipratan berkah dan mengalami sendiri seri ‘keajaiban’ hidup yang serba-serbi.

Momen ‘keajaiban-keajaiban’ yang pernah saya alami, ingin coba saya bagi. Sayang untuk dilupakan. Eman-eman jika tidak dicatat. Semoga bermanfaat.

1. Awal tahun 2015, saya dan teman-teman di desa Girimargo, kec. Miri, kab. Sragen, mendirikan sebuah Sanggar Belajar. Diperuntukkan bagi anak-anak sekolah khususnya. TK, SD, hingga SMA. Di Sanggar anak-anak belajar ngaji (baca Iqra’ & Al quran), akademik, kesenian (nyanyi, puisi, drama, teater), keterampilan, dll. Gratis, tak dipungut biaya. Pada milad pertama Sanggar, kami hendak mengadakan malam pentas seni anak. Acara tersebut digelar pada bulan Januari 2016. Namanya Januari ya hujan sehari-hari.

Saat hari-H, cuaca mendung tersaji sejak pagi hari. Meski mendung, seluruh penggiat Sanggar tetap semangat mempersiapkan segala uborampe untuk pementasan nanti malam. Dalam hati saya agak cemas dan khawatir, gimana ya kalau nanti malam hujan. Soalnya panggung berada diluar (outdoor) tanpa kajang. Kenapa kita tidak menyewa kajang, jujur dana kita terbatas. Itu alasannya. Kita menyelenggarakan acara tersebut, hanya bermodal nekat dan Bismillah. (Haha)

Siang harinya, seluruh anak Sanggar (30-an orang) saya kumpulkan. Didepan mereka saya katakan persis dengan apa yang kerap Mbah Nun sampaikan di Maiyahan.

“Hujan itu baik ndak?”

“Baiiik.” (Jawab anak-anak)

“Hujan ndak hujan, tetap Alhamdu….”

“Lillah.” (Mereka menjawab kompak).

“Pokoké Bismillah, hujan itu berkah, nggak hujan ya berkah.”

Kemudian saya mengajak anak-anak untuk melantunkan Surah Al fatihah bersama-sama, dan pada bagian kalimat Wa iyya kanas ta’in, saya memohon untuk diulang sebanyak 11 kali.

Hari telah sore, titik-titik gerimis mulai berjatuhan. Mendung gelap-pekat. Seolah menyergap seantero bumi. Ada teman mengabarkan kalau daerah selatan hujan deras. Timur juga. Barat pun demikian. Perasaan saya makin ndak karuan. Saat itu yang bisa saya lakukan ya hanya berdoa. Terus merapal Al fatihah dalam hati, sembari mendongak ke atas.

(Ya Allah, hujan adalah hadiah dari-Mu, maka kami menerimanya dengan suka cita dan tidak mungkin berani menolaknya. Namun dengan segala kerendahan hati kami memohon dengan sangat, hujan ini tolong Kau tunda sementara atau Engkau alihkan ke tempat lain yang sekiranya lebih membutuhkan)

Malam tiba, dan pentas seni dimulai segera. Suasana idum. Angin semilir pun sejuk. Hanya sesekali bulir air hujan jatuh menyentuh pori-pori. Hadirin, para tamu undangan, tokoh, sesepuh kampung, wali anak Sanggar, dan segenap warga berkumpul menyaksikan penampilan anak-anak Sanggar berekspresi. Ada yang mengaji, baca puisi, menyanyi, berpantun, drama, dan Stand Up Comedy. Oh ya, ditepi jalan juga ada orang yang berjualan. Semua yang hadir terhibur. Gelak tawa membuncah. Raut dan rasa gembira melimpah. Alam merestui, daun-daun turut bergoyang menari.

Pukul 11 malam acara pensi usai. Para penggiat bergegas merapikan alat, memungut sampah, menggulung tikar dan membereskan semuanya. Selesai beberes, teman-teman penggiat saya ajak bertandang ke rumah. Untuk makan bersama, leyeh-leyeh, sembari ngudut dan ngopi. Baru saja kami masuk rumah, hujan langsung mengguyur. Deras tak kira-kira. Allahu Akbar.

2. Dua tahun lalu (th. 2017), salah satu murid di SD tempat saya mengajar ada yang maju mengikuti Olimpiade Taekwondo tingkat Provinsi. Namanya Diah Ayu Cindrawati. Mendekati hari-H, saya berpesan kepada Ayu (sapaan akrabnya) untuk giat berlatih dan perbanyak puasa Nyenen-Kemis. Dan sepertinya Ayu melaksanakan sungguh-sungguh pesan itu. Saat hari-H pertandingan, di tengah Ayu berjiba di atas arena, selepas sholat zuhur berjamaah, saya mengajak seluruh siswa untuk mengirimkan doa Al fatihah teruntuk mbak Ayu. Bahwa doa orang banyak itu akan lebih mudah terangkat ke langit daripada doa sendiri. Begitu kira-kira analogi terkabulnya sebuah doa yang pernah saya dengar dari Mbah Nun.

Dan alangkah bungah juga terkejutnya kami, selang satu jam kami mengirim doa Al fatihah bersama buat mbak Ayu, kami mendapat kabar kalau Ayu berhasil menyabet medali emas. Ia keluar sebagai juara 1 Olimpiade tingkat provinsi dan akan maju ke tingkat nasional. Puasa dan doa benar-benar mampu “menawar” terkabulnya sebuah harapan. Wallahu’alam.

3. Suatu malam, teman sekaligus OB (Office Boy) di sekolah tempat saya mengajar, WA saya. Intinya dia minta didoakan dan diberi semacam doa wiridan. Pasalnya besok pagi ia akan mengikuti tes menjadi perangkat desa. Byuh, kon salah alamat rek njaluk dongö ning aku. Mungkin ia mafhum kalau saya sering ngangsu kawruh kepada Mbah Nun. Alhasil ia minta diberi ‘jurus khusus’ untuk di amalkan. Saya sendiri tidak berani memberikan doa wiridan apapun kepadanya, selain yang pernah saya dapat dari Simbah. Jadi saya hanya sebatas perantara saja.

“Mas, nanti jam 12 malam tet, ambil air wudhu, terus sholat dua rakaat. Setelah itu baca surah Al fatihah sebanyak anggota keluargamu. Bismillah semoga berkah.”

Kira-kira seperti itu balasan WA saya kepadanya. Dan selang beberapa hari, ia dengan senyum lebar menyalami saya, mengatakan kalau ia lulus tes dan bulan depan akan dilantik jadi perangkat desa. Alhamdulillah.

Saya tidak tahu alasan pasti yang meluluskannya. Yang pasti saya ikut bergembira mendengar kabar kelulusannya. Sekarang teman saya itu telah resign dari sekolahan, dan pindah kantor di kelurahan. Sekadar info bro, gaji dia sekarang jauh lebih besar ketimbang pendapatan bulanan saya. Luar biasa.

4. Kasus yang berikut ini masih agak mirip dengan yang sebelumnya. Teman saya juga, seorang guru beberapa bulan lalu ikut tes CPNS di kab. Sragen. Tes sesi pertama SKD (Seleksi Kompetensi Dasar) ia lolos. Meraup nilai cukup tinggi. Jarak sebulan ia mengikuti tes kedua, yakni tes SKB (Seleksi Kompetensi Bidang). Karena ini tes penentuan lolos atau tidaknya menjadi PNS, ia pun meminta doa dari seluruh rekan di sekolah, termasuk saya. Saya hanya berpesan padanya, semisal nanti menemui kesulitan atau ada soal yang sukar dikerjakan, coba baca surah Al Insyirah. Kalimat : fa inna ma’al-‘usri yusroo – inna ma’al-‘usri yusroo dibolan-baleni bro. InsyaAllah diparingi kemudahan dan kelancaran. Pesan ini saya kutip dari Simbah, dimana saya sendiri telah berulang kali merasakan faedahnya.

Usai tes, teman saya itu bercerita dengan nada mengggebu-gebu.

“Bertarung selama 3 jam dengan soal-soal itu sungguh melelahkan. Dehidrasi, tegang, dan leher rasanya kaku mbengkayang.”  katanya.

Saat dilanda frustasi dengan soal-soal yang rumit, ia pun coba membaca surah Al Insyirah sebisa-bisanya. Seingat-ingatnya. Sebanyak-banyaknya. Dan kedahsyatan ayat Allah tersebut terbukti. Teman saya itu akhirnya memperoleh nilai tertinggi dari sekian pendaftar lain di instansi SD yang dipilih. Dan kini ia tengah sibuk pemberkasan untuk persiapan pelantikan dirinya menjadi ASN (istilah baru PNS). Selamat kawan.

Realita yang tertulis diatas merupakan bentuk implementasi “keajaiban” mantra-mantra Mbah Nun dalam skala sosial. Berikutnya pelbagai “keajaiban” dalam ranah pribadi akan coba saya sajikan.

(Bersambung)

 

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait