Menu Close

Emha dan “Mantra-mantra”nya (Bagian 2)

6Shares

Dalam skala pribadi, sudah tak terhitung lagi “keajaiban” mantra-mantra Mbah Nun yang pernah saya alami. Berikut ini hanya sebagian yang masih membekas hingga hari ini.

1. Tanggal 09 September 2017 saya menikah. Maksudnya kami, saya dan istri. Tanpa pacaran, tanpa tembak-tembakan. Kenal, pepet, lamar, dan nikah (KPLN). Sepertinya sepele, tetapi dibalik itu ada sacrifice yang gedhé. Lagi-lagi mantra dari Mbah Nun yang saya gunakan untuk “guna-gunai” si calon istri.

Istri saya anak orang terpandang. Bapak-ibunya seorang guru sekaligus Pegawai Negeri Sipil. Otomatis mereka keluarga yang berkecukupan. Kaya segalanya. Sangat berbanding terbalik dengan latar belakang dan kondisi keluarga saya. Bapak dan ibu saya hanya pedagang pasar. Mohon maaf, sama sekali tidak ada maksud untuk mengecilkan profesi orang tua, atau tidak mensyukurinya. Ini sekadar untuk perbandingan saja antara taraf hidup saya dan calon istri begitu timpang. Kalau profesi atau penghasilan yang menjadi syarat utama untuk memperistrinya, maka jelas saya tidak masuk kriteria. Dan lagi calon ibu mertua saya itu terkenal galak, alot, kolot dan selektif dalam memilih calon mantu. Hal tersebut saya tahu dari calon istri saya sendiri, dan orang-orang yang mengenal dekat beliau. Jadi, ada dua tantangan besar didepan mata. Mau tidak mau saya mesti siap maju perang untuk menakhlukkan rintangan itu.

Adalah wirid La haula wala quwwata wala sulthana illa billahil’aliyyil ‘adhim, yang selalu saya rapal setiap mau berkunjung ke rumah calon istri. Menurut Mbah Nun, jika kita butuh “tenaga ekstra” untuk melakukan/ memperoleh sesuatu, wiridan saja : La haula wala quwwata wala sulthana illa billahil’aliyyil ‘adhim. Wiridan tersebut adalah bentuk cara kita memohon energi khusus atau kekuatan tambahan (sulthon) kepada Allah.

Dan puji Tuhan, atas perkenan Allah dua rintangan besar itu berhasil teratasi. Saya benar-benar tidak menduga, sesuatu yang tadinya saya anggap berat, jadi terasa mudah. Keluarga si calon istri menerima saya apa adanya bukan ada apanya. Serta ibu calon mertua yang alot dan kolot itu akhirnya luluh dan trenyuh. Lampu hijau diberikan dan anaknya berhasil saya pinang. Nyuwun sewu, bagi teman-teman yang masih tuna cinta, atau sedang suka sama seseorang, tak ada salahnya untuk mencoba wirid ini. Semangat ya jomblowan–jomblowati.

2. Speechless rasanya, ketika dokter memberitahu kalau istri saya positif hamil. Jebul aku lanang tenan (Haha). Untuk menjaga kesehatan, pertumbuhan dan keselamatan sang jabang bayi, ketika itu saya berikan air putih yang telah “disebul” Simbah kepada istri saya agar diminum. Dan syukur Alhamdulillah, selama 9 bulan masa kehamilan, istri sekali pun tidak pernah mengeluh perihal kandungannya. Saat kontrol ke dokter dan bidan semua pun baik-baik saja. Ibunya sehat, baby-nya juga sehat. Sampai kemudian bayi laki-laki itu lahir pada 01 September 2018. Setahun usia pernikahan langsung dianugerahi momongan. Nikmat Tuhan mana lagi yang kami dustakan.

3. Kejadian ini terjadi beberapa bulan lalu. Hari Minggu kami pergi jalan-jalan. Sejak pagi hingga petang. Berkunjung ke rumah eyang, belanja di swalayan, makan, dan sebelum pulang mampir sejenak di taman kota. Jam setengah enam sore kami tiba di rumah. Tiba-tiba anak saya menangis. Nangis itu bisa pertanda dia haus, ngantuk, atau capek ingin rebahan di kasur. Dikasih mimik ndak mau, diselehne kasur tambah kejer. Akhirnya saya gendhong jarik. Sembari saya lantunkan sholawat dan beberapa surat. Sudah menjadi kebiasaan, setiap menjelang maghrib si baby di gendhong dan dingajikan.

Tapi kali ini nangisnya nggak berhenti. Ibunya ganti yang menggendhong. Tetap masih rewel. Nangis sambil njerit-njerit. Alamaaak. Saya langsung merapal Al fatihah sekali, ayat kursi 3 kali, shalawat 3 kali. Saya sebul di ubun-ubun anak saya. Masih belum ngefek. (B*jind*l batin saya). Kemudian istri, saya minta juga untuk membacakan ayat Kursi. Dan tetap tak bereaksi.

Biasanya kalau dia nangis atau rewel, digendhong terus dingajikan diam. Tapi kemarin itu tidak. Setengah putus asa, kami lalu meminta Simbah Kakungnya (bapak mertua saya) untuk turut mendoakan. Naas, belum mempan juga. Tragedi tangisan dan jeritan itu berlangsung kurang lebih satu jam lamanya. Sampai anak saya muntah-muntah. Sumpah, ndak tegel melihatnya. Ya Allah, dengan cara apalagi ini…

Saya baru ingat, pas jalan pulang tadi kami melewati area makam/ kuburan. Apa ada yang nemplek di tubuh anak saya ya? Duh! Kecurigaan itu pun sama dirasakan oleh istri saya.

Akhirnya jurus percaya nggak percaya itu saya keluarkan. Anak saya yang nangis di gendhongan ibunya itu saya pandangi matanya dalam-dalam, dan saya usap-usap lembut kepalanya.

“Hey, siapapun kamu yang nemplek atau nempleki anakku, metuo. Lungo! Kalau sampek nggak mau pergi, sekarang juga tak kandakne Mbah Nun. Anak ini cucune Mbah Nun. Sampeyan ojo macem-macem!”

Tak berselang lama, percaya nggak percaya, tangisnya reda. Mimik wajahnya berubah cerah. Perlahan, sedikit demi sedikit bibirnya mengembang. Ya Salaam. Kami pun turut tersenyum lega. Jin manapun kéder mendengar nama Mbah Nun.

4. Musim pancaroba menyebabkan daya tahan tubuh turun. Drop seketika. Januari kemarin kami mengalaminya. 4 hari saya dilanda flu, batuk, pilek. Menjelang sembuh, gantian istri saya yang tumbang. Gebras-gebres. Awak rasane gembreges, sambatnya. Setelah di keroki, dan diblebeg jeruk anget berhari-hari, kondisi istri saya beranjak pulih. Setelah kami berdua kembali sehat wal afiat, giliran anak saya yang panas. Sering muntah, rewel, dan setiap malam ‘gak nurokke blas.

Tiap panas, leher dan dadanya diolesi parutan brambang (bawang merah). Ada juga brambang yang dirajang, lalu ditaruh di piring, diletakkan diatas kasur dekat si dedek tidur. Tujuannya untuk menyerap virus-virus jahat. (Jarene Mbah-mbah mbiyen begitu, kita sih nurut saja)

Upaya medis juga kami tempuh. Dedek bayi kami periksakan ke dokter anak. Berbagai jenis obat dikasih. Ada obat sirup, ada juga yang puyer. Dan uniknya, anak saya itu pleg nurun bapaknya. Ora doyan obat (Haha). Setiap kali dimimiki obat, langsung dimuntahin. Terus kepriben iki.

Setelah 4 hari 4 malam dek bayi tak kunjung sembuh (masih rewel terus), saya berinisiatif menghubungi mas Helmi Mustofa (Redaksi caknun.com). Mengabarkan kalau anak saya beberapa hari ini sedang kurang enak badan. Melalui mas Helmi pula, saya memohon agar Mbah Nun berkenan mendoakan untuk kesembuhan anak saya.

“Turut mendoakan mas. Kebetulan saya tidak sedang bersama Simbah. Tapi beberapa waktu lalu, Simbah memberi wirid saya (bisa untuk siapa saja), salah satu  doa yg perlu dibaca adalah: la ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadl dholimin. Baca sebanyak-banyaknya mas, disertai shalawat. Semoga ananda lekas sembuh”. (Balasan WA mas Helmi kepada saya)

Tanpa pikir panjang, saya ambil air wudhu lalu mewiridkan kalimah thayyibah : la ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadl dholimin, tepat di samping anak saya yang mulai terlelap. Sebanyak-banyaknya, sekuat-kuatnya. Tak lupa disertai shalawat berulang-ulang kali.

Subhanallah, malam itu dek bayi bisa tidur pulas, tidak rewel, tidak polah, dan hanya sesekali nglilir karena haus minta minum.

**

Dari pelbagai peristiwa ‘keajaiban’ mantra-mantra Mbah Nun yang tersaji dalam realitas kehidupan, ada beberapa poin keilmuan yang dapat kita serap dan catat.

Pertama, yang disebut keajaiban itu hanya berlaku pada manusia. Sedangkan bagi Tuhan tidak. Tidak ada hal yang ajaib di Mata Tuhan. Sebab segalanya mudah bagi-Nya. Tinggal Kun, langsung fayakun. Dengan kata lain Tuhan adalah “Pabrik Keajaiban”, sedangkan manusia ada yang berperan sebagai agen, reseller atau sekadar konsumen keajaiban.

Kedua, bahwa ‘kasekten’ atau ‘keajaiban-keajaiban’ mantra-mantra Mbah Nun bukanlah isapan jempol belaka. Bukan omong kosong, klenik, mistik, magi, atau bualan semata. Kenapa air yang disebul Simbah itu berkhasiat, kenapa jin-setan-gundul prengingis ngacir ketika hendak diadukan ke Mbah Nun, juga kenapa banyak hal yang diwejangkan Mbah Nun kerap mandi, ampuh dan kedaden? Kesemua itu bukan sim salabim. Melainkan dibangun oleh komposisi, akumulasi, laku hidup, repetisi unsur-unsur tertentu yang berasal dari diri Mbah Nun, kita (Jamaah Maiyah khususnya), maupun dari keberlangsungan komunikasi, internalisasi, kesalingpercayaan, ujian-ujian intensitas, dan waktu.

Mbah Nun, disamping seorang ‘wali’ (hamba kinasihnya Allah), adalah juga seseorang yang nglakoni. Sejak kecil, Mbah Nun sudah digembleng oleh romo dan biyungnya untuk nglakoni urip prihatin. Poso, dan mensodaqohkan hidupnya untuk tulung tinulung. Mbah Nun beserta keluarga besarnya mengakumulasikan dan merepetisikan pelbagai macam kesalehan, kemuliaan, totalitas cinta kepada sesama dan Tuhan. Hablumminallah dan hablumminannas-nya beres. Sampai kemudian Mbah Nun dan komunitas Maiyahnya, menciptakan suatu komposisi energi dan kekuatan yang pada bagian-bagian tertentu merupakan “Suara Tuhan”. Komunikasi Simbah dengan Allah sudah sedemikian “sehari-hari” sifat dan bahasanya. Mbah Nun sudah setingkat derajatnya dengan sebatang pohon, atau sebongkah intan. Artinya beliau tak punya kehendak apapun, kecuali persis seperti yang Allah kehendaki. Sehingga Mbah Nun mendapat akses khusus untuk melakukan negosiasi, tawar menawar, atau transaksi sesuatu hal.

“Saya ini bukan orang hebat. Ora sekti, ora ampuh, ora iso opo-opo. Allah itu hanya ndak tegaan sama saya. Jadi, karena Engkau yang membawa mereka datang kepadaku, maka pasti Engkau pulalah yang memenuhi hajat mereka semua.”

Begitu kira-kira bahasa kerendah hatian Mbah Nun yang kerap diutarakan kepada kita.

Yang ketiga, selama ini yang kita sebut makrokosmos adalah jagat raya—alam semesta beserta seluruh isinya. Pendapat ini tidak salah. Namun coba kita melihat dari sudut dan jarak pandang lain. Berdasar rangkaian kejadian (keajaiban mantra-mantra Mbah Nun) yang pernah saya alami, saya menemukan satu perspektif baru mengenai term makrokosmos.

Coba perhatikan lagi, kisah dimana anak saya sedang ketemplekan atau saat dia sakit panas. Ketika hati saya madep-mantep menyebut nama Mbah Nun dan yakin jin jahat tersebut bakal minggat, maka yang terjadi adalah demikian.

Begitu pula pada kasus anak saya sakit. Tatkala saya mewiridkan : la ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadl dholimin, dibarengi sholawat, hati saya pun percaya, yakin sepenuhnya (suggesty), setelah ini dedek bayi akan pulih, membaik, ndak rewel lagi. Dan terbukti. Malam itu dia tidur nyenyak sekali.

Berangkat dari peristiwa itulah, maka menurut saya (sangat mungkin saya bisa salah) hati adalah makrokosmos itu sendiri. Semesta hati melebihi besar dan dahsyatnya makrokosmos alam semesta.

Maksud saya begini, ketika hati ini haqqul yakin terhadap A, maka besar kemungkinan yang terjadi adalah A. Proses kerjanya adalah saat hati percaya, temenan dan  bersungguh-sungguh pada A, maka para malaikat, alam semesta dan seluruh instrumen-nya akan mendukung (Mestakung = Semesta Mendukung), mendorong, bersinergi, saling bahu membahu, mengantar A ke meja Tuhan, agar A diwujudkan. Dan A pun terjadi.

Dengan demikian, hati adalah “makrokosmos” yang potensinya luar biasa, yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia. Kekuatan “makrokosmos” hati mampu ‘menyetir’ dan mempengaruhi makrokosmos alam semesta. Serta dapat mengajaknya (alam semesta) untuk bekerja sama. Jadi kalau hati ini yakin bisa ya bisa. Kalau hatinya bersungguh-sungguh ingin sembuh ya sembuh, dan seterusnya. Juga yang pasti itu semua tetap bergantung dan tak lepas pada iradah-Nya.

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait