Menu Close

Nyiken Dinner di Tahun Politik

10Shares

Enemies a head!”

Mata Mat Soak mulai melotot mendengar tanda bahwa kawan satu timnya menandai musuh. Jari-jarinya mulai menegang. Isi kepalanya mulai berputar-putar memikirkan langkah selanjutnya yang ia pilih. Langsung menyerang, atau hanya sekedar mengawasi. Kalau menyerang, bagaimana strategi menyerang yang efektif sedangkan keputusan itu harus diputuskan secepatnya. Tiga orang kawannya  menaruh kepercayaan akan semua keputusan yang ia ambil karena ia sebagai team leader.

“Jangan menembak dulu, Team”, kata Mat Soak kepada teamnya.

 Ia menghirup nafas sedalam-dalamnya. Jantungnya berdegup kencang dan ia tidak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya. Ia memberikan instruksi kepada teamnya untuk mengawasi keadaan di setiap penjuru untuk memastikan bahwa tidak ada musuh lain di sana. Ia masih mengamati musuh yang ada di jarak 100 meter di depannya dengan bantuan Scope 4x. Matanya tidak berkedip sama sekali mengamati musuh yang sedang asyik looting di salah satu rumah di Sahmee.

Strategi yang ia diskusikan dengan timnya harus dilakukan sebaik-baiknya. Penguasaan ruang, dan mencari posisi seaman mungkin untuk survive sampai late game. Sebenarnya banyak sekali opsi yang harus dipilih sejak turun dari pesawat. Turun di daerah ramai atau di daerah sepi dengan resiko loot terbatas. Begitu juga dengan cara bermain di game battle royal ini, playing rush atau playing safe. Tidak membunuh lawan bisa meraih kemenangan walaupun harus menguasai keadaan sedetail mungkin dan skill yang mumpuni. Begitu juga dengan playing rush. Antar skuad saling membunuh dengan berbagai cara untuk meraih Winner Winner, Chicken Dinner  bak kubu politik yang berusaha menjatuhkan oposisinya.

Seperti di  tahun politik ini, masyarakat dihadapkan dengan dua pilihan. Nomor satu atau nomor dua yang sama-sama sedang berjuang meraih kemenangan dengan cara playing rush. Masyarakat seakan-akan disempitkan pemahamannya, dikerdilkan mentalnya agar tidak play safe dan berdaulat untuk memilih pilihan terbaiknya sendiri. Kedua kubu yang sedang bertarung khawatir kalau target suaranya bisa survive sampai late game politik tanpa bermain membabi buta, bahkan sampai saling membunuh.

Sebenarnya tanpa masuk salah satu kubu pun kita masih dapat hidup, asalkan Allah meridhai. Menempatkan posisi semoderat mungkin, menguasai keadaan dan berdaulat atas dirinya sendiri itu cukup untuk menjalani roda kehidupan. Ada yang bilang jika tidak golput maka akan mencegah yang buruk berkuasa. Lha nek kabeh padha eleke piye? Kan ya mending gak milih!

Lamunan Mat Soak buyar ketika timnya melapor dalam waktu hampir bersamaan. Setiap penjuru clear, aman dari musuh yang lain. Mat Soak kembali menghirup nafas dalam-dalam lalu menginstruksikan teamnya untuk menyerang. Teamnya segera bangkit dari rerumputan dan berlari layaknya harimau yang sedang mengejar mangsanya. Melihat semua kru lawan ada di dalam rumah,  Mat Soak dan Kangdi melakukan flank ke rumah sebelah kanan target untuk mencegah tim lawan melarikan diri dari granat yang akan dilemparkan Sonde. Jiman menempatkan posisi di balik pohon yang tidak jauh dari rumah target. Ia menyiapkan M24, sebuah sniper bolt-action riffle yang ia peroleh saat looting di Na Kham. Dengan hati-hati, ia mulai membidik salah satu kepala musuh yang terlihat di jendela. Ketika tarikan nafasnya sudah mencapai dada yang paling dalam, ia meluncurkan peluru 7,62mm dan menembus kepala target yang hanya memakai helm level 1.

Knock!!

 Tim lawan panik, terlihat beberapa kali kepala berseliweran dari dalam rumah. Suara langkah kaki terdengar jelas di telinga Sonde yang sudah menempatkan posisi di sebelah kiri rumah target. Ia melemparkan granat ke rumah target melalui jendela dengan timing 2 detik. Granat masuk ke dalam rumah dan menewaskan satu kru musuh yang knock karena headshot dari Jiman. Satu kru musuh ada yang knock karena kemungkinan ia sedang melakukan revive temannya, sedangakan dua lainya berlari melompat jendela menghindari arah datangnya granat dan peluru M24.

Mat Soak dan Kangdi menyadari itu. Dengan persiapan dan posisi yang menguntungkan, mereka menyergap dua musuh yang sedang keluar dari rumah. Uzi yang dibawa Mat Soak memberikan serangan pertama yang membuat tim lawan kaget.  Tidak sampai 30 Peluru,  Uzinya Mat Soak dan AKMnya Kangdi sudah mampu menumbangkan dua kru musuh. Kemungkinan kedua musuh tersebut sudah dalam kondisi terluka karena damage yang dihasilkan oleh granatnya Sonde.

Mat Soak bernafas lega. Segera timnya looting perlengkapan sesuai dengan kebutuhan.

“Andai mereka ini sekelompok orang yang mengharamkan game dan mengharamkan golput”, kata Mat Soak sambil tertawa.

Athar Fuadi

Boyolali, 28 03 2019

Tulisan terkait