Menu Close

Surat dan Doa Untuk Mbah Nun

0Shares

Mbah, maafkan anak cucumu ini yang masih sedikit sekali mengerti tentang makna kehidupan. Antara puasa dan hari raya kami masih ambigu. Antara lapar dan kenyang kami masih tertipu. Antara hukuman, ujian, peringatan dan bombongan dari Allah kami masih belum memahami dengan benar. Ngegas dan ngerem kami pun sering kali tidak tepat waktu. Dan antara dihina atau direndahkan oleh orang lain pun kami juga masih selalu emosi.

Namun, bersama panjenengan kami selalu belajar agar memahami dan mempelajari itu semua. Panjenengan membekali ilmu yang jarang sekali kami dapatkan di sekolah, di universitas maupun di tempat lain. Teruslah temani kami untuk selalu menjadi ruang untuk menampung siapapun disekitar kami. Meskipun umur panjenengan selalu bertambah, panjenengan tidak sedikitpun merasa cemas untuk selalu menebar kebaikan, keindahan dan kebenaran. Bahkan tidak peduli hujan lebat, panggung mau ambruk, sampai listrik padam pun, panjenengan dan KiaiKanjeng tetap melanjutkan Sinau Bareng bersama masyarakat dari berbagai latar belakang.

Di tengah-tengah kegaduhan negeri ini, panjenengan tidak henti-hentinya keliling bersama Kiai Kanjeng di berbagai desa untuk membesarkan hati kami. Mengajak kita seluruh jamaah Maiyah mensholawati dan mengalfatehahi Rasulullah Saw. Lalu mengajak kami memanjatkan Doa Tahlukah dan Hizib Nashr untuk memohon pembatalan penghancuran di segala penjuru negeri ini. Tidak peduli penilaian orang lain terhadap panjenengan dan Maiyah terus berupaya Sinau Bareng bersama panjenengan dan KiaiKanjeng. Sungguh cinta panjenengan telah meluas dan mendalam. Menemani siapa saja yang memiliki kerinduan. Tidak peduli siang dan malam engkau berjalan berbekal kasih sayang tanpa melukai dan menyakiti siapapun.

Di sinilah tempat kami belajar bersama panjenengan dan Kiai Kanjeng. Tidak ada sekat antara laki-laki dan perempuan. Semua menjalin persaudaraan dan merangkai silaturahmi dengan kanan kirinya. Belajar mengenali manusia dari berbagai latar belakang. Semua belajar memanusiakan manusia dan tidak merendahkan manusia satu dengan yang lainnya. Dan bersama-sama menimba ilmu kepada panjenengan.

Mbah, kami selalu rindu Sinau Bareng bersamamu dan KiaiKanjeng. Maafkan anak cucumu yang hanya bisa berdoa untuk panjenengan dan keluarga panjenengan, semoga Allah akan terus menemani setiap langkah dan perjalanan panjenengan dan keluarga panjenengan. Mugi sehat lan rahayu Mbah Nun. Amin

Wonogiri, 9 Mei 2019

Galih Indra Pratama

Tulisan terkait