Menu Close

Suluk Terang Benderang

0Shares

11 Mei 1998, di Jombang malam hari,  dalam suasana yang sangat khusuk, ditengah berbagai gejolak yang menerpa seantero negeri berlangsunglah sebuah kumpulan, sebuah pengajian yang diberi nama Padhangmbulan. Jika kemarin simbah memberi perintah (amar) untuk membacakan Hizb Nashr, malam itu (11 mei 98) ibunda dari Mbah Nun sendiri yang membacakan Hizb demi keadaan darurat Indonesia kala itu. Jadi silahkan dinilai sendiri pertimbangan-pertimbangan tentang amar maiyah dalam kondisi yang sama sekali carut marut tidak karuan.

Lalu paginya, di hari yang sama diedarkanlah selebaran terang benderang. Bagaimana Cak Nun dan Padhangmbulan turut mengambil sikap serius dalam berbagai pergolakan yang terjadi, bagaimana sudah sejak jauh-jauh hari didengungkan habis-habisan soal kondisi negeri, berkali-kali dikirim ke surat kabar namun tak dimuat, atau discreening tidak berani memuat semua kritik yang disampaikan Cak Nun.

3 tahun sebelum Mei 1998, tanggal 21 April 1995 jauh sebelum aksi mahasiswa meledak Cak Nun menyampaikan kritik pedas berjudul Titik Nadir Demokrasi, di Benteng Vredenburg Yogyakarta. Dan masih banyak hal lain yang media tidak muat.

Hingga hari ini sudah 21 tahun Padhangmbulan berlangsung, dan keadaan semakin terang benderang. Kritik secara pengecut dilontarkan kepada Cak Nun di media sosial, setingan-setingan adu domba dibuang ke khalayak publik yang malah semakin malas kroscek atas kebenarannya dari sumber-sumber primer, kondisi yang tercipta justru tak mengurangi sikap anak-anak maiyah dalam menyampaikan cintanya kepada Allah, kepada Nabi-nabi dan Mbah Nun.

Lengkap sudah ketika tajuk hari ini menyeret ulak-alik sadar saya pada lakon Dewaruci, dimana Bima harus menemukan kayugung susuhing angin (kayu agung di tengah pusaran angin), atau Tirta Pawitra Sari mencarinya air di dalam samudera. Paling tidak akhirnya core of the core ini merupakan ilmu lama yang terpahat di dinding Candi Sukuh pada abad 14. Atau Cak Nun sebagai guru pernah mengungkapkan dalam bahasa romantis, yang lebih luas dari guyuran hujan lebat itu adalah ruang-ruang di sela air hujan itu sendiri, cuman kita seringkali direpotkan oleh lebatnya hujan tanpa menyadari ada sudut lain, yaitu keluasan.

Topo Ngrame, ini yang saya bilang tadi mengulak-alik kesadaran. Bahwa di Maiyah dan harus menjadi PR bagi semua JM adalah bagaimana untuk terus menjadi pejalan sunyi di tengah ramainya dunia. Ya seperti Bima dalam lakon dewa ruci tadi, dalam aplikasi dan realitas yang berbeda.

Bagaimana tetap tenang, dan seimbang dalam menghadapi segala perubahan, bahkan dalam semua gejolak hidup, zaman atau dalam setiap berbagai permasalahan kecil sehari-hari.

Untuk 3 tahun Suluk Surakartan, harus saya tuliskan bahwa ini PR besar untuk semua JM agar terus menerus bertumbuh kewaspadaannya seiring berjalannya waktu nyemplung di Maiyah.

Mungkin adakalanya memang hati lagi penat, maiyah memang selalu tersaji bagai oase. Namun tidak boleh berhenti di situ, seperti orang tapa ngrame  menjadi pejalan sunyi tidak hanya berhenti pada mencari ketenangan di tengah riuh, tapi juga harus memberi manfaat kepada siapapun yang membutuhkan. Topo Ngrame itu ibarat terjun ke medan bencana. Dimana-mana orang minta tolong, dimana-mana orang berteriak minta paling pertama ditolong, sudah tidak ada waktu bagi kita untuk memikirkan diri sendiri mau tidak mau harus siap bertanding dan bertandang dengan penuh kewaspadaan, juga ilmu yang penuh keluasan serta menjaga kejernihan berfikir dalam keseimbangan.

Semoga terus mampu berjalan tegak dalam batas dan kadar kekuatan yang jelas yang Tuhan kepada kalian semua.

Selamat Milad Suluk Surakartan, semoga terus menjadi terang yang harus benderang.

Kleco Wetan, 11 Mei 2019

Indra Agusta

Tulisan terkait