Menu Close

Memproduksi Ajibah Cinta

0Shares

“Pertanyaannya adalah buat apa keajaiban itu?” Mas Sabrang mulai memberikan pernyataan awalnya kepada para Jamaah Suluk Surukartan malam ini. Menggambarkan beberapa moment spesial dalam rangka ulang tahun ketiga Suluk Surakartan yang terjadi dalam serangkaian acara tadi, entah sholawatannya maupun prosesi potong tumpengnya. Dengan tema yang cukup menarik, yaitu ‘Ajibah’ yang berarti mukjizat atau keajaiban.

Untuk menjawab pertanyaan Mas Sabrang tersebut kita mesti memahami dulu makna keajaiban. Apa, siapa, dimana keajaiban itu terjadi pasti terikat oleh ruang dan massa waktu tertentu. Ajaib itu sendiri tak lantas datang begitu saja, kecuali memang diluar batas logika atau nalar. Karena keajaiban sendiri datang dari suatu yang tidak biasa dan datang dari sesuatu yang tidak mudah. Biasanya butuh naluri istiqomah yang tinggi dimana untuk mendapatkan kesadaran istiqomah itu sendiri tidak mudah.

Kita sebagai insan kamil pun sebagai seorang khalifah pasti memiliki identitas dengan berbagai macam spesifikasi yang berbeda-beda. Untuk mencapai keajaiban itu sendiri, kita mesti menyadari spesifikasi diri kita masing-masing beserta kelebihannya atau yang biasa disebut fadhillah. Fadhillah ini sering disebut bakat dalam pemaknaan selama ini. Dalam perjalanan menemukan sendiri manusia biasanya hanya menilai pada bakat yang melekat pada seseorang. Namun, menurut Mas Sabrang jika tolak ukurnya adalah bakat, maka hal tersebut tidak bisa akurat. Karena bakat itu sendiri hanya diakui pada satu titik rentang waktu atau zaman itu.

Di dalam dunia pendidikan kita mesti dilatih untuk mencari bakat yang tepat. Dalam suatu perlombaan pun selalu memfokuskan kepada apa yang menjadi bakat. Mas Sabrang sendiri menyatakan bahwa yang utama dilihat jangan bakatnya, melainkan seberapa manfaat fadhillah tersebut terhadap lingkungan sekitarnya. Jangan terlalu mudah terjebak untuk fokus hanya kepada isim. Kemudian Mas Sabrang menjelaskan urutan untuk mengenali fadhillah diri. Yang pertama, cobalah untuk ‘memegang’ suatu tanggung jawab; kedua, ‘bisa’ gak melakukan tanggung jawab tersebut?; ketiga, lantas ‘mau’ tidak melakukannya?

Seperti apa yang disampaikan oleh Mas Aji Kojjek pada awal acara bahwa menurutnya fadhillah (bakat) mesti sudah ditemukan sebelum usia 30. Namun, sedikit penjelasan Mas Sabrang diatas setidaknya membuat kita bisa memaknai jika fadhillah sendiri tidak hanya terbatas dengan bakat. Itupun tidak semuanya bisa menyadari apa yang menjadi bakatnya dan masih banyak kebingungan mesti fokus pada apa. Karena mereka kurang berani memegang tanggung jawab. Kehidupan zaman sekarang ditambah bermacam-macam tendensi yang nggandul di kepalanya membuat manusia sebelum usia 30 masih belum bisa niteni apa yang menjadi fadhillahnya. Sehingga mereka lebih memilih ‘aman’ daripada mesti memegang tanggung jawab ketidakjelasan masa depan.

Sesi tanya jawab pun selalu terbuka dalam gen sinau bareng ini. Salah satunya mengenai tentang salah satu jamaah yang sadar dengan keadaan sedang dimanfaatkan. Mas Sabrang langsung memberikan jawabannya, “Anda dicurangi karena ketidaktahuan atau ketidakhati-hatian anda. Atau karena anda iri karena dia mendapat rejeki lebih? Kalau memang anda dicurangi, dicari akarnya terlebih dahulu. Kalau memang Si dia ini curnag, anda punya kewajiban menyelamatkan dia dari kecurangan tersebut. Ketika konsepnya disini adalah ‘sayang’ antar sesama manusia. Jadi, jangan terlalu mudah sakit hati.

Dalam keadaan apapun, kita mesti menyadari limitasi dalam hal membayangkan Tuhan. Kalau angan yang datang menyapa pikiran kita bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah, tentu saja gapapa. Asalkan, poin yang terpenting adalah jujur terhadap dirimu sendiri. Begitu juga dengan pertanyaan jamaah mengenai cara agar doa dikabulkan. Mas Sabrang menjelaskan bahwa kita mesti khusnudzon kepada Tuhan ketika doanya tak kunjung dikabulkan adalah Tuhan lebih tau apa yang baik bagimu disaat justru doa itu tak dikabulkan. Serahkan pada Tuhan apa yang terjadi pada diri kita. “Urusan tidak tercapai bukan berarti Tuhan tidak sayang kepadamu” pungkas Mas Sabrang.

Sedikit kesimpulan dalam proses sinau bareng malam ini adalah kita sebenarnya mampu dan bisa memproduksi ajibah/ keajaiban itu, asalkan kita berani mulai memegang tanggung jawab dan fokus pada pilihan tersebut. Dari tanggung jawab itu lalu kita lihat respon orang-orang disekitar kita atas tanggung jawab yang kita pilih. Jika itu merupakan pujian, bisa jadi kamu telah menemukan fadhillahmu atas dasar penilaian masyarakat sekitar yang mungkin telah merasakan manfaat dari apa yang kamu tekuni. Dan yang terakhir, kita mungkin bisa lebih banyak memaknai ajibah-ajibah yang datang, yang ternyata banyak sekali. Selama ini, mungkin kita memaknai keajaiban sebagai sesuatu yang jarang dan hampir mustahil. Terlebih jika kita memandangnya dengan cinta. Bukan tidak mungkin kita bisa suatu saat memproduksi ajibah atau keajaiban cinta tersebut.

Nomor lagu Ruang Rindu dan Sebelum Cahaya menjadi kado yang spesial untuk Suluk Surakartan di penghujung acara malam hari itu. Semua hanyut melantunkan nyanyian dalam hangatnya kebersamaan. Kadang-kadang keinginan datang karena kebodohan. Ketika yang dituntut adalah pengetahuan.

Lantas kalau sudah tercapai, kamu mau apa? Yang harus dilawan adalah nafsu akan kebenaran diri sendiri. Yang perlu diingat sebelum beranjak kesana, kamu akan mengalami beribu ketakutan akan kesalahan yang akan menimpa dirimu.

Sugeng ambal warsa kagem sedaya sedulur Suluk Surakartan, semoga selalu diberikan naluri untuk beristiqomah dalam menyebarkan kasih sayangnya kepada semesta raya. Amiin.

Solo, 24 Mei 2019

Taufan Satyadharma
Jamaah Maiyah Maneges Qudrah

Tulisan terkait