Menu Close

Selaksa di Banawa Sala

0Shares

Catatan merayakan Suluk Surakartan – Bagian 2

Nasi Kembulan dimakan lahap, thelap-thelep beberapa suara kecap bibir jamaah terdengar disela sela ruang. Memenuhi resonansi lainnya yang ditangkap dari karpet berwarna hijau muda serta yang memantul bersama hiasan dinding dari kubus-kubus kecil kayu, disitulah muara-muara nada bapak-bapak dari Selaksa mendendangkan lagunya.

Tentu karena didendangkan di Bumi Surakarta, lagu legendaris karya maestro keroncong Mbah Gesang wajib dialunkan. seperti kompilasi lezat antara kudapan hangat, ingkung, dengan bau tipis daun pisang lengkap sudahlah hamparan – hamparan nada. Bengawan Solo.

Mata airmu dari Solo….

Terkurung gunung seribu…

Air mengalir sampai jauh…

Dan akhirnya ke laut….

Pikiran saya menerawang jauh melintasi  cakrawala, mungkin seperti The Third Eye Raven di Bran “broken” di Game of Thrones itu. Sebagai seorang penjelajah saya cukup tahu dimana muara-muara sungai, terutama sungai yang bernama Ci-Wulayu di era lampau itu.

Gunung Seribu (gunung Sewu) seperti yang dituliskan Mbah Gesang, terletak di Wonogiri sekarang, dulu tanah dimana muara-muara air itu bermula merupakan wilayah dari Kasunanan Surakarta. Nglaroh istilah masa itu, dimana perbukitan yang sebelah-menyebelah waduk Gajah Mungkur sekarang ini merupakan medan perbukitan yang menjadi tempat perburuan babi hutan maupun kijang Raja-Raja Mataram di masa lampu, meski tradisi perburuan kini juga terus dilanjutkan oleh kawan-kawan saya yang tergabung di PERBAKIN.

Perbukitan Wonogiri memang ideal untuk hidup satwa semacam Babi Hutan dan Kijang, selain dari hutan-hutan perdu menghasilkan kubangan air, juga medan yang sulit membatasi manusia untuk menghilangkan total hingga menyebabkan kepunahan bagi satwa, mungkin pembukaan hutan menjadi lahan inilah yang menyebabkan ekosistem sedikit berubah fungsi dan babi hutan pada malam purnama sering menyambangi ladang-ladang untuk mencari makan.Overpopulasi terjadi, lahan yang menjadi tauhid penghidupan masyarakat di perbukitan Wonogiri terancam oleh Babi, dari sinilah tradisi perburuan itu menjadi legal karena sudah menjadi hama bagi pertanian.

Dari ribuan bukit-bukit yang tersebar inilah air-air itu mengalir menjadi Bengawan Solo. Terus mengalir melintasi desa Sala hingga berakhir dilaut, seperti petikan Banawa Sala  yang ditulis oleh Bupati Bojonegoro,  Raden Arya Reksakusuma, 1916.

“Kajawi ingkang sampun kasêbut ing dalêm gambaring kapuloan Indiya Nèdêrlan, bab ilining lèpèn utawi banawi ing pulo Jawi, kula têrangakên malih bab ilining Banawi Sala, wiwit saking tukipun residènsi Surakarta ngantos dumugi anjog wutahipun dhatêng sêgantên Jawi salèripun supitan Madura.”….

Dan dari syair-syair ini sang Maestro juga ingin menitipkan wasiat untuk menjaga sungai dari berbagai macam pencemaran yang semakin massif akhir-akhir ini. Bagaimana ‘gerak memunggungi sungai’ ini terus menerus mengancam kehidupan dimasa depan. Akhirnya saya kontemplasikan ke kawan-kawan lagu ini memang lagu tapi tak sekedar lagu, berbagai nilai filosofis didalamnya ada terdapat makna-makna.

Sebagaimana Bengawan merupakan kehidupan, juga pasti adalah ancaman jika tak merawatnya, bukankah demikian pula dengan aliran-aliran kebijaksanaan yang diterima dari mata air maiyah, apakah akan diteruskan untuk kemudian dicemarkan oleh berbagai kepentingan, atau kita yang menjaga terus kemurniannya untuk kehidupan juga penghidupan anak cucu.

Dan Alunan keroncong bapak-bapak Selaksa, membawa saya pada kenangan lebih lampau akan masa lalu juga akibat-akibat dimasa mendatang, di kala wajah mitigasi bencana masih menjadi hal yang minor dari pengamatan, karena selebrasi terlalu ramai justru ketika bencana berlangsung. Dan manusia-manusia ingin panggung riuh di podium kesengsaraan rakyat.

Kembulan saya sudah mulai habis, saya pun mencuci tangan dari air yang jernih yang mungkin juga bermuara dari bukit-bukit yang sama dengan Bengawan Sala. Banawa selaksa-laksa yang dulu diceritakan ramai hilir mudik itu sudah tidak ada, semoga tidak terjadi bena (banjir).

Lereng Bengawan Solo,

Kentingan 25 Mei 2019
Indra Agusta.

Tulisan terkait