Menu Close

Membaca Mas Sabrang, Sebuah Harmoni dan Kewaspadaan

0Shares

Catatan Merayakan Suluk Surakartan –  Bagian 3 (tamat)

IDENTITAS
Manusia adalah entitas unik dengan beragam karakter juga segudang persepsi. Memulai hidup setelah keluar dari rahim, mengembangkan syaraf-syaraf, menumbukan fisik, tulang belulang serta sistem-sistem lainnya. Prosesnya pun beragam ada yang dikaruniai kesempurnaan dan ada yang dikaruniai kesempurnaan lainnya yang seringkali hanya kita labeli dengan cacat/keterbatasan. Hingga dalam perjalannnya manusia membawa sesuatu yang asli sejak lahir, sisi lainnya manusia juga terbawa oleh pengaruh-pengaruh informasi dari luar yang berujung pada kecenderungan-kecenderungan. Perubahan-perubahan inilah yang kemudian kita kenal dengan identitas. Yang dibawa sejak lahir, kita kenal istilah personalitas.

Personalitas adalah kemampuan yang kita bawa sejak dari dalam rahim, Cak Nun pernah menuliskannya sebagai perjanjian sebelum dilahirkan lalu memori kita akan dihapus sejak sebelum kita lahir, namun kemampuan-kemampuan itu terpendam menunggu waktu serta kesiapan individu dalam membukanya, kesiapannya tentu tak lahir tiba-tiba harus ada trigger tertentu untuk meledakkannya. Bakat sebagai bagian dari personalitas adalah yang paling gampang ditemui meski tak gampang juga membongkarnya dari dalam diri.

Proses mengenali diri sendiri bisa lewat berbagai ujicoba kecenderungan, melakoni berbagai laku kehidupan, kemudian meraba-raba apa yang sesuai dan suka menjalaninya, karena senang menjalani sebuah atau beragam bidang adalah awal dari ekspertasi, variabel lainnya adalah proses kelahiran itu sendiri pada musim, tanah, kebudayaan, dan tradisi-tradisi yang secara otomatis kita akan lebih complement dalam mempelajarinya daripada kebudayaan lain.

Seperti orang barat yang akan susah payah mengenali rasa pangrasa dalam setiap tata bahasa jawa, atau struktur musikalitas gamelan yang liar dan kurang pakem bagi orang barat karena memang tak mengenal pola sekaligus ledakan spiritualitas dibalik berbagai bunyi gamelan, hingga akhirnya kita sebagai orang Jawa yang lekat dengan tradisi secara genetika lebih siap mengenal dan mempelajarinya secara utuh. Demikian soal kebudayaan demikian pula soal darah yang mengalir. Tapi ironisnya itu juga kan yang sengaja dihapuskan oleh arus globalisasi?

Mas Sabrang, adalah salah satu orang yang mempopulerkan istilah personalitas-identitas di masyarakat terutama di orang-orang yang sering maiyahan. Dari kuda-kuda inilah sebenarnya langkah awal untuk mengenali diri, memilah-milah mana yang otentik asli dari dalam diri dengan kencenderungan alamiah, mana yang karena keadaan atau desakan lingkungan yang akhirnya mengubah atau terpaksa mengubah diri kita demi sebuah kebutuhan.

Selain personalitas malam ini diulang kembali bahwa tidak mudah untuk menundukkan rasa paling benar, atau mengakui salah bagi semua manusia, karena yang terjadi dialam berfikir kita default-nya akan lebih mudah mencerna penerimaan-penerimaan daripada penolakan-penolakan.

Dalam kata lain jika kita sedang memakai Identitas, bisa sangat merubah hal-hal jika kita melepaskan identitas dan menjadi diri kita sendiri secara personalitas. Bahkan dengan memanggul sebuah identitas kita bisa menjadi sangat gengsi untuk meminta maaf jika pendapat kita ternyata salah, dan bisa dibantah.

Sebagai contoh misalnya seseorang kenal saya sebagai manusia biasa mungkin bisa menegur langsung jika ada kesalahan dalam mengutarakan sesuatu, dalam bertindak tapi akan beda soal ketika saya memakai identitas saya sebagai seorang bergelar apa, anak dari tokoh nasional, atau punya jabatan tertentu dalam sistem tertentu orang bisa kehilangan kewaspadaan untuk menegur bahkan menyapapun terkadang tak sesantai ketika kita berbicara sebagai manusia biasa.

KONSISTEN
Poin kedua yang saya tangkap malam itu adalah soal konsistensi, bagaimana memandang sesuatu yang kosisten sebagai sebuah keajaiban. Sejak sebelum ada Islam-pun tradisi Yahudi terus mengajari untuk konsisten menjaga sepuluh perintah Taurat kepada Nabi Musa, dengan berbagai hukum yang mereka pegang secara terus menerus turun temurun. Begitu pula dengan tradisi lainnya dari Sumeria, Babylonia, Pagan-Romawi, Yunani apalagi Jawa-Nusantara selalu ada pola pengulangan-pengulangan ritme, entah berupa ritual, trance-dance, atau pola mocopat sama meski bergonta-ganti teks lirik.

Menjaga ritme ini bukan suatu yang mudah, bahkan untuk maiyahan yang rutin sebulan sekali, tentu ada rasa bosan, malas atau konflik-konflik sebagaimana lazimnya sebuah persentuhan berbagai kepribadian. Namun semua dijalani dan sudah sampai 3 tahun.

Tak hanya dalam masyarakat yang komunal, di dalam test kualifikasi diri secara pribadi kan juga ada ritme-ritme yang harus dijaga keberlangsungannya. Di keluarga saya misalnya tidak boleh makan di depan pintu, saru (tidak sopan). Atau di Islam jelas menjaga ritme ini turun dalam perintah menjalankan sholat. Konsistensi adalah berperang melawan diri sendiri, melawan kebosanan dan menjaga fokus untuk tidak menurunkan niat sekalipus sudah terbiasa, selanjutnya adalah membangun sistem bawah sadar lewat perulangan-perulangan. Efek lainya gerakan-gerakan fisik entah ritual tarian, atau sholat semua bermuara pada keseimbangan dan kesiapan fisik individu untuk menerima berbagai ledakan wahyu Tuhan jika memang sudah siap.

CONSIOUS DAN UN-CONSIOUS MIND
Saya pernah jadi operator dan teknisi warnet selama  9 tahun, hampir setiap hari menjalani hidup lebih dari 10 jam perhari di depan komputer, laptop, atau gawai bertemu dengan beragam manusia setiap hari, berbagai pelanggan.

Hal penting yang saya dapat adalah saya mulai bisa menangkap informasi sedikit tentang seseorang dari cara berbicaranya, dari gimik bibirnya, dari pandangan wajahnya, juga dari berbagai pemaparan. Angkuh, jujur, ambisius, dan lain-lain semuanya terekam begitu saja dalam intuisi saya hanya karena saya berulang-ulang melakukan kegiatan yang sama. Duduk di depan meja operator melayani pelanggan warnet, mengamati lalu lalang dan menjaring pola.

Ini yang saya sebut tadi menjaga ritme adalah membangun sistem di alam bawah sadar lewat perulangan-perulangan.

Mas Sabrang malam itu menyebut alam bawah sadar hanya terdiri dari 40 frame sistem sementara alam bawah sadar terdiri dari 1,2 juta lebih sistem. Ini pula yang terjadi di maiyah bagaimana kita bisa duduk berjam-jam tanpa merasa bosan karena ada ruang-ruang penerimaan di alam bawah sadar, hingga kita yang sistem defaultnya menerima, seperti terbius dari fikiran hingga jasad tak mau beranjak dari kenyamanan maiyah. Namun didalam kenyamanan tersebut sebuah sistem baru dibangun bahasanya Cak Nun ini sebagai ndhedher, menabur benih-benih lewat maiyah. Dalam bius alam bawah sadar itu dimasukkanlah ilmu-ilmu bagaimana merawat kejernihan batin, mengolah sistem keadilan berfikir, keluasan dalam menganalisis masalah, kepengayoman dalam menyikapi sesuatu, juga permakluman sekaligus ketegasan-ketegasan dalam bersikap yang dilakukan secara andhap-asor itu yang berulang kali dibangun.

Selanjutnya angka 3 tahun dengan pertemuan sebulan sekali secara probabilitas masih di angka yang kecil, namun jika dilihat dari probabilitas yang kecil , pemertahankan yang kecil supaya terus istiqomah berjalan disitu letak keajaibannya juga.

WASPADA
….Mungkin tidak menjawab, semoga menjawab….

Kuda-kuda presisi itu yang saya tangkap pula malam itu, sepengetahuan saya tidak banyak pembicara yang memberi pagar agar jangan percaya kepada semua jawabanya.  Kewaspadaan akan setiap jawaban bahkan untuk manusia yang menjadi pembicara, narasumber, itu yang menarik.

Yang membela benar menurut manusia pada akhirnya menjadi padatan-padatan yang lembut kepada yang sepaham dan sangat galak kepada lain pihak. Presisi ini yang terus menerus dijaga di dalam maiyahan. Tidak ada kebenaran yang objektif, kita yang terus menerus menggali potensi kebenaran dari sebanyak mungkin subyek yang maksimalnya akan dianggap sebagai kebenaran mayoritas (benernya orang banyak), lalu soal kebenaran hanya Tuhan yang tahu, karena manusia juga terbatas alat dan spesifikasinya dalam mengurai kebenaran, belum lagi terkungkung oleh paradigma, ideologi serta naturalitas hukum alam. Katakanlah oksigen bisa membuat manusia itu benar, tapi sama halnya dengan oksigen adalah zat yang sangat mudah terbakar dan menghancurkan.

Kewaspadaan ini dibawa Mas Sabrang menyitir ilmuan fisika yang memenangkan hadiah nobel, Werner Heisenberg. Warner adalah pencetus teori Ketidakpastian. Bagaimana akan mustahil mengukur dua besaran dalam waktu yang bersamaan seperti posisi dan momentum partikel. Dua basis data yang sangat berbeda dengan kebenaran masing-masing yang akan sangat sulit kita mengkomparasikannya. Akhirnya kebenaran adalah pertalian dari dua kebenaran subjektif tadi, dalam singgungan tertentu.

Seperti sifat Allah yang “maha”, artinya terus menerus semakin banyak informasi, data, pengetahuan-pengetahuan yang didapat, semakin lama waktu berjalan tetap saja Tuhan selalu “maha” dan disinilah konklusinya sebenarnya tidak ada kebenaran yang objektif, karena semuanya relatif tergantung seberapa banyak data yang diperoleh. Validitas hari ini mungkin akan berubah 50 tahun kemudian. Saya masih ingat di SD tidak diminta percaya teori evolusi Darwin, namun akhir-akhir ini justru semakin banyak yang menikmati evolusi Darwin.

Dan presisi kewaspadaan ini akhirnya dipuncaki dengan segala sesuatu yang bersifat kekal akan peka jaman, artinya validitas datanya jauh lebih panjang daripada sesuatu yang temporer, fana dan gampang remuk.

Contohnya misalnya status media sosial-mu 2 minggu ke depan akan dilupakan, tapi karya sastra bisa bertahan bertahun-tahun, kitab suci bahkan sepanjang umur peradaban. Di sinilah validitas data juga akan menjawab jaman seperti lagu letto dalam “Menyambut Janji”.

…..yang berganti hanya buih, yang sejati tak akan berdalih…

Lirik ini seperti menggenapi tulisan Cak Nun dalam Anak Asuh bernama Indonesia

“Segala sesuatu yang dibatasi oleh mati, bukanlah sukses. Sukses adalah suatu pencapaian yang melampaui maut,yang abadi melintasi kematian, mengalir hingga titik simpul di mana awal dan akhir menyatu.”

Presisinya sama kekekalan punya keakuratan data lebih daripada sesuatu yang insidental, begitu juga yang terjadi dari kewaskitaan leluhur dalam menangkap pola-pola semesta, peredaran bintang tertentu untuk memulai bertani, atau hitungan-hitungan tertentu guna menyimpan pola-pola dalam beragam ilmu. Ilmu yang sekarang bagi sebagian orang yang beragama praktis akan men-cap-nya sebagai sebuah kesesatan, kekafiran padahal sebenarnya kebodohannya yang tak mampu menangkap rasio keluasan logika dari keluhuran ilmu masa lalu.

Akhirnya selamat mengukir probabilitas baru, menggali dan melengkapi informasi dan data-data yang baru, meski disela-selanya akan ada pengulangan-pengulangan, tapi progres validitas data harus meningkat karena kita sedang membangun peradaban baru, Negeri Maiyah yang menjadi impian kita bersama. Tanpa ada progres dari alam berfikir hingga gerakan nyata. Ilmu hanya terpendam menjadi ilmu.

Selamat menapaki usia baru dengan segala kelengkapan, dengan kematangan supaya ilmu yang bertebaran tidak menjadi sia-sia.

Perdikan Sukowati, 28 Mei 2019

Indra Agusta

Tulisan terkait