Menu Close

Ketika Peternak Ayam Ikutan Petok-Petok

0Shares

Rasanya sudah berbusa-busa memberiken informasi bahwa meningkatnya jumlah penduduk produktif berdampak pada peningkatan konsumsi produk pangan, lalu meningkatnya kesejahteraan dan kesadaran warga Indonesia akan pemenuhan gizi protein hewani turut meningkatkan angka permintaan produk hewani lalu narasi selanjutnya blablablaa

Memang sumber daging yang bersahabat di kantong adalah jenis white meat, atau daging ayam. Walaupun dunia peternakan ayam cukup memberikan prospek k peternak karena peluang pasar unggas sangat menjanjikan, tapi peternak sering menangis karna diguncang dengan ketidakstabilan harga di pasaran.

Peternakan ayam berskala kecil mengalami beberapa kali guncangan. Pada 1980-an, sejalan dengan introduksi program Peternakan Inti Rakyat (PIR) Perunggasan, upaya membangun kemitraan peternak-integrator tidak berjalan mulus. Kendati membuat  banyak  peternak kecil gulung tikar karena kebijakan yang asimetris itu, dan penetrasi modal besar masih terbatas pada industri bibit dan pakan. Tahun 1997-1998, seiring dengan krisis ekonomi yang membuat bahan baku pakan(sebagian besar impor) semakin melangit, terjadi konsolidasi antara integrator dan peternak mitra sehingga jumlah peternak kecil semakin menciut. Dan kurun tahun 2003, dunia peternakan ayam dilanda wabah flu burung yang menggerus aset peternak kecil. Sepanjang 2010-2018, sejalan dengan lonjakan pertumbuhan konsumsi daging ayam, persoalan justru makin kronis dan menempatkan peternak kecil di posisi terjepit.

Dan ini masih anget-angetnya pada akhir bulan Juni 2019, setidaknya ada beberapa peternak kembali dilanda guncangan, seperti Daerah Istimewa Yogjakarta, Solo dan beberapa daerah di sekitarnya. Aksi yang cukup santun yang dilakukan peternak adalah memberikan ayam gratis kepada jamaah karnivora, mesakne kann.

Adanya pertunjukan seperti itu sebagai mahasiwa yang berprofesi di ranah ternak-beternak turut berduka, mbokyao pemerintah ada upaya agar memperhatikan segmentasi pasar, atau usaha menyeimbangkan harga jual ayam antara integrator dengan integritor di pasaran. Pasalnya segmentasi pasar peternakan ayam belum dijalankan dengan optimal, sehingga riskan terjadi kondisi jual yang tidak seimbang. Atau alternatif lain, sebagian produk integrator di ekspor ke luar negeri, agar tidak sepenuhnya membanjiri pasar dalam negeri. Dan peternak kecil berkesempatan untuk menjual produknya di tanah airnya sendiri.

Pertarungan vis a vis industri besar dengan peternak kecil yang juga sangat tergantung pasokan bibit dan pakannya kepada industri tersebut menyisakkan pertanyaan besar atas kebijakan dan struktur tata niaga yang terbentuk. Efisiensi tinggi memang menekan HPP. Tapi toh kenyataanya harga jual daging ayam tetap tinggi di kantong konsumen.

Margin tata niaga yang tidak dinikmati peternak itu terus menjadi salah satu persoalan besar yang tidak tertangani. Mereka kalah telak dalam bersaing dengan integrator yang menguasai produksi dan pemasaran dari hulu sampai hilir. Sepuluh tahun lalu, pangsa pasar daging ayam dan telur produksi peternak mencapai 80 persen dan integrator 20 persen. Saat ini kondisinya berbalik, empat perusahaan besar integrator menguasai 80 persen pangsa pasar nasional. Jika kecenderungan iklim usaha peternakan ayam ras terus dibiarkan berlanjut seperti ini, lonceng kematian usaha peternak kecil tinggal menghitung mundur.

Kondisi seperti ini juga perlu ketegasan semua pihak, khususon pemerintah baik Kementan, Kemendag, maupun KPPU dalam melihat gaduhnya perunggasan yang tak kunjung usai. Kepada perusahaan perungasan juga sebaliknya, mbokyao jangan tamak dalam berbisnis, jika diminta menyodorkan data oleh Kementan, berikan data yang jujur dan benar. Kepada para akademisi yang mulia berjuang untuk meraih merah putih yang berdaulat, bukan untuk korporasi. Tak lupa juga kepada komisi IV DPR RI juga jangan hanya beretorika, UU No 41/2014 Tentang PKH sebaiknya kembali direvisi lagi sehingga memang benar-benar pro-rakyat bukan pro-kepentingan para pemodal. Masyarakat peternak sudah bosan dengan kegaduhan, mereka ingin maju dan tumbuh bersama-sama.

 

Khoiri Habib Anwari

Tulisan terkait