Menu Close

RBS (Rantai Berkah Silaturahmi)

0Shares

Pernahkah Anda mengalami kejadian seperti ini? Anda sedang makan disebuah warung/ resto/  angkringan pinggir jalan dengan salah seorang teman, kemudian lagi asiknya makan, tiba-tiba ada kolega Anda yang lain datang. Menghampiri Anda, mengajak salaman, dan obrolan ringan pun tercipta. Ternyata, teman Anda tersebut juga hendak membeli makanan untuk dibawa pulang. Tak menunggu lama, usai membayar pesanan makanan, kolega Anda pamit pulang duluan.

Singkat kata, selesai ritual makan, minum dan rokokan, teman Anda menuju meja kasir. Ia berniat mentraktir. Membayar semua menu yang telah habis disantap barusan. Dan kejadian tak terduga itu terjadi. Ketika teman Anda mau membuka dompet, sang kasir buru-buru bilang ;

“Sampun mas, sudah dibayar sama mas-nya yang tadi.”

Jebul dan tibak-nya, kolega yang menyalami Anda, yang membeli makanan dan dibawa pulang tadi telah membayar semua menu yang dimakan oleh Anda bersama teman Anda. Haah….!!

Pernahkah Anda mengalaminya? Kalau saya ditanya, jawabnya pernah, bahkan sering. Entah dimana pun tempatnya.

Dari sekelumit cerita diatas, ada beberapa hal menarik yang dapat kita ulas. Pertama, peristiwa tersebut menjadi salah satu bukti berlakunya rumus ; Min haitsu layah tasib. Dimana aliran rizki bisa datang kapan saja, tiba-tiba, dan melalui pintu mana saja. Ini murni pekerjaan Tuhan. Mustahil manusia mampu mengerjakan-nya.

Kedua, kejadian dibayar teman saat makan merupakan “efek samping” dari jalinan silaturahim. Mana mungkin kalau tidak kenal mau mentraktir. Ora mungkin! Jadi dapat kita titeni  bahwa berkah (fadzilah) silaturahim itu cash. Tunai. Langsung dirasakan saat itu juga. Implementasi keberkahannya pun beragam. Bisa berupa traktiran, jamuan, pertolongan, materi, solusi, peluang, informasi, dll. Maka banyak sekali ayat Alquran dan hadits yang menyebutkan bahwa silaturahmi adalah salah satu jalan untuk memperluas rezeki. Dan itu benar sekali. Silakan buktikan sendiri.

Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak saling mengenal dan menyambung hubungan baik (silaturahmi) dengan orang lain. Teruslah berupaya untuk memperluas akses pertemanan–paseduluran dengan cara/ media apapun. Dan beruntunglah kita ini yang telah dianugerahi suatu wadah besar silaturahmi yang bernama Maiyah. Maiyah menjelma ruang publik yang egaliter, terbuka, merangkul dan menampung siapa saja. Tidak peduli apa agama, suku, ras, profesi, kelas sosial, mahzab, aliran, golongan, jenis kelamin, semua diterima. Rasanya sudah tak terhitung lagi keberkahan yang kita reguk dan nikmati selama bergaul di Simpul, berakrab di Lingkar, dan bersaudara dalam ikatan paseduluran (silaturahmi) Jamaah Maiyah Nusantara.

**

Dan untuk hal yang terakhir, (hehe) saya agak sedikit bingung dalam mencerna konteks peristiwa langka bin nyata di atas. Maksud kebingungan saya adalah, kira-kira diantara Anda, teman serta kolega Anda, siapa pihak yang paling berhak untuk mendapatkan pahala??

Apakah teman Anda yang berniat baik untuk mentraktir, meskipun ia urung membayar. Atau kolega Anda, yang telah membayar menu makanan yang Anda makan bersama teman Anda meski tanpa diminta. Atau malah justru Anda yang secara tidak langsung telah mentraktir teman Anda melalui kedermaan hati sang kolega? Wallahu’alam. Saya menyebut hal tersebut sebagai rantai berkah silaturahmi.

Tapi, kenapa juga mesti bingung-bingung. Anggap saja semua kecipratan pahala-Nya. Gusti Allah Maha Kaya.

Gemolong, 16 Juli 2019

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait