Menu Close

Tuhan Maha Menjebak

0Shares

Tuhan menjebak manusia dalam setiap pilihan yang diambil oleh hamba-hamba-Nya.

Tuhan yang kita kenal adalah dzat yang “maha”. Maha adalah puncak segala bentuk keagungan yang hanya disematkan kepada yang manusia yakini sebagai sang pencipta. Setuju atau tidak, Tuhan yang kita yakini tetaplah memiliki sifat yang unlimited.

Karena yang tersebar luas dalam masyarakat adalah sifat Tuhan yang berjumlah 99, masihlah sangat luas pula eksplorasi mengenai sifat Tuhan. Pun dengan sifat Tuhan yang Maha menjebak.

Sifat Tuhan yang belum pernah saya dengar sendiri adalah bahwa Tuhan Maha menjebak. Letak penjebakannya salah satunya adalah pada pilihan-pilihan yang kita—sebagai manusia—ambil.

Kita manusia yang katanya memiliki kehendak untuk memilih, ternyata agak dipermainkan oleh Tuhan sendiri. Tuhan sediakan banyak pilihan. Benar maupun salah, baik maupun buruk, indah maupun tidak indah, enak maupun tidak enak. Banyak sekali segmentasinya.

Misalkan, saya sedang kehausan dan juga kelaparan. Saya pun masuk ke dalam sebuah rumah makan. Begitu masuk, dihamparkannya pilihan menu makanan dan juga minuman yang beraneka ragam. Ada rames, soto, gudeg, pecel, rawon, ketoprak, lontong campur, nasi goreng, gongso untuk makanannya. Untuk minuman juga sama, ada banyak pilihan, air putih, teh, kopi, coklat, jus, soda, bir, bahkan hingga vodka.

Diantara banyak makanan dan minuman itu, jebakan Tuhan pun mulai berjalan.

Saya berpikir panjang. Pertimbangkan segala sesuatu akibat yang akan terjadi setelah mengkonsumsinya. Akhirnya saya memilih nasi pecel dan segelas air putih. Keputusan itu saya ambil karena mempertimbangkan faktor anemia yang saya derita.

Pertanyaan dari saya, kenapa kita harus dihadapkan oleh banyak pilihan macam itu? Setelah itu, kita berpikir keras untuk menentukan pilihan. Padahal di lain sisi, Tuhan telah menentukan segala sesuatunya di lauhil mahfudz, bukan?

Lalu apa guna kehendak yang dimiliki manusia kalau ujungnya begitu?

Kita sering lupa, bahwa ada Tuhan disetiap pilihan-pilihan yang banyak itu. Kita lupa bahwa Tuhan yang sejatinya berkehendak dalam proses setting tempat, waktu, juga suasananya. Tuhan berkehendak pula akan sekenario dalam hidup manusia. Termasuk dalam pola pikir—yang oleh manusia modern kadang masih nampak bahwa pikiran manusia itu otonom. Mereka lupa akan tangan Tuhan yang menggerakkannya.

Jebakan Tuhan akan selalu lestari, abadi. Ia akan terus membuat makhluk-makhluk-Nya terselimuti oleh ketidakpastian dan keter_celikan_ (kecelik) tiap waktunya. Karenanya Tuhan dapat bercinta, bermesraan dengan hamba-hamba-Nya.

Jangan beranggapan Tuhan jahat karena banyak nge-prank kita manusia. Keterbatasan akan ilmu, akses pikiran, akses hati-jiwa, baik fisik maupun yang ruhaniyah yang membuat manusia sempurna jadi manusia. Karena ke”mahaan” hanyalah milik-Nya. Tempat di mana segala sesuatunya berawal dan berakhir.

Surakarta,
6 Agustus 2019
Jumirin Ath-Thayyibi

Tulisan terkait