Menu Close

Merdesa

0Shares

Merdesa, mungkin sepenggal kata ini yang paling terkenal didengungkan oleh komika nasional. Menjadi cover album musik yang dia luncurkan. Harapannya tak jauh dari makna kata tersebut yang di KBBI berarti layak, patut.

KBBI setidaknya ditulis 5 kali paling awal tahun 1988, 1991, 2005, 2008, lalu 2016. Kurang tahu ditahun berapa kata merdesa ini dimasukkan kedalam KBBI.

Narasi dari KBBI ini – jika kita berpijak pada kondisi negara pasca kemerdekaan – akan lengkap jika kita mentransformasikan harapan apa setelah merdeka? Kalau kemerdekaan sudah dapat diraih oleh tangan bapak-bapak bangsa, lantas dengan apa mengisinya tentu dengan Merdesa.

Kelayakan dan kepatutan ini harus menjadi arah tujuan serius semua warga negara. Terutama yang tercantum dalam rumusan pembukaan UUD 1945.

….Yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Jadi jika kita berbicara layak kita harus mempertanyakan sekaligus turut mengusahakan seberapa layak kita dalam cap “sejahtera”, layak untuk cerdas sebagai bangsa, layak untuk menciptakan ketertiban dan kedamaian dalam skala global, juga layak untuk mendapatkan keadilan. Lalu kaitan layak dengan tujuan bangsa dalam pembukaan apakah kita sudah layak?

Jika layak saja belum apalagi patut, apalagi beradab nampaknya masih sangat jauh narasi Merdesa jika kita aplikasikan dalam kehidupan berbangsa.

Emha Ainun Nadjib, dalam bukunya Indonesia bagian dari Desa Saya tahun 70-an mengkritik serius bagaimana wacana kemerdekaan itu ternyata hanya berhenti di pesta glamor pembangunan di kota, hedonisme, dampak negatifnya akhirnya menjalar ke desa-desa. Desa yang harusnya menjadi benteng kekuatan kedaulatan akhirnya tergerus arus konsumerisme menjadi budak dalam perlombaan punya TV lalu ditutup dengan money politic di tengah negara demokratis. Naif.

Kitab Bausastra Jawa, karangan Poerwadarminta, 1939 merupakan kamus yang merekam kata in lebih lanjut. Mêrdesa :n. mêrdhusun k. ak. mênyang ing desa; kc. mara-desa.

Penekanan kalimat menyang yang bermakna menuju ini bisa dikatakan sangat visioner. Karena menuju itu sesuatu yang futuristik. Jika tahun ini kata merdesa menjadi penting, berarti kita harus menuju desa, menggali lagi apa yang tersimpan di desa. Frasa berikutnya adalah mara-desa, secara harafiah mara berarti berkunjung, mengunjungi, mendatangi Desa. Pertanyaannya jika dibalik adalah kenapa harus mendatangi desa? Ilmu apa yang didapat dari desa? Dst.

Penyair besar Indonesia Umbu Landu Paranggi juga menulis puisi soal merdesa ini dalam judul ‘apa ada angin di Jakarta?”. Dalam puisi tersebut sepenggal lirik tertulis demikian :

Pulanglah ke desa, membangun esok hari..

Kembali ke huma berhati

Dari  3 frasa menuju, mendatangi dan kembali ke desa disinilah trigger pemaknaan berpusat pada subjek utama yaitu desa. Titik awal, tujuan, dan arah kembali. Kenapa desa menjadi penting? Atau sejak kapan ada desa?

Nagarakertagama merupakan sebuah naskah karya sastra Jawa Kuna berbentuk kakawin dari masa Majapahit yang ditulis oleh seorang pujangga bernama samaran Rakawi Prapañca (Mpu Prapañca). Berdasarkan pupuh 94, bait 2, diketahui naskah ini selesai ditulis di Kamalasana pada tanggal 15 (purnnacandrama) bulan Aswayuja tahun Saka adri gajaryyama (1287), bertepatan dengan tanggal 30 September 1365.

Naskah yang diteliti oleh Belanda adalah naskah salinan (tinulad) yang dibuat pada hari Umanis-Wrhaspati (Kamis Legi) bulan Karttika tanggal 30 (karttikamasa ni panileman) tahun Saka paksarenö ghana dewa (1662) yang bertepatan dengan hari Kamis-Legi tanggal 20 Oktober 1740.

Naskah ini ditemukan oleh Dr. J.L.A. Brandes di Puri Cakranegara, Lombok, pada tanggal 18 November 1894 ketika pemerintah kolonial Belanda mengadakan ekspedisi militer ke Pulau Lombok. Brandes pada waktu itu diperbantukan pada staf pimpinan operasi militer dengan tujuan agar benda-benda budaya, khususnya yang berupa naskah-naskah lontar, jangan sampai musnah.

Pada waktu itu sudah diketahui bahwa naskah-naskah lontar terbaik banyak disimpan di perpustakaan-perpustakaan di Bali dan Lombok, yaitu di puri raja-raja, rumah-rumah para bangsawan, dan para pendeta. Naskah-naskah temuan dari Puri Cakranegara ini kemudian dibawa ke Belanda dan disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden.

Naskah-naskah berharga tersebut tercatat sebagai Codex Orientalis (Cod. Or.) atau Legatum Orientalis (LOr.) 5023 dari Legatum Warnerianum. Nama Nagarakertagama ditemukan oleh Dr. J.L.A. Brandes dalam kolofon tambahan. Naskah tambahan dalam kolofon tersebut ada dua dan kolofon pertamalah yang memuat nama “Nagarakertagama”. Meski demikian, penyalin naskah memberi nama kakawin itu dengan sebutan Desawarnana. Nama Desawarnana sebagai nama kakawin dituliskan pada pupuh 94, bait ke-2 dan ke-3, yang menyebutkan nama-nama desa secara terperinci dan dinamakan dengan Desawarnana.

Negarakertagama, Pupuh 94

Riɳ çakadri gajaryyamaçwayujamasa çubhadiwaça purnnacandrama, nka hingan/ rakawin/ pamarnnana khadigwijayanira narendra riɳ praja, kwehnin deça riniñci donika minustaka manarana deçawarnnana, pangil/ panhwata sanmata nrpati mengeta rin alawas atpadeɳ lanö.

Tahun Saka gunung gajah budi dan janma (1287) bulan Aswina hari purnama, Siaplah kakawin pujaan tentang perjalanan jaya keliling negara, Segenap desa tersusun dalam rangkaian, pantas disebut Desawarnana, Dengan maksud, agar Baginda ingat jika membaca hikmat kalimat.

Donyan mankana wrddya yan panikete haji kathamapi tan tame lanö, göɳ bhaktyasih anatha hetunikapaksa tumuta san umastawe haji, çloka mwan kakawin kiduɳ stuti nike haji makamuka deçawarnnana, nhiɳ tohnyeki wilajja niçcaya yadin guyuguyun apa deya lampunen.

Meskipun tidak semahir para pujangga di dalam menggubah kakawin (puisi, syair), Terdorong cinta bakti kepada Baginda, ikut membuat puja sastra, Berupa karya kakawin, sederhana tentang rangkaian sejarah desa, Apa boleh buat harus berkorban rasa, pasti akan ditertawakan.

Dari negarakertagama yang serampangan diganti judul aslinya oleh arkeolog selanjutnya ini sebenarnya mengubah misi dari tulisan ini. Perspektifnya kebesaran Majapahit tidak berasal dari narasi negara-bangsa (nation-state), tapi sebenarnya lewat kitab ini kisah soal desa-desa ini dituliskan supaya pembaca tahu bahwa Desawarnana sendiri menunjukkan kebesaran Majapahit hanya lewat sejarah kemegahan desa-desa. Dan Majapahit adalah desa-desa itu sendiri.

Selamat kembali mempelajari desa, Merdesa!

Indra Agusta

Tulisan terkait