Menu Close

Belajar Menemukan Kenikmatan Berbuat Kebaikan

0Shares

Dari sekian banyak kalam Allah, salah satu yang menjadi favorit saya adalah potongan surah Al Isra’ ayat 7. Yang berbunyi : In ahsantum ahsantum li`anfusikum, wa in asa`tum fa lahaa. Artinya : Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri).

Kenapa favorit? Karena buat saya ayat ini semacam self reminder. Rambu-rambu. Norma tak tertulis. Petunjuk sekaligus pengingat diri setiap hendak berbuat atau melakukan sesuatu. Laiknya mood-booster. Setiap baca (ingat) ayat ini muncul ghirrah (gairah) dalam hati untuk berbuat baik setiap hari, setiap saat, kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun. Sebaliknya saat terbersit niat jahat dalam hati, lalu teringat bunyi (arti) ayat ini, maka pupuslah niat busuk tersebut, sehingga urung dilakukan.

Istilah orang Jawa becik ketitik ala ketara. Sing nandur ngunduh. Ngunduh wohing pakarti. Setiap kita menanam kebaikan maka kebaikan pula yang akan kita panen. Masa panen ini sangat dinamis. Tidak terikat ruang dan waktu. Bisa ‘panen’ sekarang (langsung), bisa besok, lusa, seminggu kemudian, sebulan berikutnya atau setahun–sewindu yang akan datang. Bahkan tidak menutup kemungkinan, kita baru diizinkan “panen” saat hijrah di akherat kelak.  Wallahu’alam.

**

Kita dapat mengidentifikasi berlakunya ayat ini (Al Isra’ : 7) dalam laku hidup sehari-hari. Dari kejadian yang sepertinya simpel, sampai peristiwa yang maha-besar dan menakjubkan. Sangat banyak contohnya. Misal, ketika di jalan kita melihat orang mengendarai motor, strandat-nya (maaf, sampai sekarang saya belum menemukan bahasa Indonesianya strandat motor) lupa belum di-jeglek-kan. Maka spontan kita akan berteriak mengingatkan orang tersebut.

 “Woeey mas strandaté….”

Secara reflek orang tersebut akan melihat ke bawah dan segera menyepak strandat-nya, tanpa sempat mengucapkan terima kasih kepada kita yang mengingatkan. Hari ini mungkin kita yang diberi kesempatan untuk mengingatkan orang lain. Namun bisa jadi entah kapan, giliran kita yang diingatkan oleh orang gegara kasus yang sama. Bisa karena faktor lupa, kesusu, atau buru-buru.

Kelihatannya perkara ini sepele, tetapi strandat motor yang lupa dinaikkan sangatlah berbahaya dan mengancam si pengendara. Ketika motor akan berbelok sangat berpotensi terpental, jatuh, dan ngglasar.

Dengan kita mengingatkan pengendara lain yang lupa menaikkan strandat motornya sehingga ia terhindar dari kecelakaan, sejatinya kita sedang menolong diri kita sendiri. Kalau sewaktu-waktu kita lupa menaikkan strandat motor, harapannya (mugo-mugo) ada orang lain yang gantian ngelikke kita. Siapapun orangnya. Perihal kejadian ini, saya yakin kita semua pernah mengalaminya.

**

Bicara tentang kebaikan, di Forum Maiyah kita akan mendapatkan perspektif baru. Sudut pandang yang lebih luas dalam memaknai terminologi kebaikan. Selaku Marja’ Maiyah, Mbah Nun tidak pernah menyuruh kita untuk berbuat baik, akan tetapi beliau hanya mengajak dan menemani kita untuk menemukan kenikmatan dalam berbuat kebaikan. Ini menarik. Menarik yang pertama karena di Maiyah semua berposisi sama. Sehingga siapapun tidak berhak untuk nyuruh-nyuruh, merintah-merintah, apalagi mewajibkan seseorang harus gini harus gitu. Kudu ngene kudu ngono, tidak! Di Maiyah semua merdeka. Berdaulat penuh atas dirinya sendiri dan setiap keputusan yang diambil. Peran Marja’ Maiyah lebih sebagai orang tua yang ngemong, membekali sekaligus menemani seluruh anak cucu Jamaah Maiyah dalam menemukan kenikmatan berbuat kebaikan.

Menarik yang kedua, kenapa berbuat baik itu nikmat? Karena melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi orang lain itu membahagiakan. Dan bahagia itu nikmatnya luar biasa. Bahagia, bukan sekadar senang. Definisi bahagia dan senang itu berbeda. Senang itu perasaan suka-cita ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain, dan umurnya sangat pendek. Sedangkan bahagia yakni perasaan lega, bungah, ikhlas, ketika kita bisa memberikan, atau melakukan sesuatu kepada orang lain dan orang tersebut merasa senang. Itulah kebahagiaan. Bahagia nikmatnya lebih sejati dan “umurnya panjang”. Silakan buktikan, dan rasakan sensasinya. Memberi lebih mulia daripada menerima. Tangan diatas jelas lebih baik dari tangan dibawah.

Maka di ayat lain (surah Al Baqarah 148) Allah menyuruh (kalau Allah menyuruh sih sah-sah aja, lha wong Dia Tuhan) kita untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan (fastabiqul-khoiroot). Bukan fastabiqul bil haq/ berlomba-lomba dalam kebenaran. Sebab kebenaran tidak untuk diperlombakan, diperdebatkan apalagi di tonjol-tonjolkan. Kebenaran cukup di simpan didalam. Ia berfungsi sebagai pijakan sekaligus bahan pertimbangan sebelum berbuat dan bertindak. Meminjam istilah Mbah Nun kebenaran itu letaknya di dapur. Di belakang. Tidak untuk ditampilkan di depan. Ibarat warung, yang paling utama dilakukan seorang penjual kepada penjaja (khalayak) adalah keramahan pelayanan serta kelezatan menu yang dihidangkan.

**

Sialnya, di seberang sana, di luar negeri Maiyah, orang-orang masih ribut, sibuk saling tuduh benar salah, saling tunjuk menang-kalah. Padahal di dunia ini tidak ada kebenaran sejati, tidak ada kemenangan abadi. Kebenaran yang benar-benar sejati hanya milik Ilahi robbi. Sedangkan kemenangan abadi tidak lain yakni kemenangan melawan hawa nafsu diri sendiri. Merasa benar dengan cara menyalahkan orang lain tidaklah elok. Hidup bukan untuk mencari kebenaran atau pembenaran. Hidup juga bukan untuk mengalahkan siapa-siapa. Kalah-menang hanya urusan durasi. Setelah pemenang diumumkan maka kita bukan pemenang lagi.

Kalah menang adalah keniscayaan. Menang bukan berarti mulia, kalah bukan berarti nista. Sekali lagi, benar-salah, menang-kalah itu tidak penting. Yang paling penting adalah di pihak menang atau kalah, di pihak benar atau salah, kita harus mengutamakan kebaikan dan kebijaksanaan.

**

Selamat memasuki tahun baru islam 1441 Hijriah. Tak ada kata lelah untuk kita terus belajar menemukan kenikmatan dalam berbuat kebaikan.

Salam

Gemolong, malam 1 Suro (1 Muharram 1441 H)

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait