Menu Close

Ojok Sampek Ilang Jawamu

0Shares

Sebulan terakhir ini saya mengikuti dan bergabung dalam sebuah organisasi sosial bernama PERMADANI. Permadani singkatan dari Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia. Didirikan dan dirintis oleh eyang Ki Narto Sabdo (almarhum) pada 4 Juli 1984, 35 tahun silam. Tujuan didirikannya Permadani antara lain : 1. Melestarikan kebudayaan Jawa sebagai warisan leluhur bangsa (nguri-uri budaya Jawi). 2. Menjunjung harkat dan martabat manusia Indonesia. 3. Turut serta dalam membangun kecerdasan dan peradaban bangsa Indonesia.

Sebagai anggota Permadani kami diwajibkan untuk mengikuti kelas kursus belajar budaya Jawa selama kurang lebih empat bulan. Diampu oleh para mentor yang mumpuni (biasa disebut Dwija) dalam khasanah keilmuan budaya Jawa. Materi yang diajarkan pun beragam. Mulai dari belajar tingkatan bahasa Jawa (Ngoko, Madya, Krama), menjadi pranata cara, hingga sikap dan perilaku sehari-hari di tengah-tengah masyarakat (Urip bebrayan).

Wong Jawa ning ra njawani. Itulah saya. Beberapa kali mengikuti kursus, banyak sekali hal baru yang baru saya tahu. Kebenaran yang dianggap benar selama ini ternyata tidak/ kurang benar. Atau akrab kita sebut salah-kaprah. Semisal, kata anyar (baru) biasa kita krama-kan menjadi enggal. Itu tidak tepat. Anyar, basa krama-ne ya tetap anyar, bukan enggal. Pemakaian kata enggal yang tepat yakni pada ungkapan enggal saras yang berarti cepat sehat. Dst.

Ada yang menarik. Di Permadani tidak mengenal bahasa krama kita (dibaca kito). Yang ada adalah panjenengan dalasan kula. Kenapa tidak kula dalasan panjenengan?  Disitulah terselip ilmu. Dalam khasanah budaya Jawa, seseorang harus mampu merendahkan diri dihadapan orang lain. Berlaku andhap asor. Maka yang pertama disebut adalah panjenengan dulu, baru kemudian kula. Bukan sebaliknya. Hal tersebut mengandung nilai tersirat bahwa mendahulukan kepentingan orang lain/ umum lebih utama ketimbang mengurusi kepentingan pribadi.

Selain itu, dan masih berkaitan dengan konteks diatas, dalam bertutur kata Wong Jawa tidak boleh ngrama-ke awake dewe. Contoh, ada yang bertanya begini.

“Jenengan sampun dhahar?”

“Sampun, kula sampun dhahar.”

Jawaban tersebut kurang elok. Tidak enak di dengar dan dirasakan. Yang tepat adalah ; “Kula sampun maem atau kula sampun nedi.” Orang lain silakan berbicara dengan bahasa krama kepada kita, tetapi kita pamali untuk meng-krama-kan diri sendiri.

Hal demikian juga berlaku saat momen berbicara lewat telepon, atau menulis pesan via surat, surel, WA dan sejenisnya. Pantang bagi kita untuk menyebut diri dengan sebutan, ini saya pak Munir, atau saya mas Dona. Cukup dengan menyebut nama saja. Ini saya Munir, atau saya Dona. Biarkan lawan bicara kita yang merespon dengan mengatakan : “Oh, pak Munir ya? Oh, mas Dona tho, sebagai bentuk penghormatan mereka. Hal ini kian menegaskan bahwa orang Jawa mesti bersikap rendah hati kepada siapapun, baik secara langsung maupun tidak langsung.

**

Dari dua poin ilmu yang digali dari khasanah budaya Jawa diatas, (tentang sikap mendahulukan kepentingan umum dan sikap rendah hati), kesadaran saya langsung connect dengan Maiyah. Ya, peta konsep Maiyah yang diejawantahkan Simbah adalah sikap mendahulukan kepentingan umum, ummat, atau masyarakat. Mbah Nun dan awak KiaiKanjeng memposisikan diri sebagai pelayan publik/ masyarakat. Dimana setiap hari berkeliling memenuhi undangan warga untuk menggelar Sinau Bareng di pelbagai titik. Di lapangan, di tepi sawah, di alun-alun, di pabrik, di kampus, di pondok pesantren, di sekolah-sekolah, di area dermaga, di kaki gunung, di pedalaman desa, di jantung kota, hingga melanglang mancanegara. Mereka rela meninggalkan rumah, serta jauh dari keluarga. Waktu, keringat, dan pikiran lebih banyak diabdikan untuk melayani dan menggembirakan khalayak. Apa namanya itu kalau bukan pelayan Tuhan? Bersebab telah “melayani” Tuhan, maka hidup dan penghidupan mereka sepenuhnya ditanggung oleh-Nya.

**

Telah setia melayani siang-malam, dalam terik maupun hujan, dihadapan ribuan orang (dengan profesi dan latar belakang bermacam-macam) Mbah Nun tetap tawadhuk, berendah hati pada apapun dan siapapun. Tidak pernah mem-bagus-kan diri dalam segala hal. Banyak predikat disematkan kepada beliau namun ditolak habis-habisan. Label kiai, budayawan, haji, penyair, sastrawan, cendekiawan, esais, satu pun tidak ada yang disetujui. Beliau teguh memilih dengan hanya disebut Emha Ainun Nadjib. Atau cukup dipanggil Cak Nun, atau Mbah Nun. Mbah adalah gelar terbaik bagi beliau. Sebab Mbah urusannya adalah kasih-sayang, ngemong, dan pengayoman.

Sepanjang hayat, seorang Emha memang tidak ada bakat untuk mencari popularitas. Ia tak haus pujian, sanjungan, dan tidak gila hormat. Namun kitalah (anak cucu) yang mesti memiliki kesadaran untuk menghormati. Yang muda menghormati yang tua, yang tua menyayangi yang muda. Itulah ciri khas manusia Jawa.

Wajar saja Mbah Nun mewanti-wanti kita, “Ojok sampek ilang Jawamu.” Jawa digawa— Arab digarap— Barat diruwat. Manusia Jawa memiliki kepribadian dan kebudayaan unggul. Namun tidak untuk mengungguli/ mengalahkan siapapun. Unggul murni lahir dari dalam, wujud dari mengalahkan ego/nafsu tidak baik di dalam setiap diri.

Matur nuwun

Gemolong,  17 Oktober 2019

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait