Menu Close

Bunga Tidak Lupa Akarnya

0Shares

Sambil menunggu antrian terapi pijat, terdengar alunan musik klenengan yang membuat suasana pagi itu semakin nyaman. Bapak terapis nyletuk kalau banyak bait-bait langgam, klenengan, campur sari berasal dari piweling priyayi-priyayi ampuh jaman dahulu, yang jika diperhatikan sangat padat ajaran luhur.

Saat ini menjadi kenikmatan telinga, tanpa bisa turun sampai hati, ini adalah proses alamiah dari guratan panjang perjalanan waktu. Sebagaimana kita dengar baik tentang sejarah sejarah masa lampau kejayaan kerajaan kerajaan, ataupun yang kita baca tentang runtuhnya perusahaan perusahaan papan atas, maupun yang kita lihat saat ini dalam proses peluruhan dalam skala menengah ke bawah.

Benang merah yang kita lihat biasanya berawal dari berkurangnya kewaspadaan karena masuk pada zona keterpenuhan sebagian besar kebutuhan, primer tercukupi, masuk garis kebutuhan sekunder yang cenderung golek marem alias mencari kepuasan saja, hingga tidak terasa masuk area tersier yang sebenarnya semacam SP3 di peraturan perusahaan.

Kita yang berusia di atas 50 tahun pernah menyaksikan kejayaan merk-merk Eropa semacam Philips, Telefunken, General Electric, sebelum senja menyambut nya, digantikan terbitnya matahari Sanyo, Sharp, dan Sony dari Jepang. Matahari belum tergelincir jauh dari siang, mendung sudah bergelayut menutupi industri Jepang dengan kehadiran merk-merk Korea yang rasanya belum lama para petinggi Sony memandang sebelah mata. Kemudian dengan lebih cepat Negeri Cina dengan bambunya loncat galah lebih tinggi dari lainnya.

Jika kita perhatikan, alam tidak pilih kasih kepada siapa saja. Pada lapisan ikhtiar kita sebagai manusia biasa, yang lengah terhisap pasir waktu, yang waspada akan tetap turun tetapi sebagaimana pohon pisang, yang melahirkan anak pohon pisang sebelum matang buahnya. Di sini mungkin kita jadi bertambah paham maksud sangkan paraning dumadi, innalillahi  wa innaa ilaihi rojiun. Yang mana semua ada “awal”, banyu mili dan berakhir di lautan dan berulang.

Menjadi perbedaan antara yang lengah dan waspada, bukan pada keawetan, bukan pada keabadian, yang demikian bukan sifat material kita. Tetapi bagaimana kita menginternalisasi, memaksimalkan waktu untuk memproses sesuatunya sebelum tiba masa akhir, yang disebut akhirat. Itu yang akan menjadikan perbedaan. Saya teringat apa yang pernah disampaikan Mas Sabrang tentang sekuntum bunga. Kurang lebih yang saya pahami pada umumnya kita terpukau pada keindahannya tanpa pernah ingin tahu proses munculnya sekuntum bunga berawal dari tunas, bijih dan harus bercampur yang dianggap kotor untuk bertumbuh, hal mana gejala generasi muda sebagian besar demikian.

Lebih memprihatinkan tidak hanya sekedar bunga dan penghidupan, bisa jadi dalam area yang dianggap wilayah keagamaan pun tidak luput dari influence seperti itu, kesadaran hukum Tuhan yang sering disebut hukum alam sebagai kausalitas. Sebab akibat yang disebut dengan timbal balik pun jarang dibahas. Mungkin kita termasuk yang tidak setuju dengan model birokrasi menyuap-sogok, upeti, gratifikasi. Tetapi bisa jadi pola relasi kita dengan Tuhan tidak jauh berbeda dengan pola birokrasi yang kita tidak suka, jika kita tidak benar benar mencermati ayat-ayat Allah yang tidak difirmankan, tidak direkam dalam bentuk teks. Ayat-ayat yang tersebar sebanyak partikel di alam luas ini.

Di saat terapi pijat saya masih berjalan, saya jadi teringat salah satu artikel favorit saya di caknun.com, yaitu daur. Sebuah kalimat pendek yang sempurna menggambarkan siklus satu putaran sebuah proses, yang dalam Al-Quran disenggol dengan “Dialah yang meniupkan angin, hingga sampai hujan dan ditutup dengan “semoga kamu mengambil pelajaran”. Dan ketika ingat Daur, saya jadi teringat angka jumlah daur seri l dan Daur seri ll yang belum bisa saya pahami, mungkin kelak kalau pas sangat-e saya akan bertanya kepada Mbah Nun.

Munir Asad

Tulisan terkait