Menu Close

Seduluran Karo Sing Cocok! Tok!

0Shares

nik kekancan aja pilih-pilih”

“jarene seduluran tapi sedulur sing cocok tok”

“golek jodoh sing sugih lan gelem dijak rekasa”

Yen lunga karo dek’e wat-wet, yen tak ajak ketemu alesan terus”

Percakapan di atas ini seringkali yang kita temui dalam sesrawungan antar manusia, antar warga atau kepada orang tua. Dan realitas ini menarik untuk diamati, bahwa nampaknya Keadilan itu tidak harus sama, dan keberpihakan terus selalu harus ada.

Banyak manusia masih terkukung etis bahwa harus bisa menerima banyak orang, nyegoro, meruang tapi kita lupa detail bahwa ada proses seseorang menyiapkan diri sebagai ruang. Ada perubahan-perubahan paradigma, pernah melakoni banyak hal sebagai pengalaman hidup, menarik simpul hikmahnya kemudian menyesali atau justru mencintai segala akibat, segala tindakan yang terjadi setelah berbagai input.

 

LAW OF SYMPATHETIC RESONANCE

Apa yang pertama kali manusia tangkap? Kecocokan sekaligus ketidakcocokan.

Ketika duduk-duduk ngopi di Kopi Parang atau di dalam sebuah kerumuman. Atau dua malam ini saya duduk-duduk bersama anak Sastra Daerah UNS, ketika pembahasan terlalu jauh dari radar saya cukup mendengar tanpa menimpali, begitu nyrempet radar saya bisa langsung menyahut atau menyerap arah pembicaraan anak-anak ini.  Atau mungkin disela-sela obrolan serius saya justru akan memperhatikan Kang Ranto ketika bercerita soal bakulan fried chicken, atau Kyai Kenyot ketika berbicara serius soal tafsir dan thariqah dunia yang betul-betul jauh dari perbendaharaan data yang saya miliki.

Begitu pula dalam kasus data input yang sudah dimiliki misalnya Maiyah, Mbah Nun ilmu-ilmu yang sudah sering didengar, seringkali saya hanya akan abai dari pembicaraan yang ‘biasa-biasa’ saja soal Maiyah. Namun data yang banyak soal maiyah itu akan memudahkan saya ketika bertemu orang yang sama sekali belum pernah ketemu, Maiyah bisa menjadi persambungan-persambungan yang menghidupan obrolan juga tali silaturahmi lebih luas.

Hal-hal seperti ini sangat biasa terjadi dimanapun, dalam percakapan apapun kita akan nyambung dengan orang yang kita anggap cocok (terjadi secara alamiah), begitu juga sebaliknya. Juga kita akan curious jika ternyata ketidaknyambungan ini menimbulkan berbagai keingintahuan.  Teori ini acapkali didunia psikologi dikenal dengan Law of attraction, atau di dunia musik kita mengenalnya sebagai Law of sympathetic resonance dimana manusia akan mendekat-menjauh sesuai dengan kesamaannya, atau kemudian menyamakan frekuensi untuk duduk dimana bisa bersama. Dalam dunia musik juga demikian. Tabung gitar rongganya ikut bergetar ketika senar bergetar, lalu nada-nada juga tidak semuanya bisa harmonis menjadi satu, hanya nada-nada tertentu yang bisa harmonis. Manusia juga sama.

Minimal dari kesamaan kita bisa mendekat, dari ketidaksamaan kita menjauh, dari kesamaan kita bisa bosan, dari ketidaksamaan kita bisa sangat penasaran. Hal-hal ini yang seharusnya harus menjadi titik tengah ketaqwaan, kewaspadaan. Lantas akan sangat naif jika percakapan diatas hanya dipandang sepihak. Dan dalam perkawanan nampaknya memang tidak bisa untuk tidak pilih-pilih, karena hukum resonansi memang begitu, dan kita menghasilkan ribuan gelombang setiap detiknya dari suara, kedipan mata, gerak, detak, degup dst.

DUNNIE-KRUEGER EFFECT

Dari perkembangan resonansi manusia tadi terkadang memadat. Lalu menjadi bias kognitif. Bentuknya kadang-kadang seperti ini.

iyo kowe cah kuliahan, aku ra tahu sekolah”

“Dasar kowe anak pejabat, mana reti uripe dadi wong mlarat”

“Ya gimana ya, kan susah bilang bahasa akademik ke orang biasa, wong ke sesama anak kampus aja beda jurusan susah membicarakannya, mereka ‘kan gk tahu dunia kita”

“Wong nik tabrakan kok selalu mobil sing salah, padahal motor e asline salah, CCTV bisa dilihat”

Terkadang kita hanya berhenti di kekurangan dan kelebihan, tapi tidak pernah menyadari bahwa manusia selalu punya kelebihan dan kekurangan. Bodoh di bidang ini, tapi pintar di bidang yang lain. Paham bahasan ini, tapi bebal pada bahasan itu. Menimbangnya bahwa ada kelebihan dan kekurangan dalam satu diri manusia adalah kewaspadaan juga.

Kalau tidak ya akhirnya kelebihan atau kekurangan menjadi “padat” orang bisa meninggikan diri sekaligus merendahkan orang lain karena kepintaran, pengalaman, atau kepunyaan. Tetapi sekaligus mereka yang merasa rendah akan percaya diri bahwa dirinya adalah yang paling merana karena ketidakadilan lalu mendengungkan sebagai sebuah dalih untuk senjata menutupi kebodohannya. Sama-sama padat. Sama-sama bias. Di Teori ini disebut bias kognitif.

MAIYAH SEBAGAI RUANG RESONANSI, ATAU VALLEY OF HARMONIC

Idealitas dua teori tadi ada pada titik tengah. Memang pasti banyak nada yang tidak cocok, dan belum tentu bisa harmonis tapi bisa diatur waktunya kapan untuk dimainkan, kapan untuk tidak dimainkan. Hingga akhirnya menjadi bait nada yang menarik.  Nada tertentu ditampilkan di menit tertentu beserta harmonisasinya, nada yang lain bisa dipungkasan lagu dst. Maiyah sebagai ruangan didalamnya memang akan ada padatan kecocokan dan ketidakcocokan, tapi itu sebagai perabot memang kita harus bisa menemukan ritme dalam ruangan.

Atau presisi memahami bahwa selalu ada paradoks di dunia, perkembangan analisis berfikir dan ituitif akan mengantarkan manusia pada keseimbangan. Hingga tidak melulu menghujat ‘yang tak layak’ sekaligus menyanjung yang menurutmu layak. Namun menemukan nuansa, meskipun layak dihujat / disanjung namun apakah waktunya, ritmenya, nuansanya tepat untuk meluapkan sesuatu.

Dan sekali lagi Maiyah bukanlah ajang menjadi panggung eksistensi, tapi adalah ruang yang disengkuyung bersama-sama. Mari seduluran karo sing cocok, demi efisiensi kesamaan untuk menemukan diri lalu ekspertansi dan tandang. Namun jangan lupa yang tidak cocok itu biasanya jadi partner terbaik untuk mengawasi, selalu berada di sisi yang lain, oposisi, mungkin tak pernah gathuk tapi jangan-jangan memang itu harmonisasinya supaya terjalin nada-nada indah.

Berkahlah, kuatlah, dan tumbuh suburlah benih-benih maiyah.

Sendang Ngunut, 1 November 2019

Indra Agusta

Tulisan terkait