Menu Close

Guru Berguru

0Shares

Pada peringatan hari Guru Nasional tanggal 25 November 2019 kemarin, melalui pidatonya Menteri pendidikan yang baru seolah memberi angin segar bagi dunia pendidikan di Indonesia. Pak Menteri menegaskan akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia. Caranya? Dengan membuat perubahan-perubahan kecil di instansi sekolah. Pelakunya? Tidak lain mereka para guru sebagai garda terdepan pendidikan.

Paling tidak ada 3 anjuran yang disodorkan pak Nadiem kepada para guru/ tenaga pendidik diseluruh Indonesia.

  1. Ajaklah kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar
  2. Cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas
  3. Temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri

Ketiga poin diatas sangat progresif apabila seluruh guru mau dan mampu mengimplementasikannya. Sebaliknya akan menjadi retorika belaka kalau para guru tidak ada gairah untuk mengubah serta menggubah keadaan.

Setiap ganti Menteri, ganti kurikulum, ganti kebijakan. Hal tersebut tanpa disadari kian membuat carut-marut dunia pendidikan kita. Betapa tidak? Baru menjalankan kurikulum yang berlaku, ditengah jalan sang Menteri diberhentikan. Menteri baru ditunjuk, otomatis kebijakan baru muncul. Dan guru dipaksa untuk segera menerapkannya. Ibarat kata, kita baru belajar mengenal dan mencintai seseorang, tapi malah disuruh kenalan dengan orang lain dan asing. Kan nggak asik ya. Itu bukan kebijakan namanya, tapi pe-mak-sa-an!

Ibu kepala sekolah tempat saya mengajar pun turut merespons pidato pak Menteri yang juga CEO Gojek tersebut. Dengan santai beliau berucap ; “Wis ora usah digagas. Ganti menteri yo ben. Ameh ganti kurikulum yo ra masalah. Sing penting tugas kita sebagai guru adalah mendidik. Ndidik anak-anak ben dadi wong apik.” Dan 99% saya pun sepakat dengan pendapat beliau.

**

Mendidik. Ya, tugas utama guru/ tenaga pendidik ialah mendidik. Mendidik merupakan rangkaian aktivitas yang meliputi mengajari, melatih, mengasah, mengarahkan, hingga mengapresiasi. Guru tidak hanya sekadar menyampaikan materi pelajaran didepan kelas, memberi tugas, lalu memberikan skor nilai. Lebih dari itu.

Mendidik dan pendidikan sama-sama berasal dari kata dasar didik. Jika kita menengok KBBI, didik berarti pelihara, latih. Bahasa Jawanya ngopeni. Ngopeni itu sifatnya seumur hidup. To be continue. Tidak mandeg. Alias terus menerus. Layaknya orang tua ngopeni anak-anaknya. Dari orok sampai dewasa. Begitu pun peran seorang guru. Berjuang ngopeni siswa-siswi dengan prinsip asah, asih, asuh.

Seorang sufi terkemuka Syaikh Mahi Cisse mengatakan ; bukan tugas guru mengisi muridnya asupan-asupan, sebab di dalam diri si murid sudah terkandung semuanya. Ketika kau menggali sumur, kau tidak mengeduk tanahnya kemudian menuanginya air. Melainkan menggalinya hingga memancar mata air.

Berkaca pada petuah diatas, peran guru lebih cenderung sebagai fasilitator. Yakni membantu, mendampingi, serta memfasilitasi para siswa menemukan passion atau keahliannya. Percayalah bahwa setiap anak memiliki keistimewaan masing-masing.

Hal tersebut senada dengan konsep yang diajarkan guru-guru kita di Majelis Maiyah. Meski Mbah Nun dan Marja’ Maiyah tidak pernah mengaku diri sebagai guru. Simbah lebih sreg memposisikan sebagai teman belajar bagi Jamaah Maiyah. Mbah Nun dengan setia menemani anak-cucunya Sinau Bareng. Menaburkan benih ilmu, pencerahan, dan nilai-nilai kebaikan. Mengajak kita menemukan ‘mata air’ kedaulatan sebagai manusia.

Heran. Orang sebaik dan setulus itu tetap berendah hati tak mau menganggap dirinya guru. Sebab kita tahu di Maiyah semua orang bisa menjadi guru sekaligus murid. Posisi guru dan murid sangat dinamis, sesuai situasi dan kondisi. Oleh karena itu spirit yang dibangun di Maiyah adalah Sinau Bareng.

Guru bukan profesi. Bukan jabatan. Bukan pula karier. Guru adalah sebuah pengabdian. Rakaat panjang perjuangan. Dan sesungguhnya dimuka bumi ini guru yang sejati hanyalah satu. Allah, Ilahi Rabbi. Allazii ‘allama bil-qolam : Yang mengajar (manusia) dengan pena. ‘Allamal-insaana maa lam ya’lam : Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al Alaq : Ayat 4-5). Tuhan, aku berguru Pada-Mu.

Kepada siapa pun yang pantas digugu lan ditiru, saya ucapkan selamat hari guru.

Gemolong, 27 November 2019

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait