Menu Close

Ibu, Iba Beribu-ribu

0Shares

Ngelmu iku kelakone kanthi laku. Petuah pepatah Jawa ini tidak akan berarti apa-apa kalau hanya sebatas ditulis atau dibaca. Akan bermakna dan berhikmah ketika sudah dilakoni. Dijalani. Diamalkan, dan diimplementasikan.

Kita akan tahu rasa pedas kalau kita sudah nyeplos lombok. Kita akan merasakan panas, kalau kulit kita keslomot mowo. Dan kita akan paham bagaimana suka-duka berumah tangga apabila kita sudah berdua alias menikah. Para jomblo jangan marah. Sebab yang terakhir tadi masih menjadi cita-cita panjang, dan entah kapan mewujud kenyataan. Oh rasa cinta bersabarlah menantinya.

Ada yang bilang anak lelaki lebih dekat dengan Ibunya, sedangkan anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya. Ini bukan rumus baku. Sangat relatif. Bisa berlaku atau tidak. Sarat dialektika disana. Dan ternyata hal itu tidak sepenuhnya berlaku pada anak lanang saya. Si boy memang lengket sama Uminya, tapi Ia juga tidak bisa jauh-jauh dari Abinya.

Koyok wong Arab wae Abi-Umi. Hehe. Faktanya tidak kok. Kami asli orang Jawa-Indonesia. Lebih nyaman dengan sebutan Ayah-Ibu. Selain karena faktor wong Jowo, tidak enak kalau misalkan ada yang bertanya, anakmu mimiknya apa mas? Lantas saya jawab ASI. Air Susu Ibu. Bayangkan kalau istri saya dipanggilnya Umi, kan jawabnya saya nanti jadi saru. Mimiknya ASU, ehh.  (silakan disensor).

Meski anak semata wayang kami dekat dengan kedua orang tuanya, ada momen-momen tertentu yang Ia hanya mau dipegang oleh Ibunya. Seperti saat dia ngantuk, sakit, atau badannya panas. Si anak sama sekali tidak mau digendhong oleh Ayahnya. Disenggol wae emoh. Apalagi orang lain. Embah, pakde, bude, om, tante, semua mental. Selain Ibunya ditolak mentah-mentah.

Peristiwa demikian telah saya alami berkali-kali. Ketika anak rewel dengan berbagai sebab, maka Ibu adalah “obat penenangnya”. Pelukannya adalah rumah teraman. Gendhongannya adalah kasur ternyaman. Hanya dalam dekap dan belaian hangat sang Ibu Ia merasakan surga kenikmatan. Dan siapapun tak bisa mengambil alih perannya. Wajar jika seorang Dee Lestari mengatakan, Malaikat Juga Tahu, aku (ibu) yang jadi juaranya.

**

Ngelmu iku kelakone kanthi laku. Setelah melakoni sendiri baru kita akan tahu. Berangkat dari pengalaman diatas saya semakin yakin dan tidak ada alasan lagi untuk membantah apalagi menyangkal. Kenapa Baginda Nabi sampai bersabda ;  Al-jannatu tahta aqdaamil ummahaat. Atau lazim kita pahami surga itu ditelepak kaki Ibu. Silakan Anda mau menafsirkan hadis tersebut bagaimana.

Yang jelas seorang Ibu berperan lebih dalam mengasuh dan mengasihi anak-anaknya. Peran yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun. Kalau seorang Ayah masih bisa pergi dan meninggalkan anak untuk berbagai urusan, lain dengan Ibu yang hampir seluruh waktunya tercurah bagi buah hatinya.

Dalam syair yang indah bang Haji Rhoma Irama berpesan. Darah dagingmu dari air susunya. Jiwa ragamu dari kasih-sayangnya. Dialah manusia satu-satunya yang menyayangimu tanpa ada batasnya. Sedangkan dalam puisi, Mbah Nun menasihati.

Kalau engkau menangis

Ibundamu yang meneteskan air mata

Dan Tuhan yang akan mengusapnya

Kalau engkau bersedih

Ibundamu yang kesakitan

Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan-hiburan

 

Maka agaknya kurang tepat jika sosok Ibu hanya diperingati satu tahun sekali. Lebih tepatnya figur Ibu kita ingat-ingat setiap saat, sepanjang waktu.

Ibu, selamanya adalah Ibu. Entah kita kelak telah beranak-cucu, Ibu tetaplah menjadi Ibu. Dan saya berani bersaksi, iba beribu-ribu itu bernama Ibu.

Selamat bu, untuk dunia-akheratmu.

 

Gemolong, 22 Desember 2019

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait