Menu Close

Meruang : Memberi dan Menjadi Ruang

0Shares

Di penghujung tahun 2019 hujan turun. Sejak siang hingga malam “banyu langit” enggan menghentikan lajunya. Ngriwis ra uwis-uwis. Sepertinya hujan merata. Dan semua daerah mendapatkan bagiannya.

Hujan bukan musibah. Tetapi anugerah. Air hujan akan berubah menjadi musibah (banjir, longsor, dll) manakala air tak menemukan tempat alirannya. Kodrat air, mengalir dari hulu ke hilir. Ketika arus air bertemu dengan got, selokan, dan sungai yang tidak memberinya ruang untuk mengalir (karena terhalang oleh sampah dan kotoran) maka air akan meluap. Muntah. Meluber. Dan terjadilah banjir.

Pertanyaannya, siapa yang membikin got, selokan, sungai penuh dengan sampah dan kotoran, sehingga menyebabkan air hujan tak dapat mengalir lancar? Jawabannya, manusia. Manusia yang tidak bersahabat dengan alam dan lingkungan. Gemar membuang sampah, limbah, sisa-sisa makanan tidak pada tempatnya.

Maka tidak tepat dan tak masuk akal, apabila menjadikan hujan sebagai “kambing hitam” terjadinya banjir. Air tidak salah apa-apa. Manusia-lah yang tidak peka, sembarangan, dan tidak me-maintance dengan baik anugerah hujan yang telah diberikan Tuhan. Manusia telah berlaku lalim, tega mengkonversi (mengubah, menyebut, mengingkari) anugerah (air hujan) menjadi musibah (banjir).

Anugerah yang bernama hujan itu akhirnya tuntas pada pukul 9 malam. Untuk wilayah Gemolong dan sekitarnya. Niat awal ber-Sinau Bareng Mbah Nun dan Kiai Kanjeng di Karanganyar gagal. Sabar, sabaaar. Untuk mengobati kekecewaan, saya ajak seorang teman untuk menyaksikan Letto yang pada waktu bersamaan sedang manggung di lapangan Klego, kab. Boyolali.

Jarak antara Gemolong – Klego tidaklah jauh. Dengan kendarai motor dapat ditempuh 15 menit ngebut. Atau 30 menit jalan santuy. Santuy sajalah. Yang penting sampai.

Sampai di lokasi, terdengar suara sayup-sayup mas Sabrang menyanyikan lagu Sandaran Hati. Jalanan padat merayap. Lapangan menjelma lautan manusia. Tumpah ruah. Aura pedesaan yang sejenak berubah menjadi permai, hiruk, gegap gempita. Layaknya kota yang bertabur sorai dan cahaya.

“Malam ini kita berkumpul di ruang yang sama. Ruang yang sama-sama mendamba keselamatan. Keselamatan untuk hari ini, tahun depan, dan kelak di hadapan Tuhan.”, ucap mas Sabrang di depan ribuan jamaah, eh penonton ding. Ini kan konser bukan pengajian.

Kemudian nomor Gundul-gundul pacul dimainkan dalam berbagai genre. Mulai dari pakem (versi lagu anak, riang gembira), rock, reggae, jazz, keroncong, sampai dangdut koplo. Semua penonton terhibur.

Ini sangat menarik. Melalui persembahan lagu Gundul-gundul pacul dalam ragam versi, Mas Noe cs ingin menyampaikan pesan kepada penonton sekalian perihal keberagaman. “Malam ini Letto sengaja membawakan lagu Gundul Pacul dengan bermacam jenis musik. Letto ingin belajar menjadi ruang bagi genre musik apapun.”, papar mas Sabrang.

Pesan sederhana dari mas Sabrang tersebut dapat kita jadikan sangu dan pegangan. Kita boleh suka musik rock tapi tidak boleh mengejek yang doyan jazz. Kita boleh teriak uyee macam Bob Marley, tapi jangan sinis pada penggemar woyo-woyo dangdut koplo. Artinya, semakin kita dewasa semakin kita mampu menjadi ruang bagi semua. Menghormati siapa saja (meski berbeda). Dan menampung apa saja. Berhati samudera.

**

Musik, merupakan media yang efektif untuk mengeruk massa. Musik adalah bahasa universal yang dapat diterima semua lapisan. Maka sangat tidak setuju kalau musik diharam-haramkan. Ranah musik mungkin lebih pada asas manfaat atau mudharat. Dan pada malam pergantian tahun 2019-2020, mas Sabrang bersama Letto telah membuktikan bahwa musik sangat memberikan manfaat kepada masyarakat. Selain terhibur lewat sajian musik dan lagu, para penonton pulang membawa “oleh-oleh” ilmu, pencerahan, kegembiraan, kenangan (yang tak terlupakan), serta jiwa yang meruang untuk mengarungi hari esok yang lebih cemerlang.

Tak terasa 2019 telah purna. Tahun 2020 kini menyapa. Mari sebisa-bisanya kita menjadi ruang bagi siapa dan apa saja.

Gemolong, 1 Januari 2020

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait