Menu Close

Pengantar Memasuki Tahun 2020

0Shares

Lingkar edar matahari sudah mengalami pengulangannya, kali ini langit nampak lebih mendung setelah banjir lumayan besar di akhir tahun. Setidaknya sudah empat jenazah hanyut di bengawan solo, dua di sebuah sumur berbau gas, dan satu di sebuah waduk. Sisi lainnya Banjir di seputaran soloraya seperti gayung bersambut dengan banjir di Ibukota, juga tanah longsor di bogor yang sampai sekarang masih minim akses meski bantuan terus menumpuk. Katastrofi.

Geliat massa aksi dunia juga terlihat gempar setelah tagar “WW III” menghiasi layar televisi dan media sosial, disambung pula dengan memanasnya soal perbatasan laut di kepulauan Natuna, atau mencuatnya nama Pemerkosa Lelaki di Inggris yang berasal dari Indonesia. Baru beberapa hari melangkah ke edar baru tetiba banyak kegelisahan dihujamkan begitu saja ke pikiran mereka yang menikmati isu-isu yang sebenarnya jauh dari jangkauan mereka. Dikala dunia sedang gelisah terhadap berbagai perubahan, saya dan beberapa kawan sedang asik mengambil nilai-nilai dari Sinetron kedatangan Isa Al-Masih kedua kali. Sinetron yang menurut saya lebih menarik dari pada obrolan-obrolan diatas.

Altruis radikal atau jadi tim wirid

Otokritik yang harus saya tuliskan di awal tahun ini tentu ketika terjadi bencana di koran dan media justru berlomba-lomba ingin memunculkan nama organisasinya terjun di kemanusiaan, arahnya untuk membuktikan bahwa organisasinya tidak radikal dan bermanfaat. Disisi lainnya bencana sebegitu hebatnya hanya jadi ajang gontok-gontokan politik berjubah Gubernur lama vs Gubernur baru. Tidak habis pikir saya kenapa, dikala orang lain sedang kesusahan yang diblow-up malah sisi politisnya.

Keadaan lainnya ketika ada kasus pemerkosaan lelaki oleh lelaki di Inggris, bukannya malu tapi pemberitaan dan perdebatan Indonesia hanya berkisar cara media asing vs media lokal memberitakan kasus tersebut, tapi tak mengambil hikmah dari kasus tersebut. Kenapa harus bertengkar hebat, kenapa harus berdebat, mereka-mereka ini nganggur atau butuh pelampiasan emosi? Atau karena sekelilingnya tidak memungkinkan untuk meledakkan emosi. Akhirnya pelampiasan emosinya hanya diarahkan pada berdebat yang tak kunjung menuntaskan apapun, selain muspro (sia-sia) juga berada jauh dari genggaman.

Alangkah baiknya jika sedulur-sedulur mulai nyicil thandang dimanapun berada, dibidang apapun, sejauh apa yang bisa dijangkau, meminimalisir masalah dan terus menambah keberkahan. Altruis kalo istilahnya, supaya maiyah tak hanya menjadi mimbar-mimbar diskusi tapi minimum secara individual pelakunya dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain disekelilingnya.

Terminologi lain adalah bermanfaat bagi mahkluk lain dengan cara lain, cara yang tidak sama seperti pergerakan massa atau gerakan jasadiyah, tetapi masuk ke ruang-ruang sunyi, ke tempat-tempat suci, mensucikan diri dan menyiapkan diri untuk mulai mengurangi memohon atas keinginan diri sendiri tapi naik level mulai mendoakan banyak hal lain disekitar kita, apapun cara sedulur-sedulur. Alam, manusia, tumbuhan, hewan, kondisi psikologi massa, kondisi psikososial, perubahan geopolitik dan dibukanya banyak temuan-temuan seiring mengikisnya tanah dan geliat arus balik kebudayaan harus pula diimbangi oleh kesiapan-kesiapan.  Disini mungkin akan ada kawan – kawan yang mau mulai serius menekuninya.

Iqro’

Yang menjadi poin berikutnya adalah terus membaca perubahan-perubahan keadaan. Syukur-syukur dapat memetakan pola-pola dari berbagai rutinitpas keseharian. Apa yang nambah apa yang berkurang dari keseharian teman-teman, apa yang baru terjadi apa yang tidak terjadi lagi, kemudian mencatatnya sebagai sebuah rekaman yang suatu ketika bisa didiskusikan bersama-sama sebagai pengingat dan elaborasi makna.

Catatan-catatan keseharian bisa kawan-kawan kirimkan ke Redaksi Banyumili jika memang tak sempat bertemu semestinya, supaya minimal apa yang pernah kawan-kawan alami di tahun ini hingga mendatang ada bukti rekamannya.

Pembacaan berikutnya adalah meneruskan apa yang sudah berkali-kali Simbah Nun ingatkan bahwa tahun-tahun ini adalah tahun taqwa yang artinya waspada. Peringatan ini akan semakin relevan ditahun ini, kita akan memasuki beberapa pilkada serentak di akhir tahun, juga perubahan musim yang cukup ekstrim, tentu juga perubahan sosial karena tenggang waktu hutang negara akan ditagih yang pasti berdampak pada beberapa pungutan negara seperti cukai rokok, BPJS, BBM, Listrik atau pajak yang lain. Segalanya harus sudah menuju puncaknya, hutang harus segera dibayar dan BUMN akan terus diperas untuk menggenapi pelunasan, apakah tidak berdampak ke masyarakat luas? Analisis saya pasti berdampak.

Sregep dan Berhemat

Maka untuk mengatasi efek dari lonjakan pungutan ini ketika income  dulur-dulur tidak naik jalan satu-satunya adalah berhemat, artinya mulai menakar efisiensi dari pengelolaan kas-kas dari pundi-pundi yang dulur-dulur kerjakan. Hal-hal yang bisa ditanam karena ini musim hujan mulailah menamam dan minimalisir bumbu dapur atau buah segala upaya yang bisa diusahakan, karena jika pungutan naik sementara cash-flow tak berubah saya takut akan menjadi masalah baru dikeluarga dulur semua, yang mungkin bisa berdampak ke saudara lain atau tetangga. Yang malah menambah runyam sesrawungan kita dengan banyak manusia.

Sregep adalah kunci berikutnya. Kunci ini saya tangkap dari Mbah Nun kemarin pas mengikuti workshop penulisan. Salah satu perang melawan diri sendiri adalah berperang melawan kemalasan, Ini cukup universal saya kira, bahwa bagi kawan-kawan yang menulis kalo bisa mulai meningkatkan kuantitas syukur kualitas penulisan, kawan-kawan yang dagang, pegawai, musisi ya harus mulai terus sregep menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Tanpa kerajinan tidak ada kebiasaan, apalagi yang disentil oleh pak Budi sebagai Intuisi nampaknya akan jauh. Jadi Sregep adalah kunci utama dalam menjawab tantangan zaman ditahun ini.

Akhirnya selamat memasuki tahun matahari baru, tidak perlu terlalu risau akan isu-isu global, cara maling yang efektif ya membiarkan rumah tangga tak fokus kemudian risau dan maling memanfaatkan distraksi itu dalam pencurian sistematis. Terus berfikir jernih, jika kesesakan bertambah carilah keseimbangan dan kejernihan fikiran supaya tak larut dalam berbagai pencobaan yang harusnya tidak perlu.

Selamat berjuang, menebarkan cinta, menjadi altruis sejati dan terus ndheder kautaman.

Kleco Wetan, 10 Januari 2019

Indra Agusta

 

Tulisan terkait