Menu Close

Kompleksitas Mesias Sejak Dalam Pikiran

0Shares

Fenomena seperti Kerajaan Agung Sejagad di Purworejo bukanlah hal yang baru. Jadi, jangan terlalu cepat kaget, nggak baik! Dulu ada Khrisna Venta yang mengaku sebagai mesias versi baru. Ia mengaku sebagai pemimpin penyerbuan kapal roket dari planet Neoprhates menuju ke bumi. Alvaro Theiss atau INRI di tahun 1979 juga mengaku sebagai Yesus yang dilahirkan kembali. Oscar Ramiro Ortega-Hernandez di tahun 2011 bahkan sampai menembakkan peluru AK-47 di gedung putih Washington dan mengaku sebagai Yesus Kristus yang dikirim untuk membunuh Barrack Obama yang menurutnya anti Kristus.

Di negara berflower ini juga punya sejarah fenomena yang sama. Telinga kita pasti tidak asing dengan nama Lia Eden atau Lia Aminuddin yang mengaku sebagai wujud reinkarnasi dari Bunda Maria. Pengikut Salamullah atau Kaum Eden berjumlah 100-an orang lebih walaupun lambat laun berkurang. Selain Lia Eden, ada Ahmad Musaddeq yang mengaku sebagai nabi terakhir setelah Nabi Muhammad SAW dan saya kira masih banyak orang-orang yang mengaku sebagai mesias yang tak terekspos oleh mata wartawan.

Penyakit Messiah Complex dapat muncul dari keterpurukan manusia menghadapi permasalahan internal dirinya dan lingkungan sekitarnya. Selain itu, ketidakmampuan membaca perubahan sosial, atau bahkan tidak mampu membuat perubahan itu sendiri, manusia akan cenderung mengada-adakan dirinya karena efek delusi sosial dan religiusitas. Manusia yang mengidap Kompleks Mesias memiliki citra diri yang membuat ia merasa bertanggungjawab atas nasib orang lain. Maka tidak heran kalau banyak orang yang mengaku sebagai juru selamat di tengah kegoncangan sosial, politik, dan ekonomi serta kegersangan spiritualitas.

Penyakit itu Ada di Sekitar Kita

Kesadaran alam pikir manusia dapat berangkat dari “Cogito ergo sum”nya Descartes dan  “Ðasein”nya Heidegger atau bahkan malah cenderung berpijak kepada Levinas yang menjadi kritik dari “Cogito ergo sum” itu sendiri, yaitu “Respondeo ergo sum” (Aku bertanggung jawab, maka aku ada). Namun, rasa tanggungjawab dan eksistensi yang berlebihan akan menimbulkan sikap yang membahayakan. Orang-orang yang terjangkit kompleks mesias merasa mempunyai tanggungjawab atas hidup seluruh umat manusia dan karena citra diri yang berlebihan maka ia akan mengaku sebagai juru selamat. Ketidakstabilan kondisi ekonomi, sosial, dan politik dalam sebuah negara menjadi salah satu penyebab penyakit itu terjadi. Selain itu, perubahan yang stagnan dan didorong romantisme kejayaan masa lalu pun punya pengaruh yang kuat. Totok Santoso Hadiningrat mendakwa dirinya sebagai orang yang meneruskan janji Majapahit 500 tahun yang lalu. Terlepas dari motif penipuan dan banyaknya pengikut, semangat yang dipunyai oleh raja anyaran ini bisa saja berawal dari banyaknya permasalahan sosial yang tak terselesaikan dan harapan kejayaan Majapahit yang tak kunjung datang.

­Orang-orang semacam Sinuhun Totok ini ada banyak di sekitar kita. Walaupun tidak mendeklarasi diri sebagai juru selamat, tetapi mereka mengidap Messiah Complex dalam bentuk yang berbeda. Di tengah arus postmodern ini, dunia perdhemitan sangat laku dipasaran. Nggibahi dhemit tidak memandang kelas sosial, maupun ekonomi. Sangat antusias dan tak lekang oleh waktu. Semakin banyak cerita mistis walaupun tidak berasal dari pengalamannya sendiri, “jare pakheku, jare masku kae, jare tanggaku, jare kancane sedulure bapake kancaku kae anu..” maka semakin tinggi anggapan orang lain bahwa ia adalah seorang dukun yang menjadi juru selamat para korban kerasukan. Minimal dianggap orang yang menerapkan nilai habblum minal dhemit lah!

Romantisme demonstrasi dan aksi jalanan menjadi obsesi mahasiswa karena hanya dengan orasi, ada rasa yang tumbuh di dada bahwa ia telah menyelamatkan negara. Walaupun gen Z sudah lahir, romantisme gerakan semacam ini masih ada. Aksi Gejayan kemarin sangat berbau romantisme gerakan era 98 walaupun bedanya tidak mempunyai arah pelengseran presiden. Entah tidak tahu atau lupa, keberhasilan aksi dalam bentuk besar maupun kecil harus memperhatikan legitimasi politik dan perkembangan diskursus politik. Bukan asal-asalan turun ke jalan walaupun didukung massa besar-besaran. Jika di dada ada rasa menyelamatkan masyarakat dari ketertindasan, maka berhati-hatilah. Jangan-jangan….

Kenyamanan spiritual di setiap majlis ratusan orang pecinta selawat yang abai terhadap kondisi sosial dan beranggapan bahwa hanya dengan mengikuti majlis tersebut ada rasa menjadi orang yang paling mencintai dan mengikuti sunnah Baginda Nabi Rasulullah SAW. Jamaah Maiyah dan Gusdurian menganggap bahwa Cak Nun dan Gus Dur adalah juru selamat yang paling benar dalam menjawab setiap permasalahan. Berguru boleh-boleh saja asal jangan sampai pengultusan yang menyebabkan sikap anti-kritik dan pemikiran yang jumud. Gairah NKRI Harga Mati, Khilafah Islamiyyah, Islam Nusantara, Gerakan Hijrah yang mencita-citakan kehidupan masyarakat ideal berlandaskan agama dan budaya tetapi tidak benar-benar serius belajar sejarah bangsa ini.

Sering berada di panggung dan memberikan petuah kepada orang banyak dianggap sebagai orang cerdas. Sering naik gunung dan melambai-lambaikan tangan di tepi samudera dianggap sebagai orang yang terbukti cinta terhadap alam. Gerombolan pengendara se-merk dianggap sebagai raja jalanan. Uang dianggap sebagai sarana yang ideal untuk bersedekah. Kemiskinan dianggap sebagai keadaan yang paling dicintai oleh Tuhan, dan sakit hati karena pasangan atau orang lain dianggap sebagai orang yang paling teraniaya, paling mengenaskan, paling terpinggirkan di seluruh jagad raya, sehingga malaikat dipaksa turun untuk membelanya. Wikwikwik Ambyar!

Sebenarnya tulisan ini berangkat dari KulWAS, atau utas yang dibuat melalui status Whatsapp yang saya buat kemarin. Eman-eman kalau hanya dibagikan kepada orang-orang yang setia membaca status WA saya. Apalagi semakin banyak status, semakin menurun orang yang melihat. Wikwikwik Ambyar!

Kompleksitas mesias sudah benar-benar ada sejak dalam pikiran, walaupun hanya menyentuh pada tahap aksiomatik saja. JIka tulisan dan status Whatsapp saya ini dianggap dan saya anggap sebagai sebuah kebenaran dan layak untuk disetujui tanpa pemebelajaran lebih lanjut, maka menertawakan Sinuhun Totok beserta abdi dalem kerajaannya sama halnya dengan menertawakan diri saya sendiri. Untuk itu, tertawalah! Sebelum tertawa itu dilarang. Tentunya, oleh ego kita sendiri.

Athar Fuadi

Petapa Lereng Merapi

Tulisan terkait