Menu Close

Menikah, Momentum, Gap, dan Keruwetannya

0Shares

Apa yang lebih melegakan dari kebahagiaan. Mungkin cinta itu sendiri. Kita mendapati garis waktu yang terus berputar, lingkar edar planet yang mungkin mirip seperti relasi manusia. Ada masa-masa ketika kita dijauhkan kepada seseorang, ada kalanya ketika kita bertemu pada lingkar edar yang sangat dekat, gaya gravitasinya saling tarik menarik kemudian manusia menemukan kedekatan-kedekatan pada setiap perjumpaan-perjumpaan.

Manusia, jalma otentik dengan berbagai kemungkinan dan kecenderungan psikologis selalu menawarkan banyak hal untuk diamati. Jalma akhir-akhir ini menangkap kegelisahan menyoal pernikahan, kedirian, kemandirian dan kehancuran panggung rumah tangga.

Pada setiap peran dan usia yang jalma lakoni selalu merekam-rekam berbagai kecenderungan sebuah pernikahan. Ada yang menikah hanya karena geliat relasi kekuasaan, materialis, mengumpulkan -trah, atau serendah melancarkan nafsu. Pada kemungkinan lain banyak yang menikah karena ingin membuat segala sesuatunya lebih baik, memperbaiki kondisi finansial, memperbaiki potensial fisiologis tubuh anak-anak, dan bagi sedikit orang lainnya adalah penyempurnaan DNA. Orang jawa bilang bibit, bebet, bobot.

Entah sejak kapan teori ini mulai berlaku yang jelas dilapangan hampir sangat sedikit orang tua, kerabat yang menjadi wali pernikahan yang menyetujui pernikahan apa adanya. Tidak banyak.

Dalam sudut pandang yang subjektif, bukankah memang begitu tidak ada manusia yang tak punya ‘standar minimal’ apapun, seperti memilih makanan yang murah atau baju yang promo jika dilihat dari harga mungkin sangat murah. Tetapi pemilihan harus yang ‘murah dan promo’ ini kan sikap seorang subjek dalam melatar belakangi gaya hidup yang kemudian dijadikan standar mereka.

Semua punya standar

Jalinan banyak hal yang masuk ke celah pikiran kemudian merasuk, diolah, dan dipendarkan begitu saja di otak manusia. Semuanya nampak rumit namun kemudian menyimpulkan sesuatu. Sesuatu yang manusia menganggapnya sebagai sebuah standar. Standar ini mungkin berubah seiring terus berputarnya manusia yang seperti semesta.

Zaman, lingkungan, geliat sosial, geopolitik, dogma dari mimbar agama, informasi publik via media sosial, bacaan, rasan-rasan semua mempengaruhi perubahan data manusia. Yang outputnya tentu sudah pasti adalah perubahan standar.

Didunia pernikahan soal standar juga seiring waktu berubah, manusia modern karena mainstream jaman menggiringnya kepada kebutuhan finansial akhirnya meletakkan kemampuan finansial calon istri/suami berada di level puncak standar. Persoalan lain seperti kemampuan intelegensia, wawasan, sopan santun, kenyamanan, atau cinta itu sendiri kadang diabaikan. Jawabannya seperti jaman yang sangat realistis ini, banyak yang gelisah karena pemenuhan kebutuhan, tentang hari-hari yang terus dipenuhi oleh tagihan. Atau bermuara dari hati yang telah luka, karena kemelaratan orang tuanya misalnya orang bisa menjadi sangat ambisius untuk kaya secara materi dan menstandarkan materi sebagai syarat kekasihnya.

Atau bersimpuh pada standar immateri ada orang tua yang mau calon mantunya harus pinter agama, punya ilmu agama, atau ukuran-ukuran lain yang tidak berwujud materi seperti punya sense of humor, music, art, politic dan banyak lainnya yang juga masuk sebagai pertimbangan.

Lantas bagaimana selayaknya pernikahan terjadi, semua orang tentu bebas menyimpulkannya sesuai dengan kondisi diri masing – masing. Pernikahan yang dijodohkan ataupun dipaksa harusnya akan punya etisnya sendiri apa-apa saja yang ia diamkan dan ia lawan.

Jalma pribadi lebih setuju kepada Intimasi, karena sudah melihat banyak perceraian, cek-cok hebat serta dibarengi dengan keruntuhan keluarga hanya karena mereka tidak pada pondasi yang sama soal pernikahan, keseimbangan nya goyah. Banyak yang bilang pernikahan adalah kompromi, setidaknya saya tidak begitu setuju dengan pendapat itu, karena kompromi akhirnya berujung pada dominasi pada posisi siapa yang menang akan menang, sisi lainnya bertahan. Pada mereka yang seimbang secara psikologis bisa jadi bertahannya ini akan jadi sekam dalam rumah tangga yang sewaktu-waktu meledak, lalu meluluhlantakkan seluruh isi rumah. Harga yang dibayar sangat mahal kemudian kita menyusun keping demi keping rumah yang rusak.

Memang intimasi tidak datang begitu saja, bahkan kadang sangat moody tak semua pertemuan menghasilkan intimasi. Kunci yang terlihat tentu di komunikasi, kita mengobrol dengan banyak orang tidak semuanya cocok, dengan banyak lawan jenispun juga begitu tidak semuanya menenangkan, kadang malah risih dan sebagainya.

Dan jika bicara pernikahan, sebenarnya saat ini juga lebih untuk menarik diri pada sunyi. Entah pernikahan selalu menakutkan karena sepanjang hidup menghadapi dan mengalami retak-retak keluarga yang hanya berkutat soal utang baik utang materi maupun utang rasa, rasa ingin beli ini itu, soal having lot of money, soal menjadi PNS, soal-soal yang selama ini ditanam oleh zaman. Ketakutan akan apa jadinya jika pernikahanku hanya diusik oleh keluarga dalam banyak hal yang merepotkan, sementara disisi lainnya mereka tidak pernah mau berpikir kenapa, ada apa, bagaimana anak-anak ini hidup, standar pencapaian apa yang mereka capai, kesenangan, kenangan apa yang ingin mereka simpan untuk ngeyem-eyem diri dikala penat hebat.

Luka

Orang tua kadang-kadang terlalu praktis, berfikir bahwa anak  hanyalah investasi masa depan, kadang mereka juga tak ikut andil banyak namun mengklaim investasi, menuntut harus “sukses” (mean menghasilkan banyak uang), tapi sebenarnya hanyalah luka dari masa lalu mereka. Mereka menstandarkan anak-anak pada ruang yang mereka telah kalah, tapi mereka gagal dalam berdamai dengan diri mereka sendiri, lalu luka-luka ini timbul begitu saja.

Luka pada akhirnya juga mempengaruhi standar “Calon menantu”. Harapan-harapan seperti ditumpukkan begitu saja kepada calon mantu yang menurut mereka cocok, yang padahal belum tentu kriteria itu masuk pada sang subjek. Segala cara seperti ditempuh untuk melegakan haus mereka. Apapun macam bentuknya.

Bagi orang tua yang tak bergitu berambisi, biasanya mereka cukup mapan keluarga anak-anaknya akan lebih nyaman. Anak-anak yang saling mencintai tidak lagi terbebani luka-luka orang tua mereka. Mereka ini yang kemudian minimal bisa menyusun rumah tangga tanpa campur tangan hebat oleh mertua dan orang tua.

GAP

Rentang usia, waktu, jaman, dan rutinitas harian ini juga memunculkan beragam masalah dan harapan dikemudian hari. Membuat jalma berbeda, dalam menentukan sikap atas berbagai masalah. Rentang ini pula yang membuat standar begitu rupa, yang kemudian menyatukan atau memisahkan mereka yang ingin bersama dalam pernikahan.

Rentang selanjutnya adalah kedewasaan berfikir, dalam usia yang samapun saya tidak yakin manusia punya pertimbangan yang sama dalam menjawab segala manifestasi konflik. Jika jarak berfikirnya semakin jauh apalagi rentang tahunnya jua jauh terkadang menimbulkan pertengkaran yang tidak perlu. Cek-cok yang wasting time hanya karena beda pemahaman dan tak mau mengolah kesalahpahaman dalam duduk bersama mengolah nalar. Disini alangkah lebih baik jika manusia bertatap-tatap tidak hanya menjalani rutinitas yang “menyenangkan” lawan jenis, tapi juga lebih diisi oleh diskusi berbagai tema dalam menjawab masalah yang mungkin muncul setelah menikah, dan lebih baik memang jika diributkan di awal, daripada begitu nikah malah menghancurkan banyak sendi keluarga.

Silahkan dirapatkan rentang jarak yang justru akan membuncah dikemudian hari, jika rentang terlalu jauh jangan dipaksakan nanti malah membingungkan dikemudian hari. Karena aktualisasi dirimu akhirnya terhenti hanya karena ‘mengiyakan’ kekasih, kompromi-kompromi tidak menjadikan pribadi yang lebih hebat namun malah merendahkan kualitas dari hidup ya apa gunanya kalian ber-fusion dalam jalinan Pernikahan.

Singleness

Penting untuk terus berposisi single. Gampangnya single itu sendiri baik-baik saja dan berdua lebih baik. Kebanyakan dari pasangan selalu menempatkan posisi psikologis sebagai diri yang kesepian (alone),   lalu memposisikan pasangan/orang lain sebagai objek yang harus mengerti dia dalam segala keadaan, naifnya lebih misterius lagi adalah wanita yang berposisi seperti ini kadang tidak pernah membicarakannya pada pasangan, menelan diam didalam hati tapi terus berposisi untuk dimengerti. Lalu drama, atau tarik-menarik sengit terjadi karena hal-hal yang sepenuhnya tidak perlu.

Tau siapa diri dan hal-hal yang diusahakan oleh diri. Indikator ini yang harus dipenuhi untuk menjadi single jika tidak tau siapa diri lalu arah langkah juga akan bias. Tentang hal-hal yang inti saja, yang fundamental dari dalam diri, soal detail-detail pastinya akan berubah seiring bertambahnya data otak manusia. Demikian pula semakin single akan berbanding lurus dengan tingkat kedewasaan, kematangan bersikap dan berfikir subjek.

Jika sudah siap, berarti kalian memang sudah siap membagi air, dan membasuh orang lain, membasuh pasangan dan keluargamu.

Momentum

Pernikahan pasti akan terjadi pada momentum-momentum yang kita tunggu. Gampangnya seperti kita menunggu waktu misalnya, ada masa-masa dimana sudah dijudge oleh sosial dan tidak kuat. Akhirnya terpaksa menikah karena alasan klasik, umur meski secara kedewaasaan, finansial, kenyamanan, intelegensia belum memenuhi standar minimal.

Peran momentum ini kadang juga tercipta karena terjadinya kehamilan di luar nikah, dijodohkan orang tua, ditunjuk oleh sesepuh, kyai atau pendeta yang diamini oleh orang tua, atau Aji mumpung mumpung dekat dengan cewek yang kira-kira bisa menambal kehancuran keluarga mereka dan ke alasan klasik materialistis. Akhirnya pernikahan harus terjadi begitu saja.

Momentum selanjutnya adalah ya sama-sama single, sudah cocok trus kemana lagi kalo gk nikah, kayaknya lebih baik nikah, dan melahirkan bayi-bayi yang tak kalah ampuhnya dengan orang tua mereka lalu terjadilah.

Logika Dan Komitmen

Selain beberapa faktor diatas secara subjektif saya selalu percaya bahwa menikah itu urusan logika, urusan nalar. Dimana hampir semua perhitungannya adalah yang masuk nalar manusia, termasuk dogma-dogma yang lintas ke urusan non logik. Tapi tetap saja semua dimasukkan dalam kaidah bernama logika. Menghitung banyak hal, sampai akhirnya keputusan finalnya ditabrak oleh momentum, sebuah keharusan  yang kadang membingungkan bagi mereka yang tidak siap.

Membingungkan merka yang sudah bertahun-tahun membangun, atau membingungkan mereka yang baru kenal tapi harus dijodohkan orang tua. Lalu logika + momentum akan menghasilkan kejadian kejadian yang menarik, entah baik atau semakin ambyar, disini daya dukung analisis seseorang untuk memastikan pasangan itu cocok tidak akan diuji, kemungkinan-kemungkinannya.

CINTA

Selanjutnya kata ini, kata yang bagi banyak orang dijadikan alasan mendasar untuk melaju ke pernikahan. Meskipun disadari atau tidak disadari Cinta itu sangat tidak logis, cair, datang semau-maunya seperti edar planet tadi.

Cinta itu entitas yang mengkoneksikan semua mahkluk. Dalam kadar yang berbeda-beda, tapi cinta memang demikian adanya menemani manusia dalam ragam misteriNya. Cinta dalam makna luas seperti Matahari kepada rerumputan, tanah kepada kaki-kaki yang melangkah, atau  udara kepada manusia demikianlah sebenarnya cinta bermula pada sesuatu yang abadi, dan membersamai tanpa pretensi.

Jika disusun dari sini berarti Cinta hanya membutuhkan momentum, hulu ledak karena tidak bisa diukur dengan logika, sebenarnya intimasi muaranya dari sini. Dan semoga ketika kalian menikah menemukan yang sesuai dengan logika sekaligus dia yang mencintaimu. Karena dua term ini berbeda tempat, berbeda dimensi.

Sujiwo Tejo yang merepresentasikan Cinta dan Menikah sebagai dua term yang berbeda.

“Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa. “

Dan tak jarang mendengarkan cerita seorang yang menjelang pernikahannya justru ditabrak urusan soal memilih cinta atau menikah. Menikah karena mempertahankan sejarah tetapi bosan, atau memilih cinta yang membuat hidupnya lebih berwarna. Dan berbahagialah mereka yang menemukan cinta dan menikah dalam satu jasad pasangan kalian. Karena tak banyak yang demikian, kebanyakan hanya “bertahan” mempertahankan sejarah, anak, atau dominasi etis yang tabu ketika bercerai, mencoreng nama keluarga dan sebagainya.

Sifat cinta sebenarnya sangat jujur, manusia tidak akan bisa mencintai dua subjek sekaligus. Mencintai Gusti atau dunia, wanita satu dengan wanita lain, pria satu dengan pria lain, tidak ada yang mencintai dalam kadar yang sama, sekalipun itu orang tua kepada anak-anaknya. Seperti sebuah hukum bahwa cinta akan bergerak-menggerakkan layaknya misteri, maka para Sufi lebih menikmati sajian Cinta sebagai perwujudan Gusti dalam setiap ciptaan-Nya, kalau dia mencintai kekasihnya, dia mencintai Penciptanya, atau bahwa semua yang bergerak didunia ini adalah representasi dari cipratan kasih Tuhan pada bumi,

Akhirnya terserah, mau menikah, tidak menikah, yang penting kalian tetap bisa mencintai dan jujur menghidupi cinta itu sendiri. Mau kalian beretorika, dijodohkan, memilih, MBA, atau kejadian apapun yang memaksa kalian untuk menikah terserah yang penting jangan kehilangan cintamu, cinta pribadimu, cintamu kepada sesama, cinta kepada semesta yang semuanya merupakan bagian dari Jagad Gede hubungan ulak-alik diri dengan Gustimu.

Soe Hok Gie sempat menuliskannya dalam catatan, dan ini akan jadi penutup.

“Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurdlah hidup kita”

Selamat mengarungi malam, selamat menikmati dialektika sunyi dalam pendar sendiri, selamat menunggu embun pagi, dimana Tuhan bersemayam disegenap hati manusia, dan kita menunggu cinta itu sendiri sebagai perwujudan berdekat-dekatannya manusia kepada Sang Khalik, lewat semesta, tatap, intimasi, dan emanasi.

Kleco Wetan, 21 Januari 2019

Indra Agusta

Tulisan terkait