Menu Close

Memandang Konflik Sebagai Keindahan

0Shares

Menarik sekali tema yang diusung dulur-dulur dari Suluk Surakartan pada rutinan edisi Januari, yang berjudul “Peradaban Konflik”. Konflik pun kini telah menjadi sebuah peradaban. Bahkan di Mukadimah telah di tekankan, sesakti apa makhluk bernama ‘konflik’ ini? Dan di bagian akhir disertakan pula firman tuhan dalam Surat Al-Maidah ayat 48.

Mengapa konflik selalu dihindari, diprasangkai, atau kita sendiri secara tidak sadar justru telah berusaha mengasingkan konflik itu? Jika kita terbiasa niteni awak dhewe, lebih banyak mana antara ketenangan dan konflik yang timbul dalam kehidupan sehari-hari? Ilmu yang kita pelajari selama ini dalam jenjang pendidikan, apakah lebih banyak memuat pengetahuan ilmu atau sekedar mendapatkan pengetahuan akan data-data?

Tentu, ilmu dan konflik sangat berkaitan antara satu dengan yang lain. Jika kita mengambil 4 metode cara berfikir menurut Mas Sabrang, kita mungkin bisa sedikit memahami dimana posisi kita saat ini dalam memahami sebuah konflik. Simulatif, deklaratif, serial, atau paralel. Dan, kebanyakan pilihan berjumlah 4, selalu saya padankan dengan susunan syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.

Di rutinan Suluk, kita bisa mencoba memahami definisi konflik secara simulatif melalui Mas Riwus dengan yang menjelaskan melalui alat peraga wayang goleknya. Lalu, dari penjelasan Mas Angga dan Mas Ajik, kita dapat mengambil makna konflik secara deklaratif dan serial. Dengan penjabaran cara berfikir dan cakrawala pandang oleh Mas Indra dan Mas Aziz dengan isme-ismenya.

Ada masalah apa dengan konflik? Konflik apakah bagian dari sebuah masalah, atau masalah merupakan bagian dari konflik. Atau jangan-jangan masalah dan konflik itu sama. Mungkin iya menurut bahasa, tapi jangan sekali-kali mengganti kata rumusan masalah atau batasan masalah di dalam pengerjaan tugas akhir skripsi menjadi rumusan konflik atau batasan konflik. Sudah bisa dipastikan dosen akan merevisi tugas akhir tersebut. Lhoh, katanya sama?

Mas Riwus selalu saja menegaskan bahwa segala konflik yang menimpa setiap insan tidak akan melebihi batas kemampuan dirinya. Dan kalau sadar akan batas limitasi dirinya. Pengetahuan akan data hanya akan memperkenalkan batas-batas yang tidak harus dilalui, sedangkan pengeahuan ilmu seharusnya mampu untuk lebih mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan atas kronologi urutan (serial) dari peristiwa-peristiwa yang telah dialami. Semakin jauh kita belajar niteni peristiwa sejarah , semakin jauh pula kita bisa memprediksi dan memasang kuda-kuda untuk mempersiapkan peristiwa yang akan terjadi.

Mbah Nun seringkali memaknai suatu masalah tidak dengan jawaban, namun menjawabnya dengan sebuah pertanyaan, “menurut anda, ketika ditimpa sebuah masalah akan merespon dengan kata alhamdulillah atau misuh?” Tentu sebagai orang awam kita akan lebih merespon dengan kata-kata bijak yang penuh dengan umpatan. Dan sering kebablasan mengeluh, ngeyel, bahkan tak sedikit pula yang justru menyalahkan Tuhan.

Padahal, maksud Mbah Nun mengutarakan hal tersebut adalah tentang kemuliaan yang terkandung jika kita sanggup melewati setiap masalah atau konflik yang dijumpai. Di lagu Cak Nun dan Kiai Kanjeng pun jika kita memperhatikan ada sebuah narasi mengenai masalah. Yang bukan terletak pada toko-toko yang terbakar, pada ratusan atau ribuan manusia yang diusir dari kampung halamannya. Bahwasanya masalah-masalah besar yang kita hadapi akan selesai asalkan kita melebur dalam kasih sayangNya. Masalah itu sebenarnya berada di dalam kepala dan dada kita sendiri, tentang cara berfikir dan memahami ilmu yang banyak keliru memandang kehidupan.

Jika masalah itu bersumber pada cara pandang kita, apakah kita masih misuh? Atau justru bersyukur? Adakah karena masalah itu seharusnya menjadikan kita tumbuh untuk terus menuju cahaya kemuliaan? Kita diluaskan hatinya, dilebarkan cakrawala pandangannya. Tentu hal ini hanya bisa dicapai jika kita mampu mengambil hikmah dari segala keadaan yang kita hadapi, memakrifati segala kemungkinan lara yang mungkin akan segera menyapa. Memperbanyak laku puasa menjadi jalan tarekat yang mesti dihadapi. Katanya cinta?

Bagaimana kita mesti menjawab kompleksitas zaman? Jika kita tidak mampu menjawab kompleksitas diri yang tak akan pernah berujung hingga kematian datang. Apa yang disampaikan Mbah Nun secara tidak langsung mengajak kita untuk berfikir secara paralel. Jangkep dan menep. Namun tetap eling dan waspodo seperti yang diingatkan kembali oleh Pak Munir di akhir acara. Jika akhirnya konflik merupakan jalan menuju kemuliaan, haruskah kita makrifati segala konflik bukan lagi sebagai sesuatu yang mesti kita hindari, melainkan sebuah keindahan yang perlu dimesrai?

Tentu kita paham jika tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas ijin Allah. Dan saat datang kesulitan, bersamaan dengan itu pula datang kemudahan. Dan semua tergantung proses perjalanan diri masing-masing yang menentukan sikap terhadap pilihan-pilihan yang datang menyapa. Ketika kita selesai dengan diri, mungkin konflik-konflik yang berkeliaran itu akan nampak seperti bunga-bunga yang sedang bermekaran di musim semi.

27 Januari 2020

Taufan Satyadharma
JM Maneges Qudroh

Tulisan terkait