Menu Close

Ridha atau Murka Adalah Rahasia-Nya

0Shares

Atas saran mas @Puthutea (sang kepala suku Mojok), akhir-akhir ini saya tertarik mengikuti dan menyimak pengajian Gus Baha’. Seorang Kiai muda NU yang bernama lengkap KH. Ahmad Bahauddin Nur Salim Al-hafidz. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Alquran di desa Narukan, kab. Rembang, milik mendiang ayahnya KH. Nur Salim Al-Hafidz.

Gus Baha’ ini kiai nyentrik. Ciri fisik yang paling melekat pada beliau yakni selalu mengangkat sedikit peci dikepalanya, sehingga beberapa helai rambutnya nampak. Terkesan cengengesan. Mirip ekspresi orang kalah remi. (Hihi). Hal itu serasi dengan gaya ceramahnya yang santuy, gayeng, sarat guyon, namun begitu ngena dan mudah dicerna.

Dalam sebuah video singkat, Gus Baha’ pernah bercerita tentang kisah Hawariyin. Para orang salik, Wali kekasih Allah, pengikut Nabi Isa As.

Alkisah, suatu ketika rombongan Hawariyin lewat. Kemudian ada seorang preman melihat rombongan tersebut dan tertarik mengikutinya. Namun dalam rombongan itu ada satu Wali yang merasa risih diikuti seorang preman. “Preman kok mau dekat-dekat sama Wali, ya ndak pantas”, begitu kira-kira gumamnya.

Pendek kata, Wali yang risih itu mempercepat langkahnya, karena tak ingin dekat dan berjalan bareng dengan si preman. Secara tak sadar Wali tersebut memelihara keangkuhan.   Sedangkan si preman sengaja memperlambat jalannya, sebab ia dihindari dan merasa tak pantas berdekatan dengan orang-orang shalih. Preman tersebut telah berupaya menjaga kesopanan.

Saat itu juga Allah Swt memfirmankan kepada Nabi Isa As. Liyastaknifaa al amala. “Wahai Isa, dua orang ini memulai amalnya dari NOL”. Sang Wali dihapus semua amalnya. Si preman dihapus semua dosanya. Yang satu sebagai konsekuensi atas sikap ujub (sombong). Yang satunya untuk barokah sebuah adab (etika).

Dari secuplik riwayat diatas, membuktikan bahwa Allah Swt meletakkan ridha dan murka sesuai kehendak-Nya. Sangat rahasia. Dan berlaku bagi siapa saja. Tidak ada satu pun yang berhak meng-klaim keshalehan atau ke-preman-an seseorang. Setiap anak Adam sama-sama berkesempatan untuk mendapat ridha atau murka-Nya.

**

Beberapa hari lalu, kabar mengejutkan sampai ditelinga saya. Ada seorang sahabat sejak SMP akan berangkat umrah. Si Hengki (bukan nama sebenarnya). Kalau kita sepakat mendefinisikan preman adalah orang mbeling, badung, doyan bertindak kriminal, maka Hengki ini sangat pantas dilabeli preman kaffah. Metal. Mereman total.

Hal tersebut dapat diidentifikasi lewat riwayat bliyauw terdahulu. Segala jenis laku kepremanan sudah dilakukannya. Dan saya salah satu saksinya.

Sejak bangku SMP, Hengki rajin mbolos sekolah. Ia kabur dan memilih “belajar” di arena ding dong, video game, atau rental PS. Setiap main bola, voli, catur, selalu dijadikan ajang taruhan. Mulai dari nominal kecil 5 ribuan sampai ratusan ribu.

Knalpot motor Hengki dibikin tungter. Setiap motornya lewat bikin panas kuping. Dan itu justru menjadi ciri khasnya. Dulu ia sempat ngamuk dan mengaku mau membunuh bapak kandungnya lantaran sang bapak tidak bersedia membelikan motor idamannya. Gila.

Belum cukup sampai di situ. Setiap ada kesempatan pulang pagi maka agenda Hengki dan kawan-kawan adalah mabok bareng. Lagi-lagi Hengki bertindak sebagai koordinator mendem berjamaah. Ia lah yang bertugas mencari tempat, sekaligus menentukan menu oplosan untuk ditenggak bersama-sama.

Pernah suatu kali saya diajak mendem bareng. Demi menjaga ikatan pertemanan saya sih hayuk saja. Poro tipis lur. Saking banyaknya botol “air kedamaian” yang diteguk, banyak kawan yang akhirnya terkapar. Ambruk. Teler. Muntah parah. Dan hebatnya Hengki adalah satu-satunya diantara para peminum yang masih mendenges (sadar diri), meski kedua matanya sudah merah. Tak ayal ia dijuluki dewa mabok.

Disamping itu Hengki juga hobi berantem. Baik didalam maupun diluar sekolah. Pernah saat sedang lomba voli di Sekolahan, tiba-tiba Hengki menghajar seorang penonton. Alasannya sepele. Tim Hengki diteriaki huuu…. dan dia kalap tidak terima. Ruang BK teramat akrab baginya.

Dan yang paling parah, Hengki pernah masuk bui. Bayangkan, anak SMA sudah masuk penjara. Apa itu bukan “prestasi” yang luar biasa? Gara-garanya Ia memukuli seorang kakak kelas hingga babak bundas. Bukan karena diledek, melainkan urusan cewek. Setelah menempuh jalur damai dengan pihak korban, ia akhirnya dibebaskan.

**

Roda waktu berjalan. Usia, pengalaman, pergaulan, dan semesta telah menempa setiap anak manusia. Tak terkecuali Hengki. Perlahan dan sabar ia berubah. ‘Hijrah’. Berpindah dari hitam menuju putih. Dari kelam menuju terang.

Ia mulai sadar menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Suatu hari dia WA saya sekadar menanyakan bagaimana niat dan cara menjamak sholat dhuhur-ashar. Lega, tapi pengin ngguyu juga. (Haha). Jangan protes, kalau tidak tahu proses, apalagi progres.

Alhamdulillah, Hengki kini telah berkeluarga. Hidup bahagia bersama anak-istrinya. Dan tiga hari lalu ia “dipanggil” untuk bertandang ke tanah suci. Sebagai sahabat, saya merasa trenyuh, happy, dan sedikit ‘ngiri’. Ia diizinkan duluan mengunjungi “Rumah Tuhan”. Mendirikan shalat di Masjidil Haram dan Nabawi. Bermunajat di Raudloh. Serta menziarahi makam Baginda Nabi. Shallu ‘ala Muhammad.

Lagi-lagi kebesaran Tuhan terbukti. Allah meletakkan ridha dan murka mutlak sesuai kehendak-Nya. Sangat rahasia. Siapa saja berpeluang untuk mendapatkan ridha atau murka-Nya.

**

“Lantas, bagaimana cara mendapatkan ridha-Nya Allah Mbah?”, tanya seorang Jamaah.

“Cara paling efektif menjemput dan memperoleh ridha-Nya Allah adalah kita ridha (dulu) dengan seluruh qada dan qadar-Nya”, jawab Simbah.

Wa Allahu a’lam bish-Shawab.

Gemolong, 27 Januari 2020

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait