Menu Close

Sregep Nyastro Independen

0Shares

“Saya kira kok persoalan membuat sebuah karya tulisan, kunci awalnya cuman satu. Sregep”

Mendung menggantung di kota Surakarta, dari gang Mendungan diseputaran kampus Sebelas Maret perjalanan jalma mulai mengitari sudut-sudut tua Kotapraja. Melintas diberbagai bangunan keraton dan sisa keraton tua langkah jalma menuju Gerjitawati, tanah yang ratusan tahun kemudian melahirkan “Anak-anak Malioboro”. Di kota yang mulai sesak tersebut disudut baratlah jalma menuju, dengan niat bulat ngangsu banyu (menimba air) kepada para anak-anak yang kini jadi Begawan-begawan sastra Malioboro. Namun Air hujan membuncah begitu saja dari atap-atap Kasultanan, sedikit mampir jalma di tempat yang dulu sering buat bertapa dan kini jadi nama kecamatan, Banguntapan.

Setelah sedikit reda, jalma menuju Kasihan, melintas taman siswa, kadipaten Pakualaman, dan tentu Malioboro hingga akhirnya kurang dari setengah jam sampai di Rumah Maiyah, perhelatan sudah dimulai. Pemaparan-pemaparan dimulai begitu saja, sampai waktunya Mbah Emha Ainun Najib menambahi beberapa ilmu sebelum magrib menjelang.

Sregep adalah Kunci

Kunci-kunci yang diberikan Mbah Nun soal menulis begitu mendasar tapi memang itu yang menjadi fundamen dari sebuah karya sastra. Beliau mengambil satu kata dari bahasa jawa baru. Sregep.

Sregep sebenarnya adalah ungkapan yang menganduk makna cukup rumit kemudian disederhanakan dalam satu kata di jawa, dalam nuansa yang mungkin hanya dapat ditangkap orang Jawa. Kira-kira artinya begini, sregep itu situasinya tekun terus menerus dilakukan, teliti, detail, rapi dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Jadi jika kosakata itu dimasukkan sebagai salah satu kunci penulisan maka kita mau tidak mau harus menulis. Tanpa henti.

Bahwa memang tidak dipungkiri, tidak ada sastrawan besar yang tidak pernah terus menulis, ada mungkin karya-karyanya yang tidak masuk kedalam daftar list ingatan mayoritas pembaca, namun semua karya bagi sastrawan seperti anak yang lahir dari rahim pengalaman, pemikiran, tindakan-tindakan serta peristiwa yang dialami oleh penulis. Dari sinilah lalu karya sastra akan punya nyawanya tersendiri tidak sekedar tulisan-tulisan mati. Ini pula yang diingatkan oleh pak Budi Sarjono sebagai Intuisi.

Batas Dan Fokus Pada Substansi

Mbah Nun mengingatkan bahwa dalam segala proses penulisan, suatu ketika waktu akan meledakkan banyak informasi ke dalam pemikiran, yang harus diingat bahwa loncatan-loncatan pemikiran itu akan semakin banyak dan menyebabkan distraksi hebat pada kepenulisan sebuah karya sastra. Dari sini terminologi poso atau puasa yang diajarkan mbah Nun masuk dalam bentuk membatasi banyaknya distraksi yang berujung pada bias-bias substansi sebuah tulisan.

Terus berfokus pada tujuan awal penulisan, mungkin bisa menloncat-loncat namun jangan meninggalkan substansi yang berujung ketidaktahuan pembaca dalam menerjemahkan arah penulisan. Seperti kita tahu kita menulis untuk dibaca dan dibagikan kepada orang lain, supaya proses transfer ilmu dan khazanah bisa berjalan begitu saja. Maka dalam hal ini perlu sekali untuk menghindari bias-bias tema dalam sebuah tulisan.

Batasan-batasan ini pula yang jika diteruskan pada level tertentu, kekhas-an gaya penulis ketika menawarkan ragam tulisan akan menjadi identitas penulis. Mbah Nun mengambil sosok seorang Romo Katolik “ahli bola”, bernama Sindhunata. Beliau membatasi tulisannya pada satu kacamata yaitu sepakbola. Dari Sepakbola Romo Sindhunata ini bisa meloncat ke banyak hal, dari tema-tema seputar bola bisa meloncat ke lintas bidang diluar olahraga entah politik, kebudayaan, ekonomi, infrastruktur, pertahanan apapun. Sindhunata berfokus pada batasan substansi dan lalu menjadi Ahli.

Tulisan harus Independen

Sebagus apapun sebuah rubrik yang terus menerus melahirkan tulisan bernas, namun penulis tetaplah manusia yang bisa saja akan berpihak pada kepentingan tertentu yang pasti akan kehilangan gaung kebernasan sebuah tulisan. Di pertemuan kemarin Mbah Nun sempat menyiratkan kenapa caping-nya GM menjadi tidak menarik dan kritis. Hal itu mbah nun tidak secara langsung membuka banyak fakta namun mengajak kami untuk menelaah kembali apa yang dialami GM pada tahun-tahun akhir ini, hingga caping tak semenarik dahulu.

Mban Nun dalam “Pergulatan Sastra Kontekstual” bersama Prof. Ariel Heryanto, W.S. Rendra, Soe Hok Djien (Prof. Arief Budiman) kakak kandung Soe Hok Gie, pak Eko Tunas, Umar Kayam dll pernah memberikan istilah Sastra harus Independen. Sastra harus terbebas dari tekanan eksternal, karena ruang idealitas sastra adalah apa yang menjadi bahan perenungan, pergulatan mendalam bagi subjek penulis itu sendiri. Hingga apa yang lahir dalam tulisan bersifat otentik, membawa kebaruan mungkin juga perjuangan-perjuangan tertentu.  Kacamata ini tidak pernah berubah pada diri mbah Nun sejak 1985 bahwa karya-karya mbah Nun adalah independen, hasil dari olah pikir mbah Nun sendiri terhadap berbagai keadaan disekelilingnya.

Terkhusus soal Sastra Kontekstual sudah pernah dituliskan disini : https://www.caknun.com/2019/kehidupan-masyarakat-dalam-sastra-independen-cak-nun/ oleh kawan saya. Sehingga tak perlu dibahas detail soal pergulatan di medio 80-an itu.

Yang digarisbawahi dari kasus caping tadi tentu adalah tulisan adalah tulisan itu sendiri, menggelorakan apa yang menjadi kegelisahan manusia, apa yang menjadi pertanyaan dalam segenap batin manusia.

Akhirnya maturnuwun Mbah Nun, Mbah Iman Budi Santoso, Pak Budi Sarjono dan semuanya. Hari ini saya cukupkan, dan membawa pulang banyak pertimbangan lagi dalam kepenulisan.

Kleco Wetan, 8 Januari 2019

Indra Agusta

(catatan workshop penulis Menek Blimbing Caknun.com di Rumah Maiyah Kadipiro, Jogja)

Tulisan terkait