Menu Close

Sudahkah Manusia Menyadari Tugasnya?

0Shares

Manusia didefinisikan sebagai makhluk yang berakal budi (KBBI). Dapat dimaknai bahwa manusia adalah ciptaan tuhan yang mempunyai akal budi. Lalu, untuk apa Tuhan memberikan kelebihan kepada ciptaanNya yang hanya diberikan kepada manusia ?. Pertanyaan mengingatkan bahwa manusia mempunyai keunggulan dari makhluk lainnya. Dengan jawaban pertanyaan itu, manusia ditugaskan untuk menjadi “khalifah di bumi”. Artinya menjadi manajer di bumi dengan segala apa dan siapa yang ada di dalamnya. Manusia berdampingan dengan manusia, hewan, tumbuhan, dan alam. Selain itu manusia juga hidup berdampingan dengan makhluk yang tidak kasap mata.

Dalam kehidupan berdampingan dengan manusia, salah satu hal yang penting yang harus kita ingat dan menjadi pedoman adalah  tugas manusia fil ardh yang berkaitan dengan sosial kemanusiaan. Orang tua sering mengucapkan  hal-hal yang baik untuk masa depan anaknya. “dedek pinter sug mben dadi dokter”, adik pintar nanti menjadi dokter, “ dedek sug mben dadi pilot”, adik pintar nanti menjadi pilot, dan masih banyak lainnya. Kata-kata itu akan diingat oleh si anak dalam angannya. Ketika beranjak dewasa, angannya akan menstimulasi setiap perilakunya hingga dewasa.

Dalam perjalanan menjadi khalifah di bumi, manusia sering kali , tersandung oleh ‘batu kecil, bukan batu yang besar’, terperosok pada ‘jalan yang lurus, tidak jalan terjal’ , terlena dan tergoda oleh hal-hal yang bersifat sementara. Manusia yang tertipu karena harta, akan melakukan segala cara untuk mengumpulkan dan dinikmati sendiri pun dengan kelompoknya. Ada pula manusia yang sudah memiliki harta melimpah tergoda untuk menduduki suatu jabatan dengan berbagai motif yang ada. Pada titik nadir, manusia akan memenuhi hasrat nafsu kelelakiannya. Derajat manusia akan mulai terangkat di mata tuhan manakala ia sadar bahwa semua yang telah dicapainya tidak bisa dinikmati di masa tuanya.

Namun, banyak pula manusia yang selalu bekerja keras agar selalu berjalan pada ‘rel’ yang sudah ditentukan. Hal ini dimungkinkan karena data referensi yang ada di dalam angannya terinstal dan tersimpan dengan baik sehingga dalam melewati berbagai rintangan dalam hidupnya, ia selalu mempunyai pijakan yang sesusi dengan koridor. Sudah tentu pasti, di setiap rintangan menemui kesulitan dan berkali-kali mengalami kegagalan. Dengan rajin menjaga angannya, membuatnya terus bekerja keras dan berkelanjutan menjadi manusia yang sejati.

Tidak kalah penting adalah kehidupan manusia yang berdampingan dengan alam, hewan dan tumbuhan. Sebagian manusia modern terlupakan bahwa alam, hewan, dan tumbuhan adalah bagian dari kehidupannya. Hal itu dibuktikan dengan perubahan iklim global, ketidakseimbangan ekosistem, bencana alam terjadi setiap musim penghujan, sehingga terjadi ketidakseimbangan alam. Hal ini terjadi bisa disebabkan oleh keserakahan, ketamakan, kerakusan, manusia dalam memenuhi kepuasannya. Rasa puas setiap manusia didapatkan dengan perihal apapun. Bisa puas karena pencapaian kekuasaan, kekayaan, dan apapun yang dianggap baik baginya dan orang lain ataupun baik baginya dirinya dan kelompoknya.

Dengan bekal kerajinan angannya, manusia hendaknya selalu berusaha, dan bekerja keras agar menjalankan tugasnya sebagai manusia yang sejati dan tidak lupa mengevaluasi dirinya secara berkala untuk muhasabah pencapaian yang telah dilakukan. Parameter pencapaian dikukur dengan melihat kedalam diri sendiri, bukan melihat apa yang ada di sekitarnya. Setiap orang tentu memiliki pencapaian masing-masing. Dengan menyadari capaiannya, hendaknya manusia bertanya kepada dirinya sendiri, apakah selama menjadi manusia, sudahkah saya menjalankan tugas saya sebagai manusia sebagaimana perintah tuhan?. setelah ia mengetahui jawaba, manusia akan ‘diluluskan dalam ujian akhir’ ketika waktunya tiba.

Solo , 1 Maret 2020

Syamsul Hudda

Tulisan terkait