Menu Close

Indonesia dan Gawang Sandal

0Shares

Waktu saya sedang mengirim paket ke daerah lereng Mandrageni, kedua bola mata saya tertuju pada anak-anak yang sedang bermain sepakbola di halaman rumah. Permainan ini sudah jarang digemari anak-anak zaman sekarang. Kebanyakan sibuk bermain dengan smartphone atau kurangnya waktu bermain karena jam belajar di sekolah sampai sore hari. Ketertarikan saya terhadap anak-anak tersebut membuat saya memutuskan untuk berhenti sejenak dan menonton mereka bermain sembari mengingat-ingat bahwa peralatan yang dipakai persis dengan yang saya pakai saat masa kecil dulu.

Bola plastik dan sandal jepit, Itu saja. Mungkin di daerah lain ada yang menggunakan Bal Kompan, yaitu istilah masa kecil saya dulu untuk menyebut bola yang sesuai standar permainan sepakbola pada umumnya. Kalau di halaman rumah menggunakan bal kompan, tentu akan membahayakan rumah warga. Sekali kena kaca bisa auto-pecah, sekali kena genting auto-ambyar.

Aturan mainnya sangat simpel, walaupun kadang rumit karena tidak ada wasit. Semua aturan sesuai dengan kesepakatan antar pemain. Misalnya, gawang atas diukur sesuai dengan kemampuan kiper untuk menggapainya, tentu ini dari kedua tim harus obyektif dalam menilai sah atau tidaknya gol. Begitu juga ketika bola melaju di atas sandal, pasti akan terjadi perdebatan sengit yang harus diselesaikan dengan adu pinalti atau yang paling mudah yaitu, hom pim pa.

Permainannya pun tentu tidak seperti sepakbola pada umumnya. Tidak ada positioning, yang ada hanya kiper dan bukan kiper. Bahkan kadang semua pemain memposisikan diri sebagai penyerang. Kiper pun ikut menggiring bola sampai ke depan gawang lawan. Ketika ingin menghadang lawan tidak perlu berpikir panjang, asal gaprak saja. Dinilai sah sebagai pelanggaran ketika pemain jatuh atau bahkan sampai terluka. Toh, tidak ada pemain yang berniat untuk melakukan diving. Tidak perlu memikirkan taktik jebakan offside, lha wong  tidak ada aturan tentang offside.

Jika dilihat mengunakan kacamata sepakbola pada umumnya tentu permainan ini sangat kacau. Asal gaprak, asal sepak. Ketika pemain setim sedang membawa bola, pemain setim lainnya maju untuk meminta bola. Saat sedang diserang pun  semua pemain mundur untuk bertahan. Saya pikir kok permainan ini seperti keadaan Indonesia sekarang. Sama-sama berorientasi penuh dengan bola, tanpa pertimbangan dan strategi. Ketika bola dikuasai seorang pemain, langsung diserbu semua pemain lawan. Cara menghadang dan merebut bola pun asal gaprak. Seperti di media sosial, tanpa pikir panjang, dan asal sudah membaca judul beritanya, orang-orang mulai saling serang secara membabi buta. Di media sosial, setiap orang bisa mengomentari apa saja tanpa harus mengukur kapasitas keilmuan isu yang dihadapi. Yang menjadi tolak ukur benar dan salah adalah persepsi, seperti anak-anak yang bermain bola tersebut, bahwa persepsi mengenai sepakbola ya seperti ini, tetapi apakah fair ketika mayarakat negara ini bisa dimaklumi seperti halnya anak-anak kecil itu? Tentu tidak.

Gawang yang menjadi tujuan hidup berbangsa dan bernegara juga tidak jelas dan hanya berdasar persepsi. Memajukan kesejahteraan umum seperti yang dimaktub dalam UUD 1945 alinea ke-4, kesejahteraan umumnya dimiliki oleh siapa? Mencerdaskan kehidupan bangsa. Cerdas atau tidak cerdas hanya diukur dari angka, bukan kebermanfaatan sesuai perannya di masyarakat. Ikut menjaga ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, ­lha wong, tiada hari tanpa pertikaian kok karena kemerdekaan dipersepsikan sebagai kebebasan sebebas-bebasnya kok.

Dalam permainan sepakbola anak-anak tersebut memang tidak ada orang yang ditunjuk sebagai wasit. Tetapi, setiap pemain menjadi wasit terhadap dirinya sendiri sehingga ada persepsi yang sama soal aturan yang dibuat walaupun tidak tertulis. Kesadaran akan kurangnya fasilitas gawang membuat setiap pemain berpikir bahwa ukuran gol atau tidaknya tergantung pada kemampuan kiper menggapai bola. Permainan usai ketika senja telah tiba, atau ada kewajiban yang dimiliki setiap pemain, seperti waktu ibadah atau waktu belajar ke TPA. Pembagian tim pun  atas dasar kemampuan setiap pemain. Pemain yang dinilai bagus harus dipisah dengan pemain yang selevel dengannya, begitu juga dengan pemain yang tidak punya kemampuan sama sekali. Aturan-aturan tersebut bisa terwujud karena setiap pemain saling mengerti terhadap dirinya maupun pemain lain. Sehingga setiap pemain mempunyai persepsi yang sama mengenai batas dan ukuran gawang, tujuan yang akan mereka raih.

Sedangkan masyarakat hari ini terombang-ambing dengan perebutan bola kebenaran yang sejak dulu tak kunjung selesai. Ketika satu kubu menyerang, semua ikut menyerang, begitu juga ketika sedang dalam posisi bertahan. Bahkan orang yang tidak masuk dalam kubu tersebut ikut terseret dalam lingkaran pertikaian seperti penonton yang terprovokasi pemain lawan sehingga ia berlarian masuk ke lapangan untuk ikut menghajar atau hanya sekedar bersalaman dengan pemain pujaannya. Undang-Undang Dasar tidak digunakan sebagai gawang sandal yang tentu membutuhkan persepsi bersama mengenai poin-poin tujuan yang akan diraih dalam kehidupan bangsa dan bernegara.

Coba tanya kepada saudara, kawan atau siapapun yang menjadi warga negara ini, sebenarnya apa sih tujuanmu sebagai warga negara? Perkiraan saya, ia akan kelabakan dan kebingungan dalam menjawabnya. Paling-paling hanya dijawab secara normatif saja, walaupun dalam lubuk hatinya ia juga menemui keraguan. Saya pun kalau ditanya pasti juga akan menemukan keraguan yang sama. Coba ingat masa kecil dulu bagi yang pernah bermain sepakbola seperti anak-anak itu, mungkinkah kita pernah menggeser sandal secara diam-diam, atau malah sandal yang dipakai adalah sandal hasil curian? Entahlah.

Athar Fuadi

Tulisan terkait