Menu Close

Berempatilah

0Shares

Sejak campaign #DirumahAja digaungkan, dalam rangka mencegah penyebaran virus corona, praktis 80% aktivitas saya berlangsung di rumah. Eits, tapi ndak rebahan juga. Harus tetap BERKARYA! Belajar di rumah, beribadah di rumah, dan bekerja dari rumah. Work From Home. Demikianlah himbauan dari Pemerintah.

Selain mengerjakan pekerjaan sehari-hari seperti nyapu, ngepel, nyuci, ngelapi motor, mbakar sampah, mbubuti suket, dan mbubuti segala kenangan masa lalu yang masih nancep dihati, sampai melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya lakoni. Bahkan kemudian menjadi hobi. Apa itu? Me-ma-sak. Iya, olah-olah pemirsah.

“Kok sekarang jenengan jadi suka masak, bukan karena Chef Renatta kan?”, tanya istri penuh curiga.

(Ha yo jelas karena dia. Siapa coba yang nggak suka sama cewek cantik, seksi, jago masak, tur genah masakane wuenak). Jawaban tersebut meluap-luap dihati, namun urung terucap di lisan.

“Ya, pengin aja daripada nggak ada kerjaan”, jawab saya seadanya.

“Hari ini mau lauk apa yah?”

“Apa saja yang penting enak.”

“Eh, kalau bikin ikan bakar gimana? Mancing di empang belakang”, usul sang istri.

“Aha, ide brilian sayang.”

**

Teman-teman, di belakang rumah kami terdapat sebidang kolam berukuran 3 x 2 meter. Dengan kedalaman kurang lebih 1,5 meter. Kolam tersebut kami isi belasan bibit ikan Nila, dan seekor kura-kura jantan yang kami namai Kur-kur. Meski beda spesies mereka (Nila dan Kura-kura) hidup akur. Rukun dalam satu ‘rumah’. Jauh dari gesekan, satir, apalagi nyinyir.

Seperti halnya manusia, kami memberi jatah makan mereka tiga kali sehari. Pagi, siang, dan malam. Sekilo pakan ikan hanya mampu bertahan 4 hingga 5 hari. Ya paling banter semingguan-lah. Kalau harga pakan ikan satu kilonya lima belas ribu dan cukup dalam seminggu, maka anggaran makan mereka dalam sebulan berkisar enam puluh ribu rupiah.

Tiga bulan berselang, bibit-bibit ikan Nila tersebut beranak pinak. Tumbuh besar, dan tambah banyak. Ada yang berukuran sampai sak epek-epek tangan orang dewasa. Atas inisiatif sang istri, kami pun memulai eksekusi.

Tiga ikan Nila besar berhasil saya jaring, dan dimasukkan ke dalam ember. Rasanya cukup buat menemani makan nasi hari ini. Saya dan istri lantas berdiskusi. Bagaimana ya cara mateni-nya? Saya ndak punya nyali untuk menyembelih, apalagi membantingnya hingga mati. Istri saya pun ngeri kalau disuruh membeset kepala ikan. Njuk kepiye? Karena kami ┬ásama-sama ‘pengecut’, alhasil ikan-ikan tersebut terpaksa nginep di bak ember semalaman.

Keesokan hari, kami pun tetap tak punya keberanian untuk menghabisi ikan Nila itu. Ada rasa ndak tega. Mesakne. Mendadak iba. Duuh. Memelihara mereka selama tiga bulan nyatanya mampu membangun koneksi batin antara kita. Secara natural timbul belas kasih dan sayang. Orang Jawa menyebutnya, witing tresna jalaran saka kulina.

Rasa-rasanya mereka (ikan & kura-kura) sudah kami anggap anak sendiri. (Semoga ndak lebay). Anak yang kami penuhi kebutuhan makannya, kami jaga kebersihan air kolamnya, yang saban malam kami nyalakan lampu penerang agar mereka tidak kedinginan (Eh, iwak duwe adem gak sih). Kami wis kadung cinta mereka. Dan kata Simbah, anak sulung dari cinta adalah empati.

Berangkat dari ibu cinta yang melahirkan anak empati, tiga ikan Nila besar yang sempat kami tawan semalaman, akhirnya kita masukkan lagi ke dalam kolam. Mereka kembali ke habitatnya. Bersua dengan keluarga, dan para sahabatnya. Kami gagal total untuk sekadar mencicipinya.

**

Pasca kejadian itu, pagi-pagi saat nyruput kopi di dekat kolam, istri saya menghampiri sembari berkata.

“Wislah yah, kita ngopeni ikan kuwi diniati wae nggo sedekah. Ndak usah duwe keinginan untuk menikmati apalagi nggolek bathi.”

Sungguh ironi. Ikan yang jelas-jelas halal untuk dimakan, kami justru tak mau dan tak tega memakannya. Sedangkan orang diluar sana, hewan yang sebaiknya tidak dimakan justru dikonsumsi sehari-hari. Mungkin itulah yang menjadi salah satu celah menyebarnya virus-virus yang disebabkan bodoh dan serakahnya manusia terhadap alam dan binatang. Bajingan.

Pada akhirnya saya dan istri berjanji. Sepakat untuk tidak akan memakan ikan piaraan kami. Sampai kapanpun dan dengan dalih apapun. Pokoke No! Namun, kami sangat welcome dan mempersilakan siapa saja yang pengin memancing, atau menjaring ikan di kolam kami. Gratisss. Ndak bayar. Asal dibawa pulang, dan dimasak sendiri-sendiri dirumah.

Pada apapun dan siapa pun berempatilah.

Gemolong, Maret 2020

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait