Menu Close

Sudut Dengar Corona dari Delusioner Anyaran

0Shares

Begini. Tulisan ini akan saya bagi menjadi tiga titik tumpu. Titik tumpu berupa tiga mimpi. Jadi, bagi yang kurang cocok dengan cocokologi, saya sarankan untuk berhenti saja sampai di sini. Sudah. Stop. Pun bagi pecinta primbon mimpi, juga lebih baik tidak meneruskan membuang-buang waktunya untuk menelusuri jalan pikiran saya yang jangan-jangan dipenuhi dengan delusi bahwa saya adalah makhluk paling berbeda di jagad raya. Kenapa kok tidak cocok dengan primbon mimpi, karena mimpi saya ini mengambil lakon kedatangan makhluk asing ke Bumi. Berarti tulisan ini jatuhnya mistis? Percaya pada mimpi tanpa pernah melakoni eksperimentasi? Atau jatuhnya eskapisme semu?

Dan saya berhasil memasukkan istilah-istilah yang saya sendiri nggak begitu paham apa maksudnya pada alinea pertama.

Maaf, bagi yang masih betah sila lanjut. Mari.

Mimpi pertama saya sebelum Corona ramai seperti sekarang. Lho kok tetiba saja dihubungkan dengan Corona? Atas dasar apa? Atas dasar kengawuran akut yang saya idap selama ini.

Di suatu tempat, penduduk Bumi kedatangan pesawat besar sekali. Menurut skenario mimpi saya itu, benda besar agak bulat itu adalah pesawat. Awalnya penduduk Bumi biasa saja. Iya, apa sih yang bisa membuat manusia terkagum dan terheran hari ini? Nggak ada. Selama tidak merugikan pasti dianggap bukan bencana. Tapi kemudian pesawat itu lama-lama mendekat. Otomatis menabraki apa saja yang ada didekatnya. Ya, mirip di film-film itu skenario mimpi saya.

Penduduk Bumi mulai kalang kabut. Panik, was-was, takut, cemas, dan semua ekspresi selain ekspresi kebahagiaan. Lalu muncul orang yang paling diajeni. Dengan rambut yang mulai memutih. Belum sampai mengeluarkan prakata, orang yang memutih rambutnya itu sudah diamankan di sebuah tempat. Tambah nggak karu-karuan penduduk Bumi. Karena tidak tahu siapa lagi kalau bukan beliaunya yang sekarang di lockdown oleh beberapa pengawal.

Karena beliau tidak ada kemudian para penduduk mencari anak dari orang yang memutih rambutnya itu. Anaknya juga tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa. Tetapi anaknya ini tidak lantas menyerah. Di tengah-tengah ketakutan yang semakin menjadi, si anak bersama timya tetap berupaya mencari cara, membuat formula-formula untuk paling tidak membuat makhluk asing itu pergi. Karena makhluk asing ini ganas. Gigitannya membuat yang digigit menjadi bagian dari makhluk itu. Itu kalau hidup.

Skenario mimpi saya itu, ditutup dengan adegan salah satu penduduk mencolok mata makhluk asing tersebut. Itu yang membuat makhluk asing itu tak berdaya.

Masih betah? Okey.

Mimpi yang kedua muncul sesudah Corona mewabah negeri ini. Begini mimpi saya. Eh nggak usah menafsir lho ya? Buat apa? Kalaupun seratus tahun lagi ada yang menemukan tulisan ini, paling langsung dilenyapkan jejaknya. Lha buat apa kalau yang disodorkan mimpi? Nggak bisa buat tumpuan. Mana pembukaannya menyatakan bahwa mimpi adalah tumpuan lagi. Nggak. Nggak valid.

Tapi tak ada salahnya saya berdongeng. Semoga sudut dengar anda tidak terganggu.

Mimpi kedua saya menyaksikan sebuah panggung. Di mana terdapat banyak orang saling bergandengan tangan dengan sangat kuat. Saking banyaknya orang, panggung itu tidak muat. Lalu orang-orang bergandengan tangan sampai keluar panggung. Bahkan sampai ke gunung. Erat, sangat erat sekali. Getaran dari genggaman yang kuat tersebut sampai membuat Bumi berguncang. Dalam skenario mimpi situ, panggungnya berada di Jogjakarta. Bukan. Bukan konser Kla Project kok.

Ketika saya terbangun dari mimpi mata saya sembab. Ternyata saya menangis menyaksikan mereka bergandengan tangan. Kenapa saya menangis? Itu yang saya tidak tahu juga.

Mimpi ketiga. Eh, masih betah kan ya? Tulisan ini pendek kok. Sebentar lagi juga selesai. Cepet. Kalau dibaca kurang dari dua menit paling. Sedikit lagi yah.

Mimpi ketiga jelas masih dalam suasana Corona vista. Di mana serial Money Heist menjadi primadona. Selain drama Korea tentu saja. Di mana sudah terjadi pembatasan pembatan dengan berbagai skala. Di mana sekolah libur. Di mana aplikasi Zoom mulai disenggol-senggol terkait kerahasiaan data diri kita. Di mana orang-orang sudah semakin peduli dengan kesehatan dan keamanan sesamanya. Di mana katanya Bumi bersih. Udaranya sudah lebih layak meningkat sebanyak 30%. Di mana penutup wajah dan daster semakin laris di pasaran.

Mimpi saya yang ketiga itu singkat. Ada cahaya mak kecrap! Disusul suara. Kemudian saya terbangun dengan cukup bahagia. Ha? Sesingkat itu saja? Lha kok penak men?

Tapi kembali saya putar mimpi-mimpi saya itu. Adakah ketiga mimpi itu kaitanya dengan kenyataan yang saya alami di Bumi sekarang ini?

Karena saya sudah terdesak posisinya, kemudian saya maksimalkan saja sekalian delusi yang saya alami. Saya berselancar di dunia maya. Virus punya mata nggak sih? Nggak ketemu jawabannya. Kalau ketemu mau saya colok mata virus itu sebagaimana mata makhluk asing itu. Atau bisa nggak kita butakan virus itu? Kita kecoh paling tidak, supaya dia tidak menempeli sel kita yang rentan. Misalnya ketika dia menempel, ternyata yang ditempel itu Tai saya yang sudah muntup-muntup mau keluar. Ngecohnya bagaimana? Mungkin dituntun, diarahkan, sebagaimana kita mempersilakan para pembesar untuk duduk, kemudian memberikan sambutan lalu pergi meniggalkan lokasi karena masih ada urusan di tempat lain. Kan suka begitu para pembesar? Lha apa hubungan Corona dengan pembesar? Katanya disebut Corona karena dia punya mahkota? Kurang Ratu apa coba?

Ngecohnya dengan apa? Ya makanan apa gitu yang mudah didapatkan di sekitar rumah (kontrakan) kita gitu. Atau dengan kebiasaan kita sehari-hari yang berhubungan dengan tenggorokan. Nyanyi kek, ngudang anak, bengok-bengok nggusah manuk neng sawah, wirid, hey jangan kok jadi sok spiritualis? Ya udah wirid nggak. Dzikir boleh?

Mimpi saya yang kedua, memang masih ingat saya mimpi apa? Kalau lupa baca lagi boleh. Karena mimpi saya yang kedua pula kemudian saya menghubungi teman-teman yang masih punya lahan luas, kebon atau sawah. Jawaban mereka lumayan menggembirakan. Mereka masih punya. Saya gandeng dengan erat teman-teman itu nanti. Saya sudah nyuwun kalau saya tergencet saya akan kontak mereka. Saya juga bilang ini bukan untuk saya sendiri. Siapa tahu saja bakalan kepake.

Selain itu saya menghubungi teman-teman yang terlibat di praktik pendidikan. Kira-kira ke depan kaya apa cara belajar anak-anak? Mengandalkan aplikasi Zoom? Rapor digital? Ijazah dikirim via pos? Jenjang pendidikan dasar masih enam tahun? Apa kompetensi dasarnya sama-sama hanya cara belajarnya yang berubah? Bangunan fisik sekolah masih perlu ada? Kata guru apakah masih berbentuk manusia? Atau dia sudah makhluk digital? Yang kalau ada murid ramai sendiri tidak dijewer melainkan dikirim virus yang bisa membuat berantakan seisi kamar? Atau gimana? Iya saya mau gandeng mereka, eh pembatasan fisik ya? Saya mau ajak mereka untuk menuruti hawa nafsu delusi saya ini. Siapa tahu delusi ini menular.

Mimpi ketiga jelas itu pencerahan bagi saya. Solusi.

Sayangnya saya lupa suara itu mengucapkan apa. Saya tata ulang sudut dengar saya, juga sampai tulisan ini saya kirim ke email redaksi tercinta, masih belum ingat juga apa kata-kata yang terucap dari suara itu.

Yang saya ingat kemudian adalah, anak kedua saya sebentar lagi mau lahir, anak pertama masih kecil, beras tinggal sedikit, laptop rusak, motor terjual murah, saya terlockdown di Solo sudah belasan tahun, rumahnya masih ngontrak, tidak bisa pulang kampung karena tidak ada warisan yang bisa dirayah, ke depan hidup ini kayak apa, semakin mudah atau semakin sulit saja dan seabreg rasa tak bersyukur atas kehidupan ini.

Betapa nikmatnya delusi ini ya Tuhan.

Eh jangan-jangan delusi ini yang mengecoh Corona? Yah delusi lagi delusi lagi…

Didik Wahyu Kurniawan, delusioner anyaran

Tulisan terkait