Menu Close

Nglungsungi Pandemi

0Shares

“Aneh cara Markesot memperlakukan hari Idul Fitri, sejak sehari sebelum idul fitri, pintu-pintu rumah kontrakan ditutup rapat-rapat. Dan Ia ‘ngendhon’ dirumah, entah apa yang dilakukannya.

…anak-anak yang tinggal disitu pulang kampung, jadi Markesot menikmati kesendirian dan kesunyian hidupnya tanpa ada yang mengganggu.”

Lebaran kembali datang mewartakan sebuah perayaan setelah sebulan berpuasa dan lebih dari 2 bulan kita berhibernasi, berkontemplasi dalam mengejawantahkan segala bentuk diri kala pandemi. Tentu saja lebaran kali ini sangat berbeda dari tahun-tahun yang lalu. Hari-hari ini kita sedang dipaksa untuk berdiam diri, menjaga jarak dari sesama, juga berusaha untuk bertahan dengan segala kondisi. Apakah ini semacam upaya dari Gusti untuk menaikkan ‘level puasa’? akankah ini konspirasi? Atau justru ini adalah ujian untung mengasah kepekaan dan kewarasan berpikir jernih?

Jika berkontemplasi sudah berapa kali puasa hanya berkisar soal haus – lapar, atau hanya berisi hedonisme semu mengenai pencapaian pamer berbuka bersama, belum soal budaya konsumerisme yang melanda umat ketika idul fitri. Seolah-olah kita berpuasa bukan lagi untuk mengenali diri, tetapi untuk mengekang supaya ledakan lezatnya malah seperti kekangan kuda.

Pandemi ini seperti mengajari bahwa ada kualitas lain, secara bersamaan umat disuruh untuk berpuasa sekaligus ‘berpuasa’ secara lebih komperehensif. Saking sibuknya hari-hari ini dengan wabah ini, geliat puasa menjadi serasa lebih ringan,  karena sebulan sebelumnya dibanyak keluarga sudah mulai mengatur sisa-sisa beras, membagi kembali pundi-pundi uang supaya bisa bertahan lebih lama, beberapa kawan di Suluksurakartan juga sudah mulai menanam, memelihara ikan, memutar kembali ekonomi dan menaikkan level spiritualitasnya dalam berbagai perenungan dirumah masing-masing. Akhirnya seperti merasakan puasa lebih awal sebelum ramadhan.

Efek selanjutnya ketika Ramadhan tiba, adalah hilangnya beberapa budaya komunal yang menjadi ajang gengsi. Seperti buka bersama, pengajian dengan menampilkan ustad ini itu, atau pamer beli baju lebaran sampai gengsi-gengsian mengirim bentuk parsel kepada handai taulan. Semua sirna tidak ada lagi yang membicarakan ini.

Kabar baiknya  adalah lebih terasahnya pribadi selama pandemi, mengoptimalisasi potensi jauh melebihi yang sebelumnya. Banyak hal yang selama ini hanya terbuang untuk ‘rutinitas budaya glamor’, kini tergantikan oleh kondisi yang mengharusnya adanya efisiensi. Banyak kegiatan produktif yang pada bulan puasa tahun lalu tidak dicoba, kini dengan lebih banyak waktu senggang dirumah, dengan sisa-sisa rejeki orang – orang lalu bereksperimen. Hasilnya tentu berbeda-beda, setidaknya pola untuk terus menerus gelisah dan mencoba banyak hal ini positif. Untuk mengasah pikiran supaya tidak gampang lupa, juga untuk membangkitkan kesadaran imaginatif.

Puasa kali ini seperti kuncian-kuncian Tuhan yang meminta umat manusia menggali lagi dirinya, dan bakat kedirian yang terpendam namun belum diasah. Juga dibersamai dengan keterbatasan jarak antar manusia yang kemudian harus dijembatani dengan teknologi. Awal-awal memang banyak yang kurang produktif karena tergiur ‘identitas dan kenikmatan’ medsos, begitu kebosanan datang mulailah babak pengenalan akan hal baru. Perubahan ini menarik.

Selain belajar lagi teknologi, karena wabah pula kita belajar manfaat dari menjaga jarak, serta mencicipi kenikmatan keterbatasan. Pertemuan-pertemuan yang hilang kini harus disambung dengan data, karena keterbatasan penggunaan data akhirnya persambungan ini akhirnya juga harus diefisiensi. Kita kemudian memilih teman-teman lagi di lingkaran yang mana lebih efektif untuk mengembangkan sesuatu yang sesuai dengan apa yang sedang kita kerjakan, atau apa yang kita sukai.

Soal data dan informasi selama pandemi banyak sekali respon di website, blog, video-streaming, medsos dan tentu telekomunikasi daring. Beragam referensi jurnal, debat, argumentasi lalu teori konspirasi seperti disebar begitu saja di udara. Orang-orang mulai tertarik kepada apa yang menurut mereka masuk akal. Kemudian terjadi polarisasi atas ragam data, memang menimbulkan kericuhan namun progresi ini menarik supaya masyarakat biasa dengan banyak informasi, kemudian mulai memilah-milah mana yang mendekati objektivitas, atau mulai mengamati beberapa orang yang kolot tidak mau belajar dari banyak hal justru mati-matian membela teori konspirasi yang lebih mudah dicerna. Lalu dikemudian hari kita punya visi baru dalam menerima segala berita dan informasi, kita menjadi lebih hati-hati terhadap hasutan dan beragam propaganda.

Dirumahpun begitu, kita lebih punya banyak waktu bercakap dengan keluarga, mengeluarga segala uneg-uneg untuk memulai lagi berbagai banyak hal, menyambungkan kembali hubungan-hubungan yang kaku, serta mulai mengamati lagi perkembangan anak-anak kita yang ‘tidak cukup hanya dengan diberi uang’. Betapa hari-hari ini kita dianugerahi kesempatan untuk menemani anak-anak dan keluarga kita setidaknya ini berlangsung sudah 2 bulan, betapa menariknya jika sebuah rumah menjadi ladang menyemai benih masa depan yang biasanya kita titipkan disekolah.

Lantas jika kita bicara sisi spiritual, ini juga kesempatan untuk berdiam diri lebih lama, memetakan segala sesuatunya, mematangkan segala kemungkinan, serta mencoba berfikir menganalisis banyak hal, dan tentu adalah menikmati keintiman kesendirian dan kesunyian itu bersama Tuhan.

Hari-hari ini akan lebih banyak waktu yang tidak tercuri oleh riuhnya pertemuan, ruwet dan kacaunya trafik lalu lintas, serta kejenuhan bekerja. Seperti saat-saat yang indah untuk berendah diri bahwa manusia sebenarnya bukan siapa-siapa, menampar diri dari segala ego kesombongan dan ke-aku-an atas nama kuasa, kaya atau pengaruh. Memaksa kita kembali bercermin apakah benar selama ini kita tidak terjebak pula kedalam arus memuji diri sendiri, yang  berbalut dengan jubah kesalehan dan panggung popularitas.

Lalu puncaknya adalah hakikat dari kesunyian itu sendiri, peniadaan dan ketiadaan. Bahwa sebenarnya kita tidak ada, lalu meng-ada, dan kembali lagi ketiada. Nyaris tiada apapun yang pantas untuk dibangga-banggakan, bahkan dengan makluk yang tak kasat mata saja seluruh dunia  akhirnya geger. Betapa manusia mau mensyukuri bahwa kekuasaan yang Esa melebihi segala sesuatu, dan kita diam-diam menggalinya bersama kesunyian.

Markesot tidak terkena corona waktu itu, hingga dia mau mengambil sendiri kemungkinan untuk jauh dari segala hiruk pikuk lebaran. Kini kita dipaksa mengalaminya, dan selamat mengambil sari-sari dari bunga mekar.

“hidup ini sendiri, diperut ibu yang sendiri, didalam kuburan sendiri, nanti menanggung pahala dan dosa juga sendiri”

Selamat idul-fitri, selamat melahirkan bentuk baru dari zaman,

Selamat Nglungsungi seperti Markesot dalam sunyi, seperti kalian semua ditengah pandemi.

Nyuwun ngapura sedaya lepat.

Sukowati, 1 Syawal 1441 H

Indra Agusta.

Tulisan terkait