Menu Close

Nak, Salim Sama Buya Kamba

0Shares
doc. SS

Perkara datang, perkara pulang, menjadi perkara-perkara yang silih berganti. Meski agak ruwet dan sesak dalam menjalani, namun perkara datang dan perkara pergi tak bisa dihindari.

Saya dibuat kagum untuk permasalahan yang satu ini. Kalau boleh bertutur, saya belum lama mengalami keajaiban yang aduhai menakjubkan. Ho’o. Kedatangan atau kelahiran anak kedua saya.

Saya tuturkan pelan supaya panjenengan enak membacanya.

Ekonomi masih belum stabil. Doa sama Tuhan minta rumah juga belum terlihat jawabanNya. Setidaknya itu menurut perspektif istri saya. Anehnya ketika saya nggetheng sama istri soal rumah, pinjam bank nggak diasese. Mau minta orang tua, harta warisan entah ada atau tidak. Buyar segala-gala rasanya.

Di suatu malam saya protes sama Tuhan. “Han, aku nyuwun omah. Mek omah tanah lho. Status meter persegi ae lho cukup. Mosok Njenengan gak iso seh?”

Nggak lama, kuping saya kelebon semut. Larane gak karuan. Malah ada ajakan ngopi sisan. Alhasil saya datang ke warkop dengan kondisi telinga senut-senut. Sekira dua jam kuping saya kelaran. Dengan santainya semut itu keluar dan berbisik, “Njaluk omah diwenehi bocah? Hahaha…”

Mak pyar! Weh iyo e. Saya dulu ingat, sebelum anak pertama saya lahir, saya sama istri hampir putus asa karena tak kunjung dititipi keturunan selama hampir empat tahun. Doa dipanjatkan, puasa digiatkan, sedekah dirutinkan, hasil sama saja. Nggak ada gejala apa-apa.

Mungkin anak saya yang kedua ini adalah jawaban dari doa yang dulu itu. Daripada mikirnya jadi tambah berat. Iya aja kali ya.

Anak saya yang kedua ini kayaknya mau ngajari laku pasrah. Saya sama istri sudah embuh lah dengan keadaan. Apalagi ditambah dengan kondisi pandemi. Wes entek hati kami. Lha piye, rumah bidan yang rencananya mau jadi tempat persalinan, nggak jauh dari situ sudah terkonfirmasi satu positif covid. Ah telek telek! Mau ke rumah sakit parno juga. Karena duit dari mana untuk bayar? Iya kalau normal, kalau operasi? BPJS nggak punya juga. Belum resiko tertular dan lain sebagainya.

Ah embuhlah. Sejak itu saya semakin embuh dengan Tuhan. Alon-alon mulai manut kepiye karepNya. Sok makripat iki ceritane. Makripat kepepet kahanan.

Eh ndilalah, proses persalinan akhirnya tetap di bidan yang tadi. Dan memakan waktu 10 menit saja sejak masuk ruang bersalin. Lanang sehat. Ketoke timbang omah ya pilih bocah ae. Pengene ya entuk kabeh. Tapi kan katanya hidup itu pilihan. Ye kan?

Biaya persalinan terbayar raketang motor melayang. Aqeqah sudah diurusi istri semuanya. Embuh entuk duit darimana istriku tercinta itu. Suaminya ini kok kayak tertalak dengan urusan perduitan.

Ya begitu ceritanya. Pokoknya alhamdulillah serba ndilalah. Lha pripun. Semua diurusi hanya berdua dengan istri. Orang tua tak bisa berkunjung karena kondisi. Yap. Anak baru dua istri dua, eh istri satu saja.

Itu yang saya bilang tadi. Jajanan membuat saya sok makripat. Sok deket sama Tuhan. Iya, lha wong lagi butuh, lagi susah. Nanti kalau udah dituruti paling-paling juga lupa lagi siapa yang ngasih. Saya sih gitu. Nggak tau panjenengan. Mudah-mudahan mboten lah.

Soal-soal beginian ini kayaknya ada yang lebih ahli menjabarkannya. Saya mengenalnya sebagai Buya Kamba. Belum pernah bertemu. Belum pernah bersapa. Belum pernah mencium punggung tangannya. Belum pula membaca satu bukupun karyanya. Hanya sekelebat ingat tulisan-tulisan pendeknya di rubrik ‘Tetes’ di caknun.com. Dan memang banyak kata dan bahasa yang saya kurang begitu memahami pandangan-pandangan beliau.

Tapi ada satu pemahaman yang menancap yang berhasil saya serap. Bahwa buat apa beragama kalau kemanfaatan kita tak dirasakan oleh sekitar. Wew! Atau nek saya belokkan sedikit, buat apa ngaku Makripat kalau gak manpaat?

Maka kalau panjenengan pernah dengar kalimat-kalimat macam gini,

“Wah aku bisa gini gara-gara mas Didik..”

“Aku sing ngajari mas Didik..”

“Nek gak mas Didik gak bakal ngene uripku..”

Percayalah kisanak, kalau panjenengan merasakan manfaat atas kehadiran saya baik secara lisan maupun tulisan, jangan pernah lupa, itu semua salah satunya gara-gara Buya Kamba.

Buya, dapat salam dari saya sekeluarga!

Nak, salim sama Buya…

Didik W. Kurniawan

Tulisan terkait