Menu Close

Cukup Menjadi “Semut”

0Shares

Salah satu ciri orang yang mungkin belum layak disebut alim yakni acap terlambat saat menunaikan salat
Jumat. Kira-kira begitulah yang saya alami tadi. Ketika khatib sudah khotbah di atas mimbar, saya baru
timik-timik datang. Alhasil dapatlah tempat shaf paling belakang.

Usai salat sunah 2 rakaat, saya duduk tenang bersila. Sesekali mata ini memejam tanpa rencana. Baru
saya sadari tepat dihadapan posisi saya duduk, pasukan semut merah berjalan wara-wiri dikeramik
Mesjid. Diam-diam mereka saya amati. Ada dua hal yang sepertinya menjadi habit mereka dalam
aktivitas dunia persemutan sehari-hari.

Pertama, setiap berpapasan dengan kerabat semut, mereka saling mendekatkan kedua kepalanya.
Semacam mengucapkan salam, say hello, atau sekadar bertukar kabar.

Kedua, apabila mereka menemukan sepotong makanan, dan dirasa berat diangkat sendirian, mereka
pun lantas bergotong royong. Bareng-bareng mengajak kawan menggotong makanan untuk kemudian
dinikmati secara bersamaan.

Hmm…rasanya malu melihat mereka. Malu aku malu pada semut merah.

**

Sesampainya dirumah ada yang mengusik benak. Semut-semut tadi menggelitik saya untuk membuka Al
quran. Kemudian mencari dan membaca surah An Naml.

Surah An Naml yang berarti semut merupakan surat ke 27, juz 19, dan terdiri dari 93 ayat. Pelan-pelan
saya baca, urut, berikut mencoba memahami arti terjemahannya.

Mbah Nun pernah berpesan, "kalau kita mau mempelajari tentang sapi betina tidak lantas membaca
(Iqra') dan mencari dalam surah Al Baqarah (sapi betina). Atau sebaliknya. Surah Al Baqarah tidak hanya
sebatas membahas, atau mengupas perihal sapi betina.

Pesan Mbah Nun diatas kian menambah rasa penasaran. Dengan penuh tanya, surah An Naml saya baca
tuntas. Dan barulah pada ayat 18 saya menemukan kata (kisah) semut disana.

“Hingga ketika mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah
ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka
tidak menyadari” (An Naml : 18)

Dilanjutkan ayat 19, yang artinya “Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar)
perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu
yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengerjakan amal
saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-
Mu yang saleh”

Surah An Naml ayat 18 dan 19 meriwayatkan tentang Nabi Sulaiman dengan kawanan semut. Singkat
cerita, ada tentara kuda Sulaiman tengah melintasi lembah yang disana terdapat banyak semut. Saat
tentara kuda Sulaiman hendak melintas, sang ketua semut memerintahkan anak buahnya untuk
mengamankan diri agar terhindar dari injakan kuda-kuda tentara Nabi Sulaiman.

Karena seorang Nabi dan diberi mukjizat oleh Allah, Nabi Sulaiman mendengar perkataan si ketua
semut, lantas Beliau pun memerintahkan bala tentaranya untuk berpindah haluan. Dan semut-semut itu
pun selamat.

Sebagai tanda terima kasih, sang ketua semut berniat memberikan hadiah kepada Sulaiman. Hadiah itu
tak seberapa, hanya sebutir gula. Semut itu pun merangkak, berjalan pelan, sampai akhirnya Ia berada
tepat di ujung lidah Sulaiman. Disuapkan gula itu padanya. Dengan senang hati Nabi Sulaiman melumat
dan sangat menikmatinya.
**

Uniknya, dari 93 ayat surah An Naml, hanya ada 2 ayat (18, 19) yang menyebut dan menyinggung
babagan semut. Diluar itu justru mengisahkan sejarah Nabi Musa, Nabi Salih, Nabi Luth, hingga Nabi
Muhammad Saw.

Satu pertanyaan menggelitik, kenapa surah tersebut dinamakan An Naml? Kenapa binatang kecil seperti
semut malah diabadikan menjadi nama sebuah surah? Kenapa tidak dinamai surah Sulaiman, surat
Musa, atau surat Luth saja? Bahkan maaf, ketiga nama Nabi tersebut oleh Allah tidak dijadikan sebagai
nama surah.

Satu-satunya yang dapat menjawab pertanyaan tersebut tidak lain adalah Sang Pembuat Al quran, Allah
azza wa jala. Manusia yang diberi akal, ilmu (science), dan hati (rasa) hanya sekadar mampu menduga.
Meneliti, mengkaji, mempelajari, sampai pada tahap men-tadabburinya.

Mungkin saja Allah hendak mengapresiasi seekor binatang kecil bernama semut, yang nyatanya Ia
memiliki hati yang mulia. Semut tahu bagaimana cara berterima kasih kepada orang (Sulaiman) yang
telah menolongnya.

Atau Tuhan bermaksud mengajari manusia agar berguru kepada makhluk yang (katanya) tak berakal.
Hewan/ binatang sejatinya merupakan saudara tua dari manusia. Maka sudah sewajarnya, yang “muda”
belajar kepada yang lebih “tua”.

Kepada semut kita belajar untuk saling mengenal dan menjalin silaturahim satu dengan yang lain.
Kepada mereka kita sinau tentang makna kerjasama dan semangat gotong-royong. Kepada mereka pula
kita bercermin bahwa dalam hidup bebrayan kita mesti peduli, dan saling tolong menolong sesama
liyan.

Sekecil apapun kebaikan, meskipun tak tampak dan di anggap orang, tetaplah berusaha berbuat
kebaikan. Bisa jadi kebaikan kecil itu justru amat berharga dan dihargai oleh Tuhan. Dan semut-semut
itu membuktikan, sehingga namanya pantas diabadikan dalam kitab suci Al quran. Wa maa robbuka
bighoofilin ‘ammaa ta’maluun (Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan. An Naml :
93).

Kalau sekiranya berat menjadi seperti Baginda Sulaiman (raja, kaya-raya, punya istana megah,
harta berlimpah, banyak pasangan, cerdas, dermawan), cukuplah kita menjadi “semut-semut”
saja.

Gemolong, 10 Juli 2020
Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait