Menu Close

Lord Rangga Adalah Ujian Kemanusiaan Kita

0Shares

Saat momen munculnya gerakan keraton fiktif Sunda Empire saya menulis mengenai fenomena Messiah Complex di suluksurakartan.com yang berjudul “Kompleksitas Mesias Sejak Dalam Pikiran”, bahwa gerakan ini tidak ujug-ujug muncul di permukaan. Ada sebab gerakan tersebut dapat terbentuk. Begitupun  dengan akibat pasca konflik. Bapak polah, anak kepradah dan berlaku sebaliknya. Saya sempat bertanya-tanya dalam hati bagaimana perasaan keluarga dan orang-orang dekat Lord Rangga? Semua orang melakukan bullying sedangkan latar belakang keluarga, dan kehidupannya tidak terekspose.

Bisa saja Lord Rangga ini mengidap Grandiose Delusion, atau delusi keagungan yang disebabkan oleh peristiwa kelam di masa lalu seperti kegagalan. Lord Rangga ini punya wawasan luas lho. Walaupun menyimpang dari fakta, tetapi tidak mudah orang biasa berbicara panjang lebar menyangkut tatanan dunia, politik, dan tabir gelap di belakangnya.

Kita boleh menertawakannya, tetapi sebentar, ada beberapa hal yang harus kita pikirkan kembali. Di akun YouTube “Are We Okay”, Lord Rangga menceritakan anaknya yang mendapat bullying oleh teman-teman sekolahnya. Saya tidak peduli apakah selama ini Lord Rangga melakukan gimmick, settingan dan lain sebagainya. Fenomena ini menguji kemanusiaan kita.

Lord Rangga sudah mendapat hukuman sesuai perundang-undangan yang berlaku. Ia juga sudah bersedia “disidang” secara intelektual di acara Indonesia Lawyers Club yang dihadiri beberapa tokoh sejarahwan, budayawan, dan pihak kepolisian. Selain itu, ia menjadi bahan lelucon selama tahun 2020. Tidak kurang-kurang negara kita menghukum penggede Sunda Empire ini.

Jujur, saya terhibur dengan podcast Deddy Corbuzier bersama Lord Rangga dan Pemuda Tersesat. Gimana nggak mengocok perut, sosok Lord Rangga “digarap” habis-habisan oleh komedian satir sekelas Coki Paradede dan Tretan Muslim. Bahkan videonya sampai saat ini ditonton delapan juta akun Youtube dengan komentar-komentar yang tak kalah lucu dari warganet. Selain kanal podcast Deddy Corbuzier, banyak youtubers dan stasiun televisi tak ingin kalah memanfaatkan momen keluarnya Lord Rangga dari jeruji besi.

Ramai-ramai mengupas kembali gerakan Sunda Empire dan menertawakannya. Sampai hari ini  tak ada perubahan sikap dari Lord Rangga. Semangatnya masih konsisten dan berkobar-kobar walaupun mungkin ia tahu bahwa ja sedang dijadikan bahan tertawaan. Seakan-akan Rangga adalah Haji Bolot yang pura-pura tuli. Kita tidak masalah menertawakan ketulian Haji Bolot karena memang ia adalah komedian dan itupun hanya akting belaka. Sedangkan Lord Rangga ini tidak menyatakan diri sebagai komedian, atau hanya akting belaka. Tidak layak untuk terus-terusan ditertawakan karena keyakinannya sangat minoritas di negara ini.

Kalau memang pendapat Lord Rangga tidak layak dikonsumsi publik sebagai ilmu pengetahuan, ya jangan dikasih panggung dan mengarah pada perundungan massal yang semua orang dari berbagai kelas, aliran, pilihan politik, cebong, kampret, coro, telek pitik, telek lencung menikmatinya. Sama saja dengan kita main hakim sendiri ketika ada pencuri yang tertangkap oleh masyarakat.  Jika memang benar bahwa keluarga Lord Rangga mengalami pembulliyan, ini adalah masalah kemanusiaan yang sangat serius karena mengangkut hak asasi manusia dan kebebasan berpendapat.

Rangga Sasana telah salah di mata hukum dan telah menanggung hukumannya. Tetapi ia menjadi korban dari masyarakat bar-bar seperti kita-kita ini. Orang gila saja masih disebut manusia lho! Memberi panggung keyakinan orang untuk ditertawakan dan ikut menertawakannya itu biadab namanya.

 

Penulis : Athar Fuadi

Tulisan terkait