Menu Close

Jalan Menuju Kemana?

0Shares

Jalan menuju kemana?

Termenung dalam sepanjang
arah jalan menuju pulang,
di samping sebelah pohon mangga
dari pemilik yang tak pernah berupa.

Sosok tua beserta anak paruh baya
yang menggigil dari panasnya kepala
saat hujan tak kunjung mereda.
Hidup yang tak pernah pasti kemana akan bermuara,
dari satu sisi ke tempat teduh lainya.

Seperti hutan yang tak ada garis tepi,
berderet rapi pohon bersemen mengiringi
alam nampak terlihat sepi.

Lirih sekali,
seperti tak pernah memanggil untuk sekedar singgah,
meskipun nampak jelas pencakar langit yang begitu megah.

Memang nasib mereka mesti bergeming,
mengembara di atas tanah yang nampak kering,
menjajal teras – teras rumah yang berjejer sanding,
atau bersender depan pertokoan orang – orang asing.

Bumi seperti tak pernah sekalipun berputar,
tidak seperti mereka yang setiap pagi menggulung tikar.

Tak bertetangga,
mengembara.

Kaki dan perut mem-besi dengan sendiri,
di tempa oleh lapar yang sedemikian menghadiri.

Langit mulai kembali menampakan cahaya,
perlahan mereka ke tempat yang semestinya,
mencari muara dari semesta makna kelana.

Puisi saya yang mungkin morat marit ini ditulis kira-kira tiga atau empat tahun yang lalu dengan nuansa entah menyedihkan atau menggembirakan. Berkisah tentang salah satu keluarga di tanah semarang yang hanya mondar-mandir dijalan dan sesekali mampir dipertokoan untuk sekedar numpang tidur. Bukan tanpa sebab mereka melakukanya dan bukan karena kemauanya sendiri untuk terus menggelandang dimana-mana. Kemiskinan yang entah dari keturunan siapa yang mengawalinya, tetapi memang begitulah keadaanya.

Sepulang dari sinau bareng di suluk surakartan kemarin tiba-tiba saja saya teringat obrolan mas putut di forum tentang mudik dan mas indra tentang sedikit fenomena mudik dari tahun ke tahun dan angka kematian dijalan atau mendekati lebaran. Tema yang hampir didominasi oleh obrolan “babagan” puasa dan lebaran itu saya teringat salah satu keluarga di semarang tersebut. Aku teringat keluarga disemarang tersebut dan yang terlintas dibenaku pertama kali adalah pertanyaan tentang bagaimana mereka merayakan lebaran? Apakah mereka tak pernah berbuka dan sahur? Atau kapan mereka melakukan keduanya? Atau apakah mereka masih bisa tersenyum saat bulan suci yang setiap tahun menghampiri?dan seterusnya.

Bukan maksudku untuk meromantisasi keadaan mereka. Akan tetapi semoga inilah titik awal saya untuk selalu membersamai dan berempati.

Sebagaimana kosakata Allah untuk menggambarkan salah satu sifat Kanjeng Nabi yang ‘azizun ‘alaihima ‘anittum: “Berat hatinya atas derita yang engkau alami”. Sudah sepantasnya saya berlatih terus menerus untuk berlaku seperti Kanjeng Nabi yang saya idolakan tersebut.

Semoga teman-teman saya, keluarga, tetangga, yang jauh maupun yang dekat dan seluruh umat dilangit dan bumi selalu diberkahi Allah. Amiin.

Mohon maaf lahir dan batin.

Tulisan terkait