Menu Close

Ndelok Semut & Gajah

0Shares

“Semut diseberang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tak kelihatan.”

Kira-kira apa yang terbesit didalam benakmu? Apakah teringat sesuatu? Lagunya Tony Q rastafara? Atau seseorang? Diri sendiri misalnya. Banyak sekali orang yang paham maksud dari kalimat tersebut. Meskipun yang sudah faham terkadang justru lupa. Manusia semakin cerdas, kemampuan daya pikir yang semakin terasah dan sangar. Akan tetapi ada juga sebagian lagi yang belum memahami kalimat tersebut. Dan wajar saja karena setiap manusia mempunyai perjalanan dan pembelajaran yang beragam. Tidak bisa disalahkan juga, sih.

Melalui tulisan ini saya coba mengulang yang pernah gugel tulis atau yutup kabarkan berulang kali dalam dakwahnya. Bahwa kita mesti mampu melihat yang ada didepan pelupuk mata kita, bukan hanya yang ada dijauh seberang benua sana. Memang sah-sah saja kita mampu melihat semesta luas yang berada jauh dari mata kita, akan tetapi rasanya tidak adil jika yang berada disekitar justru seketika menjadi buta. Tidak mampu melihat dengan baik yang ada disekitar kita, apalagi kebaikan diri sendiri yang entah bijak atau tidaknya kita sendiri kesulitan melihatnya.

Kita disibukan dengan berita semisal pembahasan yang duar-duar gak karuan besarnya, ekonomi negara, krisis global, perang dunia, artis A bisa salto, artis B ikut tawuran. Meskipun kita tak “terlalu” berpengaruh oleh berita tersebut akan tetapi dirasa lebih tertarik olehnya dari pada berita tentang tetangganya yang sedang sakit atau peduli dengan anak kita yang menangis kepeleset dikali. Semisal ada dan berpengaruh dihidup kita sih asikin aja, toh kita gak akan tahu hidup kita dimasa depan akan menjadi apa, ilmuan atau artis dadakan, mungkin.

Akan tetapi bukan itu pointnya, tentang kebaikan yang ada disekitar kita dimulai dari ibu, bapak, tetangga, teman, guru hingga orang yang sedang berlalu-lalang disekitar kita rasa-rasanya kita lebih tertarik oleh kebaikan besar yang ada dijauh sana dan lupa bahwa disekitar kita juga ada kebaikan yang mesti diamati, dipelajari, ditumbuhkan atau sekedar diapresiasi.

Kita terlarut dalam kekaguman berlebih pada hal yang besar dan lupa dengan yang kecil. Lupa tentang adanya besar karena adanya yang kecil. Bahkan tidak tahu bahwa sesuatu yang sama besar atau lebih besar kebaikanya dari pada yang ada dijauh sana. Efeknya terkadang malah terlihat lucu dan menggelikan. Petani dianggap bodoh, anak bermain dikira nakal, orang mengemis dikira tidak pecus bekerja, orang berbagi dianggap mainstream, pedagang asong dianggap tidak kreatif, tetangga selalu salah, istri dianggap tidak bisa apa-apa, bahkan teman sendiri dikira musuh.

Sekiranya banyak sekali rumus yang sudah pating tlecek dibumi kita ini tentang cara melihat. Kanjeng nabi dengan mengutamakan diri sendiri, keluarga, tetangga, dan seterusnya. Ada juga kisah seorang yang berangkat berkebun/bertani lewat didepan majelis yang disitu ada Kanjeng Nabi kemudian sebagian jama’ah rasan-rasan tentang orang tersebut. “Wayah ngaji kok malah ning sawah”. Didengar Kanjeng Nabi lalu membolehkan orang tersebut berkebun. Karena bekerja/menafkahi keluarga dihukumi wajib.

Mbah nun juga pernah mengatakan bahwa mesti mengutamakan yang paling dekat dan yang paling mencintai kita. Mas sabrang dengan konsep 3 lingkarnya yakni lingkar pengaruh, lingkar kepedulian dan lingkar perhatian.

Memang lingkar pandang setiap orang berbeda-beda. Semoga kita semua mampu melihat gajah dipelupuk mata, dan semut yang ada dijauh sana.

Oh iya, kebaikan ada dimana-mana.

Warung Soto, 30 mei 2022

Ahmad A Khaq

Tulisan terkait