Menu Close

Puasa dan Menanti Saat Berbuka

0Shares

Di Maiyah Mocopat Syafaat 17 November kemarin, Habib Hasan sampai meminta Mbah Nun, “Sampai kapan keadaan begini terus dibiarkan? Ayolah Cak, kumpulkan kembali para sultan, para ulama, dan berbagai elemen masyarakat Nusantara untuk segera melakukan musyawarah menyikapi persoalan bangsa yang sudah makin kacau ini.”

Simbah menjawab, “Saya sudah sejak awal menetapkan puasa bagi hidup saya. Saya tidak mengambil apa pun yang sebenarnya bisa saya ambil. Saya menjaga ini agar saya tetap punya pintu ketika para naga itu kelewatan, saya bisa masuk untuk meluruskannya. Tapi mbok yao kalian itu semua mulai belajar mengatur nafas, menentukan titik keseimbangan di tempatnya masing-masing, dan bersiap melakukan perlawanan panjang terhadap penindasan, jangan sampai salah sasaran.”

Jawaban beliau mengingatkan saya pada perilaku liar media massa hari ini. Boleh jadi dugaan saya benar, bahwa ketika para sultan di Nusantara pernah menyerahkan keris pusaka kepada Mbah Nun dan beberapa ulama tariqat mendaulat beliau, beliau adalah tokoh yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Beliau bisa saja mengumpulkan mereka secara terbuka untuk membahas masalah serius mengenai negeri ini. Tapi melihat rakyat Indonesia yang sebagian besar masih menjadi penghamba media massa, penikmat isu sop buntut, dan masih terpecah belah dalam berbagai warna dengan fanatismenya masing-masing, sepertinya beliau masih tetap memilih berkeliling Nusantara untuk menghibur sembari mengajak masyarakat berpikir mendasar sampai mereka siap memahami kepemimpinan agar sesuai dengan konsep fitrahnya.

Belum lagi sejak fenomena maiyah yang kini mulai terkenal dan diikuti ribuan orang. Dari yang dulu forumnya cuma dihadiri ratusan sampai seribuan, sekarang bisa sampai lebih dari sepuluh ribu orang. Banyaknya massa semacam ini dengan berbagai latar belakang juga riskan ketika mereka memahami prinsip maiyah hanya sepenggal. Bahkan generasi baru yang ikut maiyahan justru mengkultuskan Mbah Nun dan membuat atribut-atribut baru seolah-olah maiyah adalah madzhab baru yang menyaingi Muhammadiyah, NU, dan ormas-ormas Islam lainnya. Dan kondisi ini tidak dapat diingkari memberi kerepotan baru untuk menuju kebangkitan Nusantara, karena harus kembali ada proses klarifikasi. Dan bersamaan dengan klarifikasi, pasti ada pihak-pihak yang mendistorsi informasi untuk memecah belah dan mengadu domba.

Mbah Nun hingga saat ini masih terus berpuasa. Banyak yang salah sangka. Ada yang cuma berpangku tangan, menunggu beliau berbuka dan dikiranya mak byak semua terus berubah seketika kayak sulapan. Ada yang skeptis dan tidak mau mencoba menghubungkan komunikasi dengan apa yang telah beliau rintis sejak dulu melawan kekuatan Orde Baru, menjilbabkan para muslimah Indonesia dengan gerakan Lautan Jilbab-nya yang menjamur di berbagai kota, membujuk sang Raja Jawa turun tahta namun akhirnya dirinya dikhianati para penjahat orde Baru. Namun demikian, insya Allah banyak generasi muda yang mulai menemukan keyakinan mereka untuk bergerak di bidangnya sesuai dengan tajrid yang telah mereka temukan dari pendalaman hidupnya masing-masing.

Kebangkitan sebuah bangsa adalah kebangkitan kolektif, bukan perseorangan. Bahwa kelak akan ada pemimpinnya, akan ada pasukannya, itu masih menjadi rahasia Allah. Bahkan kalau pun akhirnya ternyata kita semua tumpas dalam perlawanan ini, yang terpenting adalah usaha kita yang sungguh-sungguh untuk melakukan perbaikan, bukan menumbuhsuburkan kebencian dan pertikaian.

Oleh: Yuli Ardika Prihatama

Tulisan terkait