Menu Close

Bangunan Gerakan Minimarket Islam?

0Shares

Bangunan Gerakan Minimarket Islam?

Soal penolakan belanja di Toko Modern oleh beberapa kelompok muslim saya sangat setuju. Saya pribadi mempunyai pikiran yang sama, jauh sebelum kampanye dan fatwa tentang gerakan ini menjadi viral. Pasar modern ini berdiri menjajari pasar-pasar tradisional bahkan mendekati sendi aktifitas masyarakat. Dengan begitu kehadirannya telah sedemikian rupa menggeser pola belanja masyarakat. Kebiasaan berbelanja di warung tetangga atau pasar tradisional hilang. Belanja di toko modern lebih nyaman serta menyenangkan.

Jika ditilik pada sisi aktifitas perekonomian masyarakat lokal Indonesia yang heterogen, keberadaan pasar modern memang menjadi dilema. Pada satu sisi ia menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit, memberikan tambahan pajak negara serta keuntungan lainnya. Namun pada sisi lain Pasar modern ini perlahan namun pasti menggeser keberadaan pasar tradisional – toko kelontong pedesaan.

Endi Sarwoko Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Kanjuruhan Malang melakukan penelitian dengan judul “Dampak Keberadaan Pasar Modern Terhadap Kinerja Pasar Tradisional di Wilayah Kabupaten Malang” membuktikannya. Pada beberapa pasar tradisional yang digunakan sebagai obyek penelitian, para pedagang mengalami penurunan keuntungan meskipun pada sisi omset mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan persaingan yang ketat, sehingga pedagang harus menurunkan harga atau menurunkan margin keuntungan.

Pada awal berdiri, pasar modern memang ditujukan bagi pangsa pasar menengah ke atas. Namun sekarang bisa dilihat, pasar modern telah merambah masyarakat menengah kebawah. Kondisi tersebut akhirnya melahirkan persaingan untuk perebutan konsumen antara pasar tradisional dengan pasar modern.

Berbagai penelitian tentang hal ini memang banyak, namun masih bersifat spasial sehingga belum bisa digeneralisasi hasilnya. Bisa jadi masing-masing wilayah memiliki hasil yang berbeda. Disamping dominasi pasar modern, faktor internal pasar tradisional juga memiliki pengaruh. Misalkan tentang modal, pasar tradisional jelas jauh dibawah kapasitas modal pasar modern. Terkait dengan manajemen pasar, sistem waralaba menjadikan pasar modern ini memiliki prosedur operasional yang pasti. Sehingga jelas terjadi ketidakseimbangan pada kedua pasar tersebut jika harus disandingkan.

Selanjutnya, tentang munculnya pasar modern islam–minimarket islam diharapkan mampu mengalahkan dominasi minimarket yang dimiliki kelompok kapital. Sebut saja Alfamart, Indomaret, dan sebagainya.

Kemudian, apakah lahirnya pasar modern islam ini akan mampu memecahkan masalah yang tengah berlangsung?

Melawan dominasi pasar modern di Indonesia bukan hanya persoalan persaingan antar golongan semata, namun telah menjadi masalah bagi bangsa Indonesia. Bila ingin dipilah, munculnya gerakan pasar modern islam ini ada 2 hulu besar, yaitu persoalan agama dan ekonomi. Sisi agama, dimana gerakan umat islam beberapa waktu lalu berkaitan dengan kasus ahok merupakan momentum strategis unjuk kekuatan umat islam. Kemudian, momentum tersebut digunakan untuk agitasi membangun gerakan perekonomian umat islam. Sehingga benar, tidak selalu 2 hulu tersebut harus dipisahkan, mengingat agama harus selalu ada pada setiap aktifitas kehidupan manusia beragama.

Berkaitan dengan dominasi pasar modern yang telah berlangsung sekian waktu ini telah menjadi permasalahan masyarakat lini bawah, terutama pedagang pasar tradisional. Tidak hanya tersekat pada permasalahan umat islam saja. Sehingga penyelesaiannya-pun juga harus melihat aspek multidimensional. Bukan euforia effect atas keberhasilan dalam menggerakan massa pada satu momentum.

Dengan berdirinya pasar modern islam mungkin benar, umat islam akan lebih memilih belanja di Minimarket islam dibanding yang lainnya. Sebagaimana menjadi pembahasan diatas, bagaimana kemudian nasib keberlangsungan pasar tradsional yang ikut ditinggalkan oleh umat islam? Jika hal tersebut tidak masuk perhitungan gerakan, minimarket islam ini nantinya akan terjun bersama-sama dengan minimarket lain meruntuhkan pasar tradisional. Dan berarti gerakan tidak mampu menjauh atau masih terjebak pada etos kerja kapitalisme, belum mampu menyentuh aspek sosiologis. Sehingga tidak ada bedanya dengan minimarket lainnya, sekalipun minimarket islam yang dijual produk sertifikasi halal dan klaim konsep islami lain yang telah berjalan.

Sama-sama membangun pasar islam, lain cerita jika keberadaan pasar modern islam ini dikonsep untuk mendukung keberadaan pasar tradisional yang sudah ada. Misalkan berposisi sebagai supplier produk dengan mekanisme yang tidak memberatkan pemilik toko, Perbaikan manajemen pasar tradisional sehingga mampu bersaing dengan pasar modern lain, solusi permodalan dan sebagainya. Sehingga kekuatan pasar islam ini nanti berangkat dari arus bawah kehidupan masyarakat. Sebagaimana potongan ayat yang mengatakan “…agar harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya saja diantara kamu…” (QS. Al Hasyr: 7).

Berkaca pada kasus boikot Sari Roti. Bahwa sasaran boikot adalah pucuk manajemen sari roti, yang dianggap tidak peduli terhadap gerakan masyarakat muslim di Indonesia waktu itu. Namun ternyata orang islam yang hanya bekerja sebagai pedagang gerobak keliling sari roti terkena dampaknya. Penghasilan mereka turun, bahkan dicibir ketika berkeliling bersama gerobaknya. Dan kesimpulannya gerakan boikot sari roti tidak detail mencermati dampak yang lebih luas. Pun jika pedagang keliling harus berhenti bekerja di Sari Roti, gerakan boikot belum ada solusi untuk mewadahi buruh-buruh tersebut.

Berbicara akan persoalan ini tentu muara bukan pada setuju dan tidak setuju. Namun membicarakan soal gerakan yang lebih tepat sasaran. Tanpa ide dan konsep yang matang, khawatir jika muncul anggapan bahwa islam di Indonesia baru sampai pada tataran agitatif. Atau meminjam istilah Voltaire, filsuf kontroversial karena naskah teaternya yang mengatakan “apabila berbicara soal uang, semua orang sama agamanya”. Jangan sampai kalimat voltaire tersebut menjadi fakta di Islam kita.

Ujian narasi gerakan keberpihakan ekonomi umat islam Indonesia sedang berlangsung. Narasi akan berujung pada perlombaan membangun kapital semata atau sebaliknya, tergantung umat islam sendiri. Bukan sang agitator.

Oleh : Soleh Febriyanto

Tulisan terkait