Menu Close

Sama Bingungnya

0Shares

Satu hari teman sekantor saya tergopoh-gopoh masuk ke ruangan dengan wajah panik. Dia mencari-cari saya.

“Pak Didik mana Pak Didik? Pak Didik mana?”

“Kenapa?” sahut saya.

“Itu itu itu ada orang Jepang.”

“Orang Jepang?”

“Iya orang Jepang.”

“Ngapain orang Jepang pagi-pagi sekali datang kesini?”

“Nggak tahu. Pokoknya Pak Didik temui sana.”

“Ealah. Orangnya mana?”

Masuklah seorang perempuan dan anak kecil ke ruangan.

“Permisi perkenalkan nama saya Mariko dan ini anak saya. Kami ingin melihat-lihat sekolah ini.” kata perempuan itu terbata-bata.

Mbokne ancuk! Batin saya.

Bisa bahasa Indonesia juga ternyata. Melihat gelagatnya yang sopan, tingkat kecurigaan saya berkurang enam puluh lima persen. Selebihnya saya tetap waspada. Jangan-jangan dia anggota AKB 48 yang menyamar. Tapi melihat postur tubuhnya sepertinya bukan anggota girl band. Apalagi dia sudah memiliki anak.

“Oh silakan-silakan.” Saya mempersilakan mereka duduk.

“Iya. Perkenalkan saya Mariko dan ini anak saya. Kami dari Jepang.”

Wes ngerti!

“Oh dari Jepang. Nama saya Didik. Saya dari Indonesia.” Basa basi paling bajindul ini.

“Ada perlu apa ke Indonesia?” tanya saya.

“Eee… ini kami sedang melakukan eko-wisata. Saya bersama teman-teman melakukan eko-wisata. Tapi teman-teman saya sudah kembali dari Semarang. Tapi saya ingin jalan-jalan ke Solo dulu. Jadi eee… saya belum pulang.” Jawabnya.

“Sudah sering ke Indonesia?”

“Eee… sudah. Dulu saya sering dikirim kantor kedutaan Jepang jika ada urusan-urusan di Indonesia. Jadi saya sudah eee.. bisa bahasa Indonesia sedikit-sedikit. Khususnya untuk urusan pendidikan. Tetapi itu dulu. Sekarang sudah tidak lagi.”

“Ooo… sudah sering ke Indonesia.”

Teman saya menyaksikan adegan ini dengan ngempet ngguyu. Pak Didik kae arep ngomong apa? Hambok modar-modar dhewe.

“Sekarang saya di Jepang  bekerja sebagai ibu rumah tangga.”

“Ooo, ibu rumah tangga?”

“Iya. Saya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Tapi di universitas saya mengajar para calon guru PAUD.”

Sampai tahap ini ingin rasanya saya memanggil Doraemon. Jangan-jangan ada orang Jepang yang dengan sembarangan menggunakan pintu ajaib. Lalu tiba di Solo dengan membawa cara berpikir yang saya bingung memahaminya. Ada perempuan, pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga. Tetapi di universitas dia mengajar calon guru PAUD. Kalau di Indonesia kan seharusnya pekerjaannya sebagai dosen? Ini kenapa pekerjaan sebagai ibu rumah tangga?

“Saya ingin fokus bersama anak saya.” Imbuhnya.

Karena saya masih linglung, saya cukup manggut-manggut saja. Daripada otak saya konsleting.

“Saya mau ijin untuk memotret di sini. Apa boleh?”

“Boleh-boleh. Mari saya antar.”

Kami berjalan menyusuri jalan dan lingkungan di sekolah tempat saya ‘dolan’. Mungkin sambil melihat-lihat pemandangan yang ada, dia menyiapkan berbagai macam pertanyaan. Tapi saya tidak kurang akal. Saya harus mendahuluinya.

“Tahu sini dari mana?” tanya saya.

“Oh. Saya menginap di situ.” Katanya sambil menunjuk bangunan bertingkat di sebelah timur sekolah.

“Oalah.”

“Iya. Saya menginap di lantai atas. Jadi ketika saya buka jendela, saya melihat seperti ada banyak anak kecil. Ramai sekali di sini banyak anak kecil bermain. Saya penasaran. Lalu saya ke sini. Dan saya benar, ini adalah sekolah. Sekolah dasar ya?”

“Oh menginap di sana?”

“Iya. Di Jepang tidak ada sekolah yang seperti ini. Anak-anak belajar di luar ruangan.” Imbuhnya.

“Sama sekali tidak ada?”

“Kalau pun ada, itu seperti kelompok bermain yang dibuat oleh ibu-ibu rumah tangga. Kalau dari pemerintah tidak ada yang seperti ini.”

Sampai tahap ini, tolong dipahami bersama, bahwa informasi yang saya dapatkan hari itu hanya dari satu orang Jepang saja. Otak saya muter terus. Kalau saya percaya begitu saja dan mengklaim bahwa apa yang disampaikan beliau mutlak kebenarannya, berarti saya tipikal orang yang mudah gumunan. Karena mudah gumunan, takjub dengan orang dari negara lain, maka secara otomatis pula saya akan mengamini apa saya yang keluar dari mulutnya. Saya tidak mau hal itu terjadi pada diri saya. Dan untuk mengantisipasi hal tersebut, yang saya lakukan adalah sekedar menampung, mewadahi, dan sebisa mungkin membuka pintu-pintu jawaban atas pertanyaan yang memenuhi rongga kepalanya. Sorot matanya seperti mengisyaratkan, “Kok ada ya yang seperti ini? Bukannya.. bla.. bla..”

Otaknya sedang bekerja semaksimal mungkin. Mencari tetes-tetes jawaban supaya dahaga pertanyaannya terbasahi. Sebenarnya saya sudah menahan diri untuk tidak terlalu siap menyediakan jawaban atas pertanyaannya. Karena saya sadar, kemampuan ngawur saya sedang dalam kondisi ‘bagus-bagus’nya. Kalau saya jawab tingkat validitasnya sangat wajib untuk dipertanyakan ulang. Syukur-syukur langsung dibantah.

“Itu mereka sedang belajar?” tanyanya sambil melihat ke arah anak-anak yang sedang memepersiapkan permainan tradisional ‘kontrakol’.

“Iya. Itu mereka belajar bagaimana bekerja sama. Bagaimana bekerja tidak hanya untuk diri mereka sendiri. Selain itu mereka juga belajar tentang akurasi. Membidik sasaran dengan maksimal.”

“Ooo.. senang sekali ya. Di Jepang tidak ada yang seperti ini.” pernyataannya kembali menegaskan keheranan yang sedang melanda dirinya.

“Tenang saja. Itu di tempat parkir, buatan Jepang semua.” Kelakar saya supaya dia bersyukur saja jadi orang Jepang.

“Hahaha.. iya. Iya. Iya.”

“Boleh saya ambil foto. Silakan. Silakan. Saya juga minta ijin ambil foto anda.”

“Iya boleh boleh.”

Sambil melihat anak-anak bermain kontrakol, sesekali dia bercakap-cakap dengan anaknya dengan bahasa Jepang. Iya, meski saya tidak ngerti itu bahasa Jepang beneran atau bukan, saya yakin saja kalau itu bahasa Jepang. Apalagi setelah dia mengaku dari daerah Fukuoka kepulauan Kyushu. Satu pulau dengan Nagasaki. Kemudian dia bertanya lagi.

“Itu anak-anak sedang apa?”

“Itu mereka sedang berdoa. Berdoa sebelum belajar.”

“Berdoa agar apa?”

“Berdoa, memohon kepada Tuhan agar diberi kecerdasan yang bermanfaat.”

“Ooo begitu begitu. Di dalam Islam, ada berapa macam doa?”

Sampai di sini kekhawatiran saya terjadi. Dia mulai masuk ke wilayah yang saya tidak memiliki kemampuan yang mumpuni di dalamnya. Saya tidak hafal semua doa. Aduh!

“Di dalam Islam, setiap kita mau melakukan kebaikan apa saja selalu diawali dengan doa. Apa saja. Mau makan, mau ke toilet, bercermin..”

“Oh iya?”

“Iya. Mau makan, selesai makan, mau tidur, bangun tidur,”

“Semuanya dengan bahasa Arab?”

“Iya. Karena kitab Suci kita pakai bahasa Arab. Di sini juga ada pelajaran bahasa Arab.”

“Begitu begitu. Paham paham.”

 Salah seorang guru yang duduk di sebelah saya njawil saya.

“Sapa pak?”

“Cah adoh. Jepang.”

“Oalah. Ngapa?”

“Gur dolan.”

Tiba-tiba orang Jepang itu berkata,

“Di Jepang memang disiplin. Tapi sekarang Jepang seperti dijajah oleh US. Kita jadi ikut-ikut Trump untuk membenci Islam. Katanya Islam seperti teroris. Tapi kami dan ibu-ibu rumah tangga adalah yang tidak sepakat soal itu.”

“Sila dilihat di sini. Apa ada anak-anak yang diajari memegang senjata? Apa ada anak-anak yang disiapkan untuk perang. Islam mengajarkan untuk mencintai alam. Maka anak-anak di sini belajar mencintai alam supaya mengenal siapa Tuhannya.” Jawab saya polos.

“Iya. Anak-anak di sini begitu tenang. Begitu sabar.”

“Iya.” Jawab saya sambil manggut-manggut penuh wibawa dan seolah-olah sedang mengelus jenggot.

“Saya jadi sedikit paham tentang Islam. Terima kasih terima kasih.”

“Iya.”

Ini kalau ketahuan teman-teman, bisa-bisa saya disuruh ngisi Jumatan. Kalau mereka tahu, repot hidup saya nanti.

“Boleh saya masuk ke kelas melihat mereka belajar.”

“Boleh boleh.”

Saya antar dia. Dia mengamati aktifitas belajar mengajar dan duduk lesehan di barisan paling belakang.

“Di Jepang teknologinya maju ya.” Kata saya.

“Iya maju. Tapi kering falsafah hidupnya.”

“Ooo begitu…”

“Saya akan sampaikan kepada orang-orang di Jepang tentang kunjungan saya ini. Didik san bisa add facebook saya. Saya buka facebook sebulan sekali.”

He? Sesasi pisan fesbukan? Kuwi fesbukan apa mbayar listrik?

Saya bingung. Apakah saya harus bersyukur lahir di sebuah negara yang bernama Indonesia? Sedangkan saya menyimpan impian untuk bisa berkunjung dan hidup beberapa bulan di Jepang. Jepang salah satu negara yang membuat saya penasaran selain Belanda dan Israel.

“Kenapa Jepang?” tanya istri saya.

“Karena dia pernah menjajah Indonesia.”

“Kenapa Belanda?”

“Mereka berlibur di nusantara dalam waktu yang lama. Pasti ada apa-apa tentang kita di sana.”

“Kenapa Israel?”

“Kalau yang ini, pengen aja.”

Lalu orang Jepang itu pamit. Dia sempat menanyakan juga apakah kira-kira anaknya bisa bergabung di sini. Saya jawab, mungkin bisa, tapi tetap ikut cara kita. Dia paham. Lalu pamitan.

“Terima kasih. Karena Didik san, saya jadi terbuka pikiran saya tentang Islam. Terima kasih terima kasih.”

“Sama-sama.”

Setelah orang Jepang itu pergi, teman-teman mengerubuti saya. Mereka penasaran tentang apa yang kami perbincangkan.

“Ya, saya katakan kepada orang Jepang itu. Orang Islam sebelum melakukan apa saja mesti mengucapkan doa. Iya tho? Kecuali ngrasani.” Jawab saya sambil seolah-olah mengelus-elus jenggot.

Mereka tertawa terpingkal-pingkal. Karena mereka paham kalau otak saya memang agak sedikit konslet.

 

Oleh: Didik W. Kurniawan

 

Tulisan terkait