Menu Close

Para Motivator di Masjid

0Shares

Kalau Ramadhan begini, apalagi masih di awal, masjid-masjid ramai. Termasuk di masjid dekat kontrakan saya yang baru di bangun dua tahun yang lalu. Saat baru pindah menempati kontrakan masjid ini masih dalam tahap proses pembangunan. Perlahan, setelah selesai pembangunannya, masjid ini mulai mengadakan kegiatan-kegiatan khas masjid. Taman Pendidikan AlQuran (TPA) setiap sore, pengajian bapak-bapak sebulan sekali bakda Isya, dan tentu saja sholat taraweh di bulan Ramadhan.

Karena jarak yang cukup dekat, saya menjadi hafal terhadap suara yang keluar dari speker TOAnya. Setidaknya ada dua masjid lagi di sekitar kontrakan saya. Yang satu di sebelah selatan. Satu lagi di sebelah utara, dan masjid yang baru ini berada di sebelah timur. Terkepung aura masjid. Jadi kalau adzan mulai berkumandang, saya sudah mendeteksi adzan ini berasal dari speaker masjid yang mana. Yang paling keras, itu yang paling dekat.

Tidak hanya kegiatan tarawehnya, tetapi ada juga kegiatan yang tak kalah penting dan berkesan bagi saya. Yaitu kegiatan membangunkan orang untuk sahur.

“Sahuuuuurrr…. sahuuuuurrr…. bapak-bapak, ibu-ibu, mangga sami sahur. Sakmenika sampun jam tiga. Sahuuuurrr…. sahuuuuurrr….” lebih kurang begitu bahasa tulisnya.

Itu yang pertama. Biasanya terjadi dua kali. Sekitar dua puluh menit sampai tiga puluh menit kemudian. Terdengar cukup keras. Seolah-olah tepat berada di telinga saya. Alarm jam menjadi tak berguna lagi. Kalau sampai tidak bangun, kebangeten lah.

Itu cerita seputar sahurnya. Beda lagi dengan cerita sholat tawarehnya. Entah kenapa, sholat taraweh seperti memiliki ‘sihir’ khususnya bagi anak-anak. Kemunculan anak-anak kecil ini ada di waktu menjelang sholat Isya dan tawareh saja. Maghrib mereka belum kelihatan batang hidungnya. Begitu adzan Isya’ berkumandang, tawa khas mereka sudah terdengar dari kontrakan saya. Suara langkah kaki, dan suasana kejar-kejaran sudah mulai terendus oleh telinga saya. Yang tentu saja ini menyeret saya ke masa silam dan akhirnya saya bergumam,

“Aku mbiyen ya ngana kuwi…”

 

Bermain pukul-pukulan sarung. Menyalakan petasan sewaktu berangkat ke masjid. Pura-pura ikut sholat padahal ramai sendiri. Ikut sholat tapi hanya ikut rakaat terakhir saja menjelang salam. Injak-injakan kaki. Tarik-tarikan sarung. Senggol kanan senggol kiri. Sholat sambil cekikan menahan tawa. Mengucapkan ‘amin’ sekeras-kerasnya. Sampai imam kalah suaranya. Kalau ada yang pura-pura batuk, yang lain ikut-ikutan pura-pura batuk juga. Pura-pura diam kalau ada orang yang lebih tua melotot kepada kita. Begitu mereka lengah, kita guyon lagi. Lempar-lemparan buku kegiatan bulan ramadhan. Rebutan mendapatkan tanda tangan imam dan khotib. Rebutan mendapatkan snack sepulang taraweh. Dan seabreg polah tingkah yang terkadang bikin jengkel orang-orang tua yang ikut sholat jamaah di masjid. Mungkin bagi orang tua, keramaian anak-anak itu mengganggu kekhusyukan sholat mereka.

Dan  bermacam-macam cara  dilakukan orang dewasa agar anak-anak itu diam. Dari melotot sambil mengucapkan ‘sssttt’, sampai pemberitahuan soal bahwa ramai adalah dosa, dan dosa mengakibatkan neraka.  Atau dengan cara mengatur posisi shaf sholat. Anak-anak tidak boleh saling berdekatan satu dengan yang lain. Harus ada orang dewasa di antara mereka. Diselang-seling. Ada orang tua di sela-sela mereka. Tapi apakah hal itu lantas membuat anak-anak itu tertib. Pada awalnya, iya. Tapi tentu saja hal itu tidak dapat berlangsung lama. Anak-anak juga punya metodolgi termasuk strategi sendiri agar mereka bisa berkumpul dengan sesama anak-anak. Dan mereka akan membuat sedikit kegaduhan lagi.

Dulu, sebelum era telpon genggam dan gawai seperti sekarang, himbauan imam sebelum memulai sholat terpusat pada eksistensi anak-anak di masjid.

“Kalau sholat sudah dimulai, anak-anak jangan ramai ya.”

Sekarang sudah bertambah dengan, “Mohon yang membawa handphone harap dinonaktifkan atau dalam moden silent.”

Dinonaktifkan, kayak pejabat yang tersangkut kasus aja dinonaktifkan.

Kalau begitu ada yang harus lebih diwaspadai oleh para imam, yaitu anak-anak yang membawa handphone ke masjid. Ramainya bakal combo itu. Tapi nggak mungkin juga kan?

Anak-anak itu sudah bisa memanfaatkan waktu. Kalau di masjid dekat kontrakan saya, begitu masuk waktu kultum pada jeda antara sholat Isya’ dan taraweh, anak-anak itu sudah berhamburan entah kemana. Seringnya berada di halaman masjid dan bermain-main sepuasnya sampai masuk waktu sholat taraweh. Perkara apa yang disampaikan dalam kultum tersebut, tidak begitu menarik buat mereka. Yang jelas bagi anak-anak bermain di malam hari memiliki daya pikat tersendiri. Sambil ketawa ketiwi tentunya.

Saya, setelah setua ini, sering bertanya kepada diri saya sendiri. Apa iya, sholat saya terganggu oleh anak-anak? Apa iya, kekhusyukan saya salah satunya dipengaruhi oleh canda tawa mereka? Apa iya, kalau saya nggak khusyuk mereka yang dosa? Padahal kan mereka ‘Amin’nya paling kenceng dan lepas begitu saja lho?

Karena saya masih merasa begitu takbiratul ikram, pikiran langsung bisa melayang begitu saja. Bukan perkara keberadaan anak-anak itu. Bisa macem-macem. Pekerjaan, masa depan, besok sahur apa, motor belum pajak, besok jadi ada bukber apa nggak, besok ikut bukber yang mana, besok mudik kemana dulu, kehabisan tiket nggak, dan tentu masih banyak lagi pikiran-pikiran yang menggelayut di kepala ini. Nggak tahu kalau kalian, tetapi itu yang sering terjadi terhadap diri saya. Justru terkadang gara-gara ‘Amin’nya anak-anak itu saya jadi sadar bahwa saya sedang sholat. Karena saya sering lupa rakaat pertama atau rakaat ketiga tadi saya mengucapkan amin apa nggak. Kalau mengucapkan, saya ucapkan dengan sadar, atau karena sudah kebiasaan jadi ‘amin’ apa nggak, nggak bisa membedakan. Itu baru takbiratul ikram, belum gerakan-gerakan selanjutnya.

Tubuh saya memang mengikuti gerakan imam, tetapi pikiran saya lebih gaduh ketimbang cekikikannya anak-anak. Saya seakan hening, tapi sebenarnya kepala ini pening karena urusan-urusan dunia yang masih saya anggap sangat penting.

Bagi saya keberadaan anak-anak itu menjadi motivasi buat saya. Bagi saya mereka layak untuk disebut sebagai motivator. Entah berapa pun jumlah mereka di masjid saat itu, semua layak menjadi motivator. Semuanya. Saya katakan semuanya. Mereka bukan pengganggu. Mereka bukan faktor yang layak disalah-salahkan begitu saja. Mereka berada dalam kondisi yang ikut menyemarakkan nuansa Ramadhan kita. Yang layak merayakan euforia Ramadhan itu memang anak-anak dan hanya anak-anak. Mereka merupakan penyegaran sekaligus pemompa kenangan bagi saya yang sudah mulai menua dan sering lupa sampai rakaat berapa.

Di masjid, anak-anak itu motivator. Alias pendorong. Karena mereka sering dorong-dorongan sewaktu sholat. Kurang komplit kalau sholat tidak disertai dengan dorong-dorongan. Mau pas rukuk atau sujud, begitu ada kesempatan mereka akan dorong-dorongan. Motivator-motivatoran.

Bener kan ya kalau motivator itu artinya pendorong? Kalau saya salah, anggap saja saya masih anak-anak. Wong saya masih sering ‘ramai’ kalau sholat. Begitu?

Oleh : Didik W. Kurniawan

Tulisan terkait